Jumat, 08 Mei 2026
Kemenkes Jelaskan Kronologi dr Myta Aprilia Meninggal, Ungkap Kondisi Kesehatan saat Magang di RSUD Jambi
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 08 Mei 2026 09:44
Myta menjalani program internship sejak tanggal 11 Agustus 2025 sampai dengan 10 Februari 2026.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan kronologi kematian seorang dokter Wanita bernama Myta Aprilia Azmy setelah menjalani perawatan di ICU Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.
Plt Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan Rudi Supriatna Nata Saputra mengatakan, Myta menjalani program internship sejak tanggal 11 Agustus 2025 sampai dengan 10 Februari 2026. Dia menjalani internship stase Puskesmas, tepatnya di Puskesmas Kuala Tungkal II.
Sepanjang proses menjalani internship tersebut, Myta tidak memiliki keluhan kesehatan atau dalam kondisi sehat berdasarkan data yang dimiliki Kemenkes.
"Ada pun di stase RSUD yang pertama beliau masuk di IGD, karena di dalam internship ini di rumah sakit ada dua tahapan, itu nanti di UGD terlebih dahulu atau di bangsal. Jadi di sana dari sekitar 15 orang itu dibagi dua kelompok kecil, jadi ada yang mengawali stase di IGD terlebih dahulu, yang lainnya menjalani stase di ruang rawat inap atau di bangsal. Demikian pun sebaliknya, dan itu masanya adalah 3 bulan, 3 bulan," kata Rudi dalam konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (7/5).
Myta Merasakan Gejala Penyakit
Menurut Rudi, pada 26 Maret 2026 ketika menjalani stase IGD di Puskesmas Kuala Tungkal, Myta merasakan gejala penyakit dan tetap bertugas di UGD. Kemudian dia menjalani pengobatan secara mandiri.
Ternyata, keluhan Myta itu berlanjut pada 31 Maret 2026 dengan kondisinya dirasakan demam, batuk, pilek. Meski begitu, Myta tetap bekerja atau berjaga di malam hari.
Selepas jaga malam, Myta meminta untuk dilakukan infus dan tidak melaporkan kondisinya kepada dokter pendamping yang memang mendampingi setiap peserta internship. Namun yang dirasakan Myta itu justru disampaikan ke sesama rekan internship yakni dokter M melalui rekaman suara atau voicenote pada 1 April 2026.
"Jadi ada event lain di tanggal 31 Maret ini, yang ini yang menarik. Jadi ada pemanggilan dokter peserta internship ini, yang dokter umum ini, oleh pendamping, Dokter J namanya pendampingnya, itu dikumpulkan di tempatnya Dokter S. Nah, dokter S ini adalah salah satu pendamping di stase Puskesmas," jelas dia.
"Nah untuk membahas komentar, salah satu internship di sosmed, dan ada website servaninsip.net, itu di mana salah satu internship ini memberikan komentar-komentar, kritikan-kritikan terhadap program internship gitu kan. Nah, boleh diklik, awalnya di pemanggilan dokter internship dulu, ini kami temukan buktinya," imbuh Rudi.
Dokter J itu menurut Rudi, kemudian mengundang semua peserta internship untuk datang ke kediaman dokter S pada sore hari. Singkat cerita pada 11 April 2026, Myta masih jaga pagi di IGD dengan kondisi tengah sakit batuk, pilek hingga demam.Myta Diinfus Saat Merayakan Ulang Tahun
Kemudian pada 13 April 2026 atau tepat di hari lahirnya, Myta diinfus oleh dokter jaga sebelum merayakan ulang tahun dengan memotong nasi kuning tumpeng. Myta merayakan ulang tahun itu setelah jaga malam dan masih dalam kondisi sakit.
Lalu pada 15 April 2026, Myta mengirimkan voice note kepada rekan internship-nya yaitu Dokter A dengan napas yang sedikit sesak untuk meminta agar jadwal jaga dirinya di IGD itu digantikan.
