Jumat, 17 Jul 2026
  • Home
  • Peristiwa
  • Citra Satelit Temukan Eskalasi Titik Api, Data Kemenhut Catat Luas Area Karhutla di Riau Tembus Belasan Ribu Hektare

Peristiwa,

Citra Satelit Temukan Eskalasi Titik Api, Data Kemenhut Catat Luas Area Karhutla di Riau Tembus Belasan Ribu Hektare

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 17 Jul 2026 14:55
PEKANBARU - Luas area terdampak kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau mencatatkan angka 15.477,9 hektare selama periode 1 Januari hingga 30 Juni 2026. Proporsi luasan tersebut didominasi oleh lahan gambut sebesar 14.277,3 hektare, sementara lahan mineral mencakup 1.250,7 hektare. Kalkulasi ini merupakan hasil pemetaan berbasis analisis citra satelit yang dikerjakan secara kolaboratif oleh Kemenhut, BRIN, serta KemenLH.

"Hasil analisis citra satelit menunjukkan luas karhutla di Provinsi Riau periode 1 Januari sampai 30 Juni 2026 mencapai 15.477,9 hektare. Data ini kami sajikan secara head to head dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya agar menjadi bahan evaluasi bersama. Kembali lagi, ini bukan hanya masalah angka, tetapi harus menjadi perhatian dan pembelajaran penting agar semua pihak terus bahu-membahu mencegah karhutla dan merespons sedini mungkin apabila terjadi kebakaran di wilayahnya," urai Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, Jumat (17/7/2026).

Eskalasi Lahan Terdampak Tingkat Kabupaten

Distribusi data memperlihatkan Kabupaten Bengkalis menempati posisi teratas dengan luasan area terdampak mencapai 8.239,5 hektare. Angka tersebut menunjukkan eskalasi tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang berada di level 48,3 hektare, 2024 seluas 214,7 hektare, 2023 sebesar 723,2 hektare, 2022 seluas 256,8 hektare, 2021 mencapai 2.235,8 hektare, dan 2020 seluas 4.580,4 hektare. Meskipun demikian, luasan wilayah ini belum melampaui rekor semester pertama 2019 yang menyentuh 10.410,9 hektare.

Menyusul di urutan kedua, Kabupaten Pelalawan mencatatkan area terdampak seluas 4.582 hektare. Volume ini melonjak dari catatan tahun 2025 yang sebesar 647,8 hektare, 2024 seluas 1.120,5 hektare, 2023 sebesar 10,3 hektare, 2022 seluas 491,5 hektare, 2021 mencapai 1.867,7 hektare, dan 2020 sebesar 1.984,5 hektare, namun masih lebih rendah dibandingkan data tahun 2019 yang mencapai 6.012 hektare.


Kabupaten Indragiri Hilir berada di urutan berikutnya dengan luasan 956,6 hektare. Catatan ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 yang hanya 76 hektare, 2024 seluas 97,6 hektare, 2023 sebesar 220,5 hektare, 2022 seluas 10,8 hektare, 2021 mencapai 386,4 hektare, 2020 sebesar 381,7 hektare, serta 2019 seluas 738,9 hektare.

Di Kota Dumai, area terdampak terdeteksi seluas 607,1 hektare. Angka tersebut melampaui catatan tahun 2025 yang hanya 7,6 hektare, 2024 sebesar 408,6 hektare, 2022 seluas 351,5 hektare, dan 2019 sebesar 469,2 hektare, namun masih di bawah luasan tahun 2020 yang mencapai 1.252 hektare, 2021 sebesar 829,2 hektare, dan 2023 seluas 738,8 hektare.

Pemetaan Distribusi Wilayah Lainnya
Wilayah lain yang turut masuk dalam pendataan mitigasi risiko bencana ini meliputi Kabupaten Rokan Hilir dengan luasan 289,6 hektare, meningkat dari tahun 2025 sebesar 45,8 hektare dan 2024 sebesar 102,4 hektare. Kabupaten Siak mencatatkan 281,1 hektare, bergeser naik dari angka 198,4 hektare pada tahun 2024 maupun 2025. Kabupaten Kepulauan Meranti mendapati luasan 199,3 hektare, memperlihatkan kenaikan dari tahun 2025 sebesar 3,5 hektare, tetapi jauh di bawah angka tahun 2024 sebesar 1.618 hektare dan 2019 yang mencapai 5.326,2 hektare.

Kabupaten Kuantan Singingi membukukan 103,1 hektare, lebih tinggi dari tahun lalu yang berada di level 5,6 hektare. Kabupaten Kampar teridentifikasi seluas 90,1 hektare, naik dari 3 hektare pada tahun 2025. Kabupaten Indragiri Hulu mencatatkan 80,7 hektare, menunjukkan tren penurunan dari tahun 2024 sebesar 132,3 hektare setelah sebelumnya tercatat nihil di tahun 2025. Kabupaten Rokan Hulu mendapati luasan 40,5 hektare, turun dari 70,3 hektare pada 2025. Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan rasio area terdampak paling minim, yakni 8,4 hektare.

Akumulasi luasan tingkat provinsi untuk semester pertama 2026 ini tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya 907,8 hektare. Angka tahun ini juga melampaui catatan tahun 2024 seluas 4.257,6 hektare, 2023 sebesar 2.141,2 hektare, 2022 seluas 2.726,1 hektare, 2021 mencapai 6.509,7 hektare, dan 2020 sebesar 14.643,9 hektare. Total luasan ini hanya berada di bawah rekor paruh pertama 2019 yang menyentuh 28.214,6 hektare.

Antisipasi Dini Puncak Musim Kemarau
Menyikapi komparasi data tersebut, pemangku kepentingan tingkat regional mengingatkan perlunya kewaspadaan ekstra. Transisi menuju fase puncak musim kemarau di sebagian wilayah Riau menuntut pengawasan dan optimalisasi perlindungan lingkungan yang lebih ketat.

"Yang terpenting bukan sekadar membandingkan besar kecilnya luasan kebakaran setiap tahun, tetapi bagaimana seluruh elemen dapat memperkuat patroli, deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, serta merespons secepat mungkin apabila ditemukan titik api. Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif agar karhutla tidak berkembang menjadi lebih luas," papar Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto. (halloriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/citra-satelit-temukan-eskalasi-titik-api-data-kemenhut-catat-luas-area-karhutla-di-riau-tembus-belasan-ribu-hektare.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki