Selasa, 12 Mei 2026
  • Home
  • Ekbis
  • BBM Subsidi Langka di Pesisir Pelalawan, Warga Terpaksa Beli Pertalite Eceran Rp30 Ribu

BBM Subsidi Langka di Pesisir Pelalawan, Warga Terpaksa Beli Pertalite Eceran Rp30 Ribu

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 12 Mei 2026 15:58
PELALAWAN-Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dalam dua pekan terakhir membuat masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Pelalawan kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini terjadi di sejumlah daerah seperti Kecamatan Kuala Kampar, Kecamatan Teluk Meranti, hingga desa-desa di sekitarnya.

BBM jenis pertalite dan biosolar dilaporkan sempat sulit ditemukan. Kalaupun tersedia, warga harus membeli dengan harga jauh lebih mahal dari biasanya.

“Kalaupun ada yang jual ketengan, harganya mahal. Sebotol sampai Rp30 ribu,” kata warga Kuala Kampar, Rizaldi (44), Selasa (12/5/2026).Kelangkaan BBM subsidi berdampak langsung terhadap roda perekonomian masyarakat pesisir yang mayoritas bekerja sebagai petani, pekebun, dan nelayan. Warga yang hendak pergi ke kebun kelapa terpaksa mencari BBM lebih dulu agar bisa mengangkut hasil panen ke pengepul.

Aktivitas petani pun ikut terganggu. Jika sebelumnya mereka bisa pergi ke sawah setiap hari, kini harus mengurangi aktivitas akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar.

Hal serupa dirasakan para nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil sungai dan laut. Mereka terpaksa membeli BBM dengan harga tinggi demi menghidupkan mesin robbin penggerak sampan.Kondisi ini dinilai semakin berat karena wilayah pesisir Pelalawan memiliki akses geografis yang sulit dijangkau.

“Alhamdulillah, kemarin sudah mulai masuk BBM di SPBU. Antrian langsung panjang, karena sudah lama tak masuk,” tambah Rizaldi.

Keluhan serupa juga datang dari warga Kecamatan Teluk Meranti. Menurut warga setempat, mahalnya harga pertalite sebenarnya sudah menjadi hal biasa. Namun yang menjadi persoalan utama saat ini adalah stok BBM yang benar-benar kosong.“Warga tetap beli kalaupun lebih mahal, selama ini segitu juga. Permasalahan BBM tak ada alias langka. Duit ada, tapi minyak tak ada yang jual(halloriau).

Selama ini masyarakat pesisir terbiasa membeli pertalite dalam botol kemasan ukuran 1,2 liter dengan harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp10 ribu per liter.

Kondisi kelangkaan BBM di wilayah pesisir Pelalawan turut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan. Permasalahan ini bahkan telah dibahas bersama pihak Pertamina dalam rapat koordinasi pekan lalu.

Pemkab meminta Pertamina memastikan distribusi BBM ke SPBU di wilayah pesisir berjalan rutin dan tepat waktu agar kelangkaan tidak kembali terjadi.

“Kita juga mengajukan penambahan sub penyalur BBM subsidi di desa-desa yang sulit dijangkau. Jadi tak perlu lagi ke desa lain yang ada SPBU atau penyalurannya,” terang Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Pelalawan, Hanafie.

Menurutnya, penambahan sub penyalur BBM subsidi akan membantu masyarakat mendapatkan bahan bakar dengan harga lebih terjangkau sekaligus menjamin ketersediaan stok di wilayah pesisir.

“Kita sudah siapkan surat dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Nampaknya Pertamina merespon baik waktu rapat kemarin. Mudah-mudahan segera disetujui,” tandas Hanafie.

Sementara itu, Diskoperindag Pelalawan terus berkoordinasi dengan Pertamina terkait distribusi BBM ke wilayah Kuala Kampar dan Teluk Meranti agar pasokan tetap lancar dan kelangkaan segera teratas(halloriau).

 

Sumber: https://halloriau.com/read-pelalawan-14617419-2026-05-12-bbm-subsidi-langka-di-pesisir-pelalawan-warga-terpaksa-beli-pertalite-eceran-rp30-ribu.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.