Rabu, 17 Jun 2026
  • Home
  • Peristiwa
  • Dari Titiek Soeharto hingga Chef Arnold, Berikut Daftar Pesohor Ikut Laku Tapa Bisu Kirab Pusaka Mangkunegaran

Peristiwa,

Dari Titiek Soeharto hingga Chef Arnold, Berikut Daftar Pesohor Ikut Laku Tapa Bisu Kirab Pusaka Mangkunegaran

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Rabu, 17 Jun 2026 09:03
Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran Solo tahun ini bukan sekadar arak-arakan. Sejumlah tokoh publik nasional ikut berjalan dalam laku tapa bisu Kirab Pusaka Dalem, mengelilingi tembok luar Pura tanpa sepatah kata, Selasa (16/6) malam.

Usai prosesi adat, KGPAA Mangkunegara X memerintahkan kakaknya, Pangeran Sepuh GPH Paundrakarna untuk memimpin kirab atau cucuk lampah. Di belakang Paundra, sekitar 2.500 peserta, keluarga besar istana, prajurit, abdi dalem, dan tokoh publik berjalan bersama dalam tirakat 24 jam.

Deretan pesohor terlihat ikut laku bisu antara lain, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha bersama istri, Politikus PDI Perjuangan Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul dan Aria Bima, Didit Hediprasetyo dan Titiek Soeharto, Juru Masak Arnold Poernomo atau Chef Arnold, Menteri PU Dody Hanggodo, serta Wali Kota Solo Respati Ardi.

Usai barisan kirab keluar dari Pendhapa Ageng, KGPAA Mangkunegara X membagikan udik-udik (menebar uang) kepada masyarakat datang di sekitar Pendhapa Ageng Puro Mangkunegaran. Pria akrab disapa Gusti Bhre didampingi ibundanya, Gusti Kanjeng Putri Prisca Marina kemudian menyapa masyarakat yang hadir.1 Suro : Ruang Hening, Bukan Festival


Ketua Panitia 1 Sura, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura menegaskan rangkaian ini bukan perayaan. Ini adalah laku tirakat, perjalanan ke dalam diri yang dijalani bersama dengan sadar.

"1 Sura, padanan Jawa dari 1 Muharram, adalah malam yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai ruang hening: waktu untuk melepaskan yang telah lewat Atita, hadir sepenuhnya di saat ini Atiki, dan menyambut yang akan datang Anagata," ujar dia.

Tahun ini, 1 Sura bertepatan dengan Tahun Be, tahun keenam dalam siklus windu 8 tahunan Jawa: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir. Tahun Be dimaknai sebagai tahun refleksi dan penyusunan ulang, setelah Tahun Dal sebagai masa ujian.

"Dengan siklus ini, 1 Sura yang bertepatan dengan Tahun Be 1960 dalam siklus windu, memberi dimensi makna yang datang sekali dalam delapan tahun, ini adalah waktunya untuk benar-benar mulih," kata dia.Mulih Pulih dalam Tiga Lapisan


Tema "Mulih Pulih" dijabarkan Gusti Sura dalam tiga lapisan. Pertama, perjalanan geografis: kembali ke Solo dan Pura Mangkunegaran. Kedua, perjalanan identitas: kembali ke akar budaya yang berisi nilai tirakat. Ketiga, perjalanan paling dalam: kembali ke diri sendiri menuju manunggal dan suwung, keheningan yang memulihkan.

"Dari mulih itulah pulih tumbuh," jelas dia.

Menurut Gusti Sura, 1 Sura bukan tontonan. "Ini adalah undangan untuk mulih, hadir, melepaskan, dan menyambut. Kami menyiapkan seluruh rangkaian sebagai satu kesatuan laku, dari santap sore di Pracima Tuin, Kirab Pusaka Dalem yang berjalan tapa bisu, semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng pada tengah malam, dan meditasi di Pracima Tuin," terang dia.


Tirakat 24 Jam Tiga Fase
Rangkaian sakral 1 Sura Be 1960 digelar dalam tiga fase berkesinambungan selama 24 jam. Fase pertama, ATITA atau melepaskan yang telah lewat, dibuka Selasa (16/6) dengan doa bersama dan santap sore mutih di Pracima Tuin. Tamu undangan lalu melihat pameran instalasi Surakusuma di Bale Sisworini yang merepresentasikan Atita, Atiki, Anagata. Pameran dibuka untuk umum sepanjang Juni 2026. Setelah itu dilanjutkan Kirab Pusaka Dalem tapa bisu.

Tepat tengah malam masuk fase ATIKI, hadir di ruang kosong, melalui ritual Semedi di Pendhapa Ageng dan Dalem Ageng sebagai puncak laku tirakat.

Keesokan harinya, Rabu (17/6), digelar fase ANAGATA, menyambut yang akan datang. Dimulai dengan Laku Catur Sembah menyambut fajar, menulis kartu harapan, ditutup Larasati : meditasi napas bersama Terigu Studio dan Bottlesmoker.

"Rangkaian kegiatan ini memberikan pengalaman yang berakar pada tradisi Jawa sebagai cara tubuh, jiwa, dan kesadaran menyambut yang akan datang. Inilah saat di mana mulih menjadi pulih," pungkas Gusti Sura.(merdeka.com)
Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/dari-titiek-soeharto-hingga-chef-arnold-berikut-daftar-pesohor-ikut-laku-tapa-bisu-kirab-pusaka-mangkunegaran-584017-mvk.html?page=4

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.