RIAU POS.CO
BANGKINANG - Cuaca panas yang cukup ekstrem mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di dua lokasi baru di Kabupaten Kampar, Kamis (10/7). Dua titik baru tersebut adalah di Desa Koto Masjid Kecamatan XIII Koto Kampar dan Desa Pulau Sarak, Kecamatan Rumbio Jaya.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kampar Agustar melalui Kasi Logistik Edison menjelaskan, lahan yang terbakar pertama terjadi di Desa Koto Masjid pada siang hari.
’’Lokasi lahan terbakar di titik koordinat 0’18’29.2’’N 100’51’34.2’’E milik masyarakat. Lahan yang terbakar semak belukar dan perkebunan kelapa sawit sekitar 0,5 hektare,’’ jelas Edison. Edison menambahkan, belum diketahui penyebabnya. BPBD sudah melakukan pemadaman, penyekatan dan pendinginan di lokasi kejadian.
’’Kebakaran lahan yang kedua terjadi Desa Pulau Sarak, Kecamatan Rumbio Jaya milik masyarakat. Lahan yang terbakar semak belukar lebih kurang 8,5 hektare. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan,’’ papar Edison.
Edison menjelaskan, lahan yang terbakar merupakan mineral gambut. Satgas TRC Pundalops BPBD Kampar bersama satgas gabungan melakukan penyekatan, pemadaman dan pendinginan di lokasi kejadian. ‘’Kepada masyarakat kami imbau tidak membakar kalau membuka lahan untuk perkebunan karena saat ini kemarau yang esktrem ,’’ imbaunya.
Dibantu Hujan, Karhutla Mengkapan Padam Total
Hujan deras yang turun mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Siak, Rabu (9/7) memberikan keberkahan yang sangat luar biasa. Hujan dari pagi hingga siang tersebut membuat karhutla di Kampung Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak telah teratasi.
Seluruh titik karhutla di kampung tersebut, telah berhasil dipadamkan total oleh tim gabungan. “Alhamudillah, seluruh titik api di Kampung Mengkapan berhasil dipadamkan total. Ini berkat bantuan keberkahan sang pencipta yang menurunkan hujan deras,” terang personel BNPB Siak, Muhammad Rasyid kepada Riau Pos, Kamis (10/7).
Ditambahkannya, saat ini, tim gabungan TNI, Polri, RPK Arara Abadi -APP Group, tiga tim pemadam kebakaran dari Sungai Apit, Mempura, dan Siak, serta kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) Mengkapan, masih tetap siaga di lapangan untuk melakukan upaya pemantauan agar titik api tidak kembali muncul.
Diungkapkannya, proses pemadaman api telah dilakukan selama tiga hari. Yakni sejak api terdeteksi pertama kali pada Senin (7/7) lalu hingga Rabu (9/7) malam lalu. Titik api terjadi di lahan milik Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB).
Namun api menjalar cepat di lahan gambut yang kering tersebut. Sedangkan jenis vegetasi yang terbakar, seperti semak belukar, resam, dan anak kayu, memudahkan api menyebar, sehingga menutupi sekitar 4 hektare area sebelum berhasil dikendalikan dan dipadamkan.
“Alhasil upaya pemadaman pun dilakukan tim gabungan secara maksimal. Baik pemadaman melalui jalur darat hingga menggunakan satu unit helikopter BNPB untuk melakukan water booming menurunkan air dari udara. Alhasil, berkat kerja keras tim gabungan yang dibantu hujan deras, api telah berhasil dipadamkan total,” paparnya.
Selain itu, lanjutnya, pemadaman darat juga dilakukan dengan mengandalkan peralatan seperti satu mobil Strada, motor trail KLX, mesin pompa air ZX Power dan Mini Straker, drone pengintai, serta puluhan rol selang dengan berbagai diameter. “Satu unit alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum untuk membuka akses dan menggali tanah yang masih berasap,” bebernya.
