Rabu, 13 Mei 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Harga Telur di Tingkat Peternak Anjlok, Ternyata Ini Biang Keroknya.

Harga Telur di Tingkat Peternak Anjlok, Ternyata Ini Biang Keroknya.

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Rabu, 13 Mei 2026 08:38
Jakarta-Peternak ayam mendatangi Kementerian Pertanian (Kementan) imbas harga telur di tingkat peternak anjlok hingga menyentuh level Rp 22.500/kilogram (kg). Padahal harga acuan pembelian (HAP) di tingkat produsen/peternak mencapai Rp 26.500/kg.
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Herry Dermawan menambahkan harga telur di tingkat peternak yang anjlok tak lepas dari permainan middleman atau tengkulak. Selain itu, para middleman ini memanfaatkan peternak yang menjual telur dengan harga murah karena stok yang melimpah.

"Jadi harga ini, harga yang sekarang ini bukan harga asli. Ada middleman. Bisa dari peternak butuh duit dijual semurahnya. Jadi memang harga telur, juga ayam itu sangat sensitif terhadap isu," ujar Herry usai melakukan rapat bersama Kementan di kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2026).

Herry telah meminta bantuan kepada pemerintah untuk menindak para middleman yang berani mempermainkan harga. Sebab, harga telur di tingkat peternak ini tidak wajar.

"Kita juga minta bantuan Satgas Pangan supaya nggak mempermainkan harga. Ini harga nggak wajar. Kalian tahu tadi harga berapa dibilang? Rp 21.000, kalian beli telur berapa? Rp 29.000-Rp 30.000 per kg, siapa yang menikmati Rp 8.000 itu? Itu yang saya bilang, harga sekarang ini bukan harga asli," imbuh Herry.


Kondisi inilah yang membuat peternak merugi. Padahal biaya produksi peternak telur berkisar Rp 24.000/kilogram.

"Biaya produksi sekarang Rp24.000. (Rugi ya?) Lah he-eh (iya), makanya saya sampai ke sini kita," terangnya.

Penyebab Anjlok
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Agung Suganda mengatakan faktor utama penurunan harga di tingkat peternak ini karena tingginya suplai telur.

Pada 2026, produksi telur nasional diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton. Sementara kebutuhan nasional sekitar 6 juta.

"Sehingga masih ada surplus kurang lebih secara nasional itu sekitar 800 ribu ton surplus atau kurang lebih sekitar 13% dari kebutuhan nasional," ujar Agung.

Ia menilai surplus telur di level 13% bukan suatu masalah sebenarnya dan bisa dikendalikan. Namun, pihaknya juga menemukan adanya fenomena peran harga di lapangan.

Menurut Agung, ada sebagian peternak yang banting harga dengan menjual telur harga rendah. Hal ini disebabkan karena telur merupakan komoditas yang terus diproduksi setiap hari sehingga stoknya terus bertambah.

"Harga ini dibentuk oleh mekanisme pasar. Artinya 98% peternak, petelurnya rakyat dan di situlah letak dari harga itu terbentuk. Jadi kalau ada peternak yang mau jual Rp 19.000 dan ada yang jual Rp23.000, tentu Rp 19.000 yang dipilih oleh middleman. Padahal dijualnya di harga konsumennya relatif tidak turun juga," jelas Agung.

Adapun harga rata-rata nasional telur di tingkat peternak Rp 24.500/kg. Harga telur di tingkat peternak yang anjlok terjadi di daerah sentra produksi, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Melalui konsolidasi dengan asosiasi peternak dan koperasi, ia meminta harga telur di tingkat peternak sesuai dengan HAP yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 26.500/kilogram.

"Nah oleh karena itu maka tadi sudah disepakati juga oleh teman-teman asosiasi teman-teman koperasi dan pelaku untuk bersama-sama menjaga agar harga ini menuju pada harga acuan di tingkat produsen atau on-farm sesuai dengan harga yang ditetapkan dalam Peraturan Kepala Bapanas yaitu di angka 26.500 per kilogram," tambah Agung.

Minta Menu Telur di MBG Ditambah
Ia pun meminta agar menu telur dalam program makan bergizi gratis (MBG) ditambah. Tak hanya itu, pembelian telur juga diminta mengikuti harga yang telah ditetapkan.

"Kita tentu mendorong agar program makan bergizi gratis juga bisa meningkatkan menu telur per minggunya. Juga kita meminta agar harga beli telur ini juga mengikuti harga yang ditetapkan oleh Peraturan Bapanas," tutur Agung.

Selain mendorong penyerapan telur dalam MBG, ia juga memberikan fasilitas distribusi dari daerah surplus telur ke daerah defisit. Agung menerangkan di saat harga telur di tingkat peternak anjlok di Jawa, sementara di daerah Papua dan Maluku masih mengalami harga tinggi.

"Kita masih punya Pulau Papua yang masih di bawah 0,4% produksinya, Maluku juga sama. Oleh karena itu salah satu upaya kita untuk stabilisasi harga ini adalah bagaimana memfasilitasi distribusi dari daerah produsen ke daerah yang masih defisit atau daerah surplus ke daerah defisit(detik.com).


Sumber: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8486758/harga-telur-di-tingkat-peternak-anjlok-ternyata-ini-biang-keroknya

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.