Jumat, 17 Jul 2026
Virus Corona Bisa Mutasi Jadi 3 Jenis, di Indonesia Tipe yang Mana?
admin
Senin, 13 Apr 2020 15:50
Penyebaran virus corona alias Covid-19 semakin meluas hampir menjangkit ke seluruh negara di dunia. Peneliti dari Cambridge, Jerman dan Inggris berhasil memetakan penyebaran asli virus corona pada manusia dan telah menemukan perkembangan varian virus corona.
Dilansir dari metro.co.uk, para peneliti telah merekonstruksi jalur evolusi awal Covid-19 ketika infeksi menyebar dari Wuhan, China, ke Eropa dan Amerika Utara.
Dengan menganalisis 160 genom virus lengkap pertama yang diurutkan dari pasien manusia, para ilmuwan telah memetakan penyebaran awal virus SARS-CoV-2 melalui mutasinya, telah menemukan garis keturunan virus yang berbeda.
"Terlalu banyak mutasi yang cepat untuk melacak pohon keluarga Covid-19 dengan rapi. Kami menggunakan algoritma jaringan matematika untuk memvisualisasikan semua pohon yang masuk akal secara bersamaan," ujar Dr Peter Forster, ahli genetika dan penulis utama dari University of Cambridge.
Dengan menggunakan data dari sampel yang diambil dari seluruh dunia antara 24 Desember 2019 dan 4 Maret 2020. Hasilnya telah ditemukan tiga varian Covid-19 yang berbeda, tetapi berkaitan erat yang disebut varian A, B dan C.
"Teknik-teknik ini sebagian besar dikenal untuk memetakan pergerakan populasi manusia prasejarah melalui DNA. Kami pikir ini adalah salah satu pertama kalinya mereka digunakan untuk melacak rute infeksi virus corona seperti Covid-19," terang Peter.
Indonesia Tipe Apa?
Terkait perkembangan pemetaan jaringan genetik virus corona yang berkembang menjadi tiga varian A B C, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) masih belum bisa memastikan virus corona varian apa yang ada di Indonesia.
"Memang sesuai hasil penelitian ada tiga varian, tapi untuk di Indonesia sendiri belum tahu apakah seperti yang di Singapura variant C atau bukan," ungkap Wakil Ketua Umum IDI M. Adib Khumaidi saat dihubungi merdeka.com, Senin (13/4).
Menurutnya, berkembangnya varian virus corona adalah suatu hal yang wajar, sebagai makhluk hidup yang melakukan adaptasi pada setiap lingkungannya.
Kendati demikian, pihaknya sampai saat ini masih tetap mempelajari apakah ada perbedaan efek penyakit yang ditimbulkan atau tidak.
"Jadi itu proses mutasi, itu kan bisa terjadi mulai dari SARS-Cov menjadi SARS-Cov-2. Karena mereka tetap melakukan adaptasi, dilakukan oleh virus itu sendiri menyesuaikan kondisi," kata Adib.
Atas hal itu, Adib menegaskan kepada masyarakat untuk tidak panik pada perkembangan varian virus corona saat tersebut. Karena, dalam penanganan dan pengobatan kesehatannya masih tetap sama kemungkinan berbeda diwaktu inkubasi.
Penanganan dan pengobatan masih sama, mungkin yang berbeda nanti ada di masa inkubasinya yang mungkin lebih lama," ujarnya.
Tipe Virus Corona
Covid-19 tipe A adalah jenis virus SARS-CoV-2 yang memiliki kesamaan dengan virus corona yang lazim ditemukan pada kelelawar dan trenggiling di Wuhan. Meski begitu, virus tipe A ini tidak mendominasi sebagian besar kasus Covid-19 warga di Kota Wuhan.
Versi mutasi A malah ditemukan pada warga Amerika Serikat (AS) yang dilaporkan telah tinggal di Wuhan, dan sejumlah besar virus tipe A di AS dan Australia dengan tercatat lebih dari 400 ribu kasus.
Sedangkan untuk kasus di Kota Wuhan sendiri, jenis virus utamanya adalah varian B dan lazim pada pasien dari seluruh Asia timur. Virus varian B ini lebih terkonsentrasi pada satu wilayah dan tidak berpindah dari ke kawasan yang lainnya.
Sementara, varian C merupakan turunan dari varian B yang banyak ditemukan pada pasien awal dari Prancis, Italia, Swedia dan Inggris, menjadi dominasi di kawasan Eropa. Termasuk Kasus virus corona varian C juga ditemukan di beberapa wilayah Asia seperti Singapura, Hong Kong, dan Korea Selatan.
Namun yang terpenting, lanjut Peter, teknik jaringan yang mereka gunakan secara akurat telah melacak pergerakan infeksi yang sudah terjadi. Salah satunya adalah rute penyebaran virus corona yang terjadi di Italia.
Kasus pertama virus corona di Italia ternyata berasal dari Jerman yang terdokumentasi pada 27 Januari 2020. Kasus awal Covid-19 Italia juga punya keterkaitan dengan cluster Singapura.
Dengan demikian, peneliti yakin bahwa analisis jaringan filogenetik dapat membantu mengidentifikasi sumber infeksi yang tidak terdata, dan juga bisa membantu memprediksi pusat persebaran virus secara global jika terjadi wabah di masa yang akan datang.
Sumber: merdeka.com
komentar Pembaca