Kamis, 16 Jul 2026
Ekbis
Ekspor Sawit Riau Tembus US$4,69 Miliar, Tiongkok dan India Jadi Pasar Utama
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Kamis, 16 Jul 2026 10:43
PEKANBARU - Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati yang didominasi oleh produk kelapa sawit terbukti masih menjadi andalan utama performa ekspor Provinsi Riau sepanjang Januari hingga Mei 2026. Nilai ekspor untuk komoditas strategis ini berhasil menembus angka US$4,69 miliar, atau mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 13,54 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Lonjakan performa pada sektor hijau ini menjadi motor penggerak utama yang menjaga tren pertumbuhan positif perdagangan luar negeri Bumi Lancang Kuning, khususnya pada kelompok nonmigas.
Sektor Nonmigas Tumbuh Positif di Pasar Global
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi menerangkan bahwa komoditas turunan sawit memberikan kontribusi paling masif terhadap total neraca perdagangan luar negeri daerah. Peningkatan ini sekaligus mengompensasi penurunan yang terjadi pada sektor migas.
"Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah lemak dan minyak hewan atau nabati dengan kenaikan mencapai US$559,66 juta atau tumbuh 13,54 persen dibandingkan Januari hingga Mei tahun lalu. Komoditas ini masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Riau," kata Asep Riyadi, Rabu (15/7/2026).
Berdasarkan data resmi BPS, total nilai ekspor Riau secara akumulatif selama Januari-Mei 2026 menyentuh US$8,60 miliar. Angka total tersebut meningkat sebesar 5,58 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
"Pertumbuhan tersebut ditopang ekspor nonmigas yang naik 9,37 persen menjadi US$8,26 miliar, meski ekspor migas turun 42,83 persen," jelasnya.
Daftar Komoditas yang Naik dan Turun
Selain keunggulan mutlak produk kelapa sawit, terdapat sejumlah komoditas andalan lain yang memperlihatkan performa impresif dan mencatatkan pertumbuhan tinggi di pasar internasional:
Bahan Kimia Organik: Melonjak tajam hingga 74,68 persen dengan nilai mencapai US$452,71 juta.
Berbagai Makanan Olahan: Tumbuh meyakinkan sebesar 20,20 persen.
Ampas dan Sisa Industri Makanan: Meningkat sebesar 25,04 persen.
Berbagai Produk Kimia: Tumbuh positif sebesar 5,94 persen.
Meski demikian, fluktuasi pasar global juga membawa tekanan bagi beberapa komoditas manufaktur dan komoditas alam lainnya yang terpaksa melambat pada lima bulan pertama tahun ini:
Bubur Kayu (Pulp): Mengalami penurunan terbesar dengan penyusutan senilai US$109,38 juta atau merosot 13,67 persen dibandingkan tahun lalu.
Buah-buahan: Mengalami koreksi cukup dalam hingga merosot sebesar 48,05 persen.
Dominasi yang kuat dari produk turunan kelapa sawit ini menegaskan bahwa hilirisasi industri berbasis perkebunan kelapa sawit masih memegang peranan krusial sebagai jangkar utama aktivitas perdagangan internasional Provinsi Riau.
"Dari seluruh ekspor nonmigas Riau, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati memberikan kontribusi sekitar 56,82 persen. Artinya, lebih dari separuh ekspor nonmigas Riau masih berasal dari komoditas tersebut," ujarnya.
Tiongkok Kuasai Pangsa Pasar, Italia Melonjak
Melihat peta geografis perdagangan luar negeri Riau, Negeri Tirai Bambu tercatat masih bertengger kokoh sebagai mitra dagang terbesar dan tujuan utama pengiriman produk-produk unggulan daerah.
Tiongkok menyerap nilai investasi ekspor hingga US$1,55 miliar, yang merepresentasikan sekitar 18,72 persen dari total ekspor nonmigas. Posisi strategis berikutnya ditempati oleh India dengan nilai transaksi mencapai US$694,01 juta, disusul oleh negara tetangga Malaysia yang membukukan nilai sebesar US$626,08 juta. Gabungan dari ketiga negara utama ini menyumbang porsi sebesar 34,71 persen terhadap total ekspor nonmigas Riau.
Akselerasi volume pengiriman barang juga terpantau menguat ke sejumlah negara tujuan utama global. Pengiriman ke Tiongkok tercatat naik 22,22 persen, Amerika Serikat meningkat 16,59 persen, Vietnam tumbuh 17,89 persen, Rusia naik 9,86 persen, serta pasar Italia secara luar biasa melonjak hingga 26,46 persen.
Namun, tren berkebalikan terjadi pada beberapa kawasan. Arus komoditas menuju Bangladesh mengalami penurunan sebesar 16,93 persen, Belanda turun 5,16 persen, Malaysia turun 1,59 persen, dan Filipina ikut terkoreksi tipis sebesar 1,64 persen.
Jika ditinjau dari kontribusi sektor usaha, aktivitas industri pengolahan atau manufaktur masih menjadi pilar paling tangguh dengan sumbangsih mencapai 94,55 persen terhadap total ekspor Riau. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, performa ekspor dari sektor industri pengolahan ini berhasil tumbuh 9,78 persen, berbanding terbalik dengan sektor pertanian yang justru mengalami penurunan kinerja sebesar 11,08 persen.(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/ekspor-sawit-riau-tembus-us469-miliar-tiongkok-dan-india-jadi-pasar-utama.html
komentar Pembaca