Dijelaskan Muhammad Rasyid bahwa banyak kendala yang dihadapi pihaknya bersama tim gabungan karhutla Siak saat melakukan upaya pemadaman api dilapangan. Seperti cuaca panas dan juga angin yang berhembus kencang di lokasi kebakaran. Sehingga kepulan asap tebal menghalangi jarak pandang petugas gabungan yang sedang memadamkan api. Selain itu, akses ke areal yang sedang terbakar, juga tidak bisa dijangkau menggunakan alat transportasi darat, seperti mobil dan juga sepeda motor.
“Begitu juga dengan pasokan air yang cukup minim di lokasi menjadi kendala tim untuk melakukan upaya pemadaman secara maksimal. Apalagi lokasi lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan kategori menengah yang kedalamannya bisa mencapai 3 meter. Alhasil, upaya pemadaman dibantu melalui jalur udara yakni menggunakan satu unit helikopter untuk melakukan water bombing,” ujarnya.
Ditambahkan Rasyid, pihaknya masih terus siaga dan intens melakukan pemantauan serta pemadaman titik api dampak karhutla. “Untuk itu, kami terus mengimbau agar seluruh unsur elemen masyarakat di
Kota Pusaka ini, dapat menjaga dan tidak membakar lahan. Pasalnya, sanksi hukum pidana pasti akan diberikan jika terbukti lalai dan sengaja melakukan aksi karhutla,” tuturnya.Babinsa Cek Lokasi
Guna mengantisipasi potensi titik api atau hotspot, Babinsa Koramil 03/Mandau menggelar patroli di lokasi-lokasi rawan kebakaran. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah pencegahan dini menghadapi musim kemarau.
Patroli dilakukan secara berkala di sejumlah daerah yang dinilai berisiko tinggi terjadi kebakaran hutan dan lahan. Yakni salah satunya di Jalan Rangau, Desa Petani, Kecamatan Mandau, Kamis (10/7).
Babinsa 03/Mandau, Sertu Roby bersama Serda D Simanjuntak dan Serda Z Panjaitan langsung terlibat dalam patroli tersebut. Mereka menyisir lokasi-lokasi rawan karhutla, sambil memantau kondisi lingkungan sekitar.
“Ya, tujuan kita untuk memonitor kemungkinan timbulnya titik api atau hot spot di wilayah rawan kebakaran, memantau aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan hutan dan lahan, serta mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sembarangan,” ujar Sertu Roby.
Ia juga memberikan edukasi, kepada warga yang dijumpai agar ikut berperan aktif dalam menjaga lingkungan. Jika menemukan indikasi kebakaran, diimbau segera melapor ke pihak terkait.
“Bagi masyarakat yang melihat, menyaksikan atau mengetahui adanya hot spot karhutla agar segera melapor. Agar dapat dicegah sejak dini dan tidak merugikan masyarakat seluruhnya,” harap Sertu Roby.
8 Titik Panas Terdeteksi
Titik panas kembali terdeteksi di lima wilayah Riau dengan total 8 titik panas, Kamis (10/7/). Forecaster On Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Anggun R menjelaskan, ada 106 titik panas muncul di wilayah Sumatera.
‘’Titik panas di Pulau Sumatera juga mulai mengalami peningkatan yang cukup signifikan di Jambi ada 27 titik, Sumatera Selatan 22, Sumatera Barat 13, Bengkulu dan Lampung masing-masing 11, Sumatera Utara 10, Riau 8, Kepulauan Riau 3, dan Aceh 1,’’ ujarnya.
“Untuk wilayah Riau yang terdeteksi muncul titik panas adalah di Rokan Hulu 2, Siak 2, Kota Dumai 2, Rokan Hilir 1, dan Kuantan Singingi dengan 1 titik panas,” jelasnya.(amn/kom/ksm/ayi).***(Riau pos.co)
Sumber: RIAU POS.CO
Peristiwa