Liputan6.com
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebelum mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Panitia Khusus (Pansus) RUU Pemilu di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (13/12). (Liputan6.com/JohanTallo)
Jakarta - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tidak yakin mantan Panglima TNI Jenderal TNI (purnawirawan)
Gatot Nurmantyo bisa
mendongkrak elektabilitas Joko Widodo atau Jokowi, jika dipasangkan
menjadi cawapres mantan Gubernur DKI itu di Pemilihan Presiden 2019.
"Masih dipertanyakan apakah akan menambah elektabilitas dari sisi
umat Islam, jika misalnya menjadi pasangan Pak Jokowi. Sebab
elektabilitas di mainstream umat Islam tidak tergantung
cawapresnya Pak Gatot atau bukan," ucap Sekjen PPP Arsul Sani di
kompleks DPR/MPR, Jakarta, Rabu (4/4/2018).
Menurut Arsul, kehadiran Gatot sekarang ini hanya diasumsikan seolah-olah menjadi capres yang melawan Jokowi, sehingga banyak diidolakan.
"Mainstream Islam itu kan NU dan Muhammadiyah. Pak Gatot
itu kemudian ditokohkan, diidolakan itu karena diasumsikan akan menjadi
capres yang berlawanan dengan Pak Jokowi. Bahwa ada di Muhammadiyah ada
di NU, iya ada. Tapi kan mayoritas tidak," jelas Arsul.
Sementara
Ketua Umum PPP Romahurmuziy atau Romi mennyebut, Gatot harus lebih dulu
memiliki kendaraan politik untuk maju di Pilpres 2019, sehingga bisa
dinilai layak atau tidak.
"Sebelum layak atau tidak, yang perlu dipastikan kendaraannya apa.
Karena orang baru bisa dinilai setelah dapat kendaraan (parpol). Dan
kita hanya menilai kontestan yang ikut, bukan yang enggak ikut," pungkas
Romi.
(Liputan6.com)
Politik