Myta Linglung
Selanjutnya pada sore harinya, ibu kandung Myta menghubungi kakak angkatnya yaitu MZ yang berada di RS Kuala Tungkal. Hal ini lantaran ibunya tidak bisa menghubungi anaknya tersebut.
Kemudian MZ menghubungi Dokter F dan langsung mencari Myta. Ternyata, Myta ditemukan di bawah tangga kamar indekosnya itu sudah dalam kondisi linglung.
"Jadi, tidak menggunakan jilbab, mengenakan celana pendek, dan atasan seragam scrub. Setelah ditanya oleh dokter F tadi, dokter MAA menjawab dia ingin berangkat jaga. Jadi, kondisi sudah agak confused, linglung, mungkin ada hipoksia di situ. Jadi, sehingga yang bersangkutan tidak menyadari bahwa atribut atau seragam ketika mau berangkat jaga itu tidak lengkap," kata dia.
Mendapati kondisi tersebut, Myta lalu diantar ke UGD oleh rekan-rekannya dengan menggunakan sepeda motor. Di sana, Myta dirawat sampai 20 April 2026, dan kemudian diperbolehkan pulang oleh dokter penanggungjawab pasien yaitu Dokter T.
Sebelum pulang, Myta minta untuk dilakukan observasi hingga siang hari atau pukul 12.44 Wib. Meski sudah diperbolehkan untuk pulang, Myta ternyata mengeluh mengalami demam tinggi.
Akhirnya, pada 16 April 2026 pukul 04.35 Wib, Myta kembali masuk UGD dengan keluhan sesak dan demam. Pada pukul 10.30 Wib, keluarga datang dari OKU Selatan untuk membawa Myta ke Rumah Sakit Umum Daerah Raden Matahir Jambi dengan menggunakan mobil pribadi dan terpasang oksigen pinjam dari dokter pendamping.
Menurutnya, dengan kondisi yang dialami Myta diharuskan dibawa dengan menggunakan mobil ambulans. Sesampainya di Rumah Sakit Matahir Jambi pada 21 April 2026, Myta langsung dibawa ke UGD dengan keluhan yang sama.
Tiga hari menjalani perawatan, atau tepat pada 24 April 2026, Myta sudah diperbolehkan untuk pulang oleh Dokter M dan direncanakan untuk kontrol ke Poliparu pada 29 April 2026.
Myta Ingin Lanjutkan Proses Internship
Karena sudah diperbolehkan pulang, Myta ingin melanjutkan proses internship-nya. Kendati demikian, Myta tidak diperbolehkan oleh pendampingnya dan disarankan untuk beristirahat selama satu Minggu.
Berikutnya, ibu Myta meminta izin kepada pendamping untuk membawa anaknya ke rumah di OKU Selatan atau ingin dirawat oleh keluarganya. Karena, menurut keluarganya tidak memungkinkan jika beristirahat di indekos.
Singkat cerita, Myta dibawa ke Palembang dan tiga di daerah tersebut pada 25 April 2026 malam. Dia tinggal di tempat saudaranya yang kembali merasakan demam.
Myta kemudian dibawa ke Klinik Ismada milik pamannya dan mendapat perawatan selama dua jam. Setelahnya, keluarga meminta untuk dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin Palembang.
"Kemudian di Rumah Sakit Hoesin, Palembang, akhirnya karena kondisi penyakitnya adalah penyakit infeksi, maka prosedurnya dirawat di ruang isolasi infeksi. Jadi dokter MAA pukul 3 dirawat di ruang isolasi infeksi," ujar dia.
"Karena kondisinya menurun, dokter MAA akhirnya masuk ICU. Karena ada gangguan paru, bernapasnya berat, maka perlu alat bantu pernapasan. Jadi dipasang ventilator, itu sekitar pukul 16.00 Wib. Dan dokter MAA dirawat di ICU hingga wafat, dengan kondisi penyakit paru berat di Rumah Sakit Hoesin,(merdeka.com).
Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/kemenkes-jelaskan-kronologi-dr-myta-aprilia-meninggal-ungkap-kondisi-kesehatan-saat-magang-di-rsud-jambi-570737-mvk.html?page=5
komentar Pembaca