BI Diminta Buka Nama Konglomerat yang Punya Utang Besar
Minggu, 23 Agu 2015 19:13
Dari total tersebut, kelompok swasta nasional mendominasi ULN sebesar USD38,63 miliar.
Melihat kondisi ini Analisis Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Dani Setiawan menilai pemerintah perlu membuka nama-nama konglomerat yang memiliki ULN dengan jumlah besar. Pasalnya, jika bank sentral AS menaikan suku bunga, akan terjadi peningkatan ULN yang besar akibat selisih kurs.
"Kami serukan, buka data-data konglomerat dan BUMN yang akumulasi utangnya besar, ini harus diketahui rakyat," ungkapnya di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (23/8/2015).
"Harus diketahui rakyat, karena siapa kita harus menanggung beban moneter, siapa konglomerat itu," imbuhnya.
Dengan begitu, lanjutnya, masyarakat bisa mengetahui secara jelas pihak-pihak yang memiliki utang. Dan jika krisis terjadi, masyarakat bisa dengan jelas meminta pertanggungjawaban.
"Mulai sekarang kita harus dorong pemerintah, buka (data-data), konglomerat yang utang, perusahaan apa yang utang, supaya kalau kita krisis kita tahu minta tanggung jawab ke siapa," tukasnya.
IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Cermati Data Ekonomi Pekan Ini
Sejumlah sentimen global dan domestik mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sela
Menuju Pasar Ekspor: Kisah Sukses Kolaborasi Pucuk Rebung - PHR Berdayakan UMKM Riau
PEKANBARU-Transformasi besar tengah berlangsung pada geliat ekonomi lokal Provinsi Riau. Pelaku UMKM yang sebelumnya bergerak sendiri-sendiri tanpa kepastian arah kini berhasil naik kelas melalui wada
PHR Dorong Pengembangan Migas Non-Konvensional Sebagai Game Changer Ketahanan Energi Nasional
Jakarta- Sebagai langkah strategis, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendorong pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK) guna menjaga keberlanjutan produksi. Berpotensi menjadi game changer memperkuat po
Bulog Kantor Cabang Rengat Salurkan Bantuan Pangan Alokasi Februari-Maret 2026, Ini Jenis Bantuannya
RENGAT - Pemerintah resmi melaksanakan launching penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng untuk alokasi bulan Februari dan Maret 2026 di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Rabu, (18/3/20
Malaysia Batalkan Perjanjian Dagang dengan AS
JAKARTA - Malaysia membatalkan perjanjian dagang timbal balik alias Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS). Dengan demikian tarif impor Malaysia ke AS 19% tidak berlaku lagi u