Rabu, 17 Jun 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Rupiah Melemah dan Harga Obat Terancam Naik, IDI Semarang : Ketergantungan Impor

Ekonomi,

Rupiah Melemah dan Harga Obat Terancam Naik, IDI Semarang : Ketergantungan Impor

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Rabu, 17 Jun 2026 11:39
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi memicu kenaikan harga obat di Indonesia. Kondisