Berita satu.com
Puluhan siswa di Kota Palu, Sulawesi Tengah, mendadak dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden ini mengungkap kelemahan kritis dalam pengelolaan dapur MBG yang kini mendesak untuk dievaluasi dan diperketat pengawasannya.
Para siswa mengalami gejala keracunan massal berupa mual, muntah, dan pusing sehingga menciptakan kepanikan di lingkungan sekolah.
Ketua DPW Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Nasional (Peknas) Sulawesi Tengah, Isram Said Lolo, menilai kejadian ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan bukti kelalaian serius pada sistem pengelolaan dapur MBG.
“Dapur MBG harus segera dievaluasi secara total! Jangan biarkan kegagapan ini terulang,” tegas Isram, Selasa (2/9/2025).
Ia mendesak pemerintah melibatkan ahli gizi, tenaga medis, dan kepolisian untuk mengaudit prosedur penyajian makanan mulai dari higiene hingga rantai distribusi. “Keselamatan siswa adalah harga mati. Jangan sampai program berniat baik ini jadi sumber malapetaka,” tambahnya.
Evaluasi dan pengetatan pengawasan jadi fokus utama
Peknas menyoroti tiga aspek krusial yang harus diperbaiki:
Standar keamanan pangan: penerapan SOP higienis yang ketat di setiap dapur MBG.
Sistem pengawasan: pemerintah daerah wajib membentuk tim pemantau independen.
Akuntabilitas pelaksana: sanksi tegas bagi penyedia jasa yang lalai.
“Pengawasan saat ini masih lemah. Tanpa evaluasi menyeluruh dan pengetatan aturan, kasus serupa bakal mengancam siswa di daerah lain,” tekannya.
Orang tua siswa, Sumiati (45), mengaku trauma lantaran anaknya menjadi lemas dan tidak sadarkan diri setelah mengonsumsi makanan tersebut. “Bagaimana kami percaya lagi pada program ini jika pengelolaannya sembrono?” keluhnya.
Padahal sejauh ini, pelaksanaan MBG sudah berjalan dengan baik di daerah ini. Peknas pun meminta Kementerian Pendidikan dan Kesehatan segera mengambil alih penanganan untuk memulihkan kepercayaan publik.
“Ini warning bagi seluruh dapur MBG di Indonesia. Perbaiki sistem atau hentikan program!” pungkas Isram.***(Berita Satu.com)
Para siswa mengalami gejala keracunan massal berupa mual, muntah, dan pusing sehingga menciptakan kepanikan di lingkungan sekolah.
Ketua DPW Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Nasional (Peknas) Sulawesi Tengah, Isram Said Lolo, menilai kejadian ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan bukti kelalaian serius pada sistem pengelolaan dapur MBG.
“Dapur MBG harus segera dievaluasi secara total! Jangan biarkan kegagapan ini terulang,” tegas Isram, Selasa (2/9/2025).
Ia mendesak pemerintah melibatkan ahli gizi, tenaga medis, dan kepolisian untuk mengaudit prosedur penyajian makanan mulai dari higiene hingga rantai distribusi. “Keselamatan siswa adalah harga mati. Jangan sampai program berniat baik ini jadi sumber malapetaka,” tambahnya.
Evaluasi dan pengetatan pengawasan jadi fokus utama
Peknas menyoroti tiga aspek krusial yang harus diperbaiki:
Standar keamanan pangan: penerapan SOP higienis yang ketat di setiap dapur MBG.
Sistem pengawasan: pemerintah daerah wajib membentuk tim pemantau independen.
Akuntabilitas pelaksana: sanksi tegas bagi penyedia jasa yang lalai.
“Pengawasan saat ini masih lemah. Tanpa evaluasi menyeluruh dan pengetatan aturan, kasus serupa bakal mengancam siswa di daerah lain,” tekannya.
Orang tua siswa, Sumiati (45), mengaku trauma lantaran anaknya menjadi lemas dan tidak sadarkan diri setelah mengonsumsi makanan tersebut. “Bagaimana kami percaya lagi pada program ini jika pengelolaannya sembrono?” keluhnya.
Padahal sejauh ini, pelaksanaan MBG sudah berjalan dengan baik di daerah ini. Peknas pun meminta Kementerian Pendidikan dan Kesehatan segera mengambil alih penanganan untuk memulihkan kepercayaan publik.
“Ini warning bagi seluruh dapur MBG di Indonesia. Perbaiki sistem atau hentikan program!” pungkas Isram.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com
Peristiwa