Ekonomi
Akurasi Data Pangan Masih Rendah
Jumat, 14 Okt 2016 10:39
JAKARTA - Tata kelola pangan yang baik bergantung pada ketersediaan data produksi dan stok pangan yang akurat. Data produksi penting sebagai dasar pengambilan kebijakan sehingga dampaknya terasa oleh masyarakat.
Ahli Kebijakan Pertanian dan Pangan yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, akurasi data pangan saat ini cukup lemah sehingga gejolak harga pangan terus terjadi akibat kesalahan kebijakan yang bersumber data yang tidak akurat.
"Perbaikan data pangan secara menyeluruh yang bebas kepentingan sektoral merupakan syarat utama tata kelola pangan yang baik," ujarnya di Jakarta.
Andreas mengatakan, stabilitas harga pangan sangat ditentukan antara stok dan penggunaan. Jika data yang dikelola benar, pemerintah bisa mengelola pangan lebih tepat, termasuk perencanaan impor.
"Ketika data tersebut salah maka tata kelola pangan kita seperti yang kita lihat ini. Saya dengan tegas katakan, data sekarang tidak akurat sehingga ketika produksi ini salah hitung maka perencanaan kita untuk mengimpor menjadi tidak tepat," tegasnya.
Andreas melanjutkan, pada Oktober tahun lalu pemerintah mengatakan bahwa beras surplus sehingga impor beras dihentikan. Kenyataannya, hingga akhir tahun lalu pemerintah justru melakukan impor sebanyak 1,5 juta ton.
"Kisah gula sama saja, pemerintah berkeyakinan gula ini memadai, lalu tiba-tiba harga gula melonjaktinggi. Mulai Mei, Juni, sampai saat ini mencapai angka Rp17.000 pada Agustus. Lalu, buru-buru impor ke sana, padahal sudah mau masuk musim giling. Jadi tata kelola ini yang harus dibenahi dan ini sangat bergantung pada data," ungkapnya.
Menurutnya, pemerintah tidak dilarang melakukan impor. Namun, data pangan tersebut harus dihitung secara cermat. "Semua karut-marut tata kelola pangan kita bersumber dari data," sebutnya.
Andreas menuturkan, meskipun saat ini pertanian masih menjadi penyedia lapangan pekerjaan terbesar dan penyumbang produk domestik bruto kedua terbesar bagi negara, kondisi petani justru semakin terpuruk.
"Kesejahteraan petani juga terus merosot. Rata-rata pendapatan rumah tangga petani saat ini hanya Rp1.030.000 per bulan yang lebih rendah dibanding upah minimum provinsi (UMP) terendah se-Indonesia (BPS 2014)," tuturnya. (Okezone.com)
Menuju Pasar Ekspor: Kisah Sukses Kolaborasi Pucuk Rebung - PHR Berdayakan UMKM Riau
PEKANBARU-Transformasi besar tengah berlangsung pada geliat ekonomi lokal Provinsi Riau. Pelaku UMKM yang sebelumnya bergerak sendiri-sendiri tanpa kepastian arah kini berhasil naik kelas melalui wada
PHR Dorong Pengembangan Migas Non-Konvensional Sebagai Game Changer Ketahanan Energi Nasional
Jakarta- Sebagai langkah strategis, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendorong pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK) guna menjaga keberlanjutan produksi. Berpotensi menjadi game changer memperkuat po
Bulog Kantor Cabang Rengat Salurkan Bantuan Pangan Alokasi Februari-Maret 2026, Ini Jenis Bantuannya
RENGAT - Pemerintah resmi melaksanakan launching penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng untuk alokasi bulan Februari dan Maret 2026 di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Rabu, (18/3/20
Malaysia Batalkan Perjanjian Dagang dengan AS
JAKARTA - Malaysia membatalkan perjanjian dagang timbal balik alias Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS). Dengan demikian tarif impor Malaysia ke AS 19% tidak berlaku lagi u
Bansos Pangan Cair ke 33,2 Juta Penerima, Dapat 20 kg Beras dan 4 Liter Minyak Goreng
JAKARTA - Bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng mulai disalurkan ke seluruh wilayah Indonesia untuk alokasi Februari dan Maret 2026. Bantuan diberikan kepada lebih dari 33,2 juta penerima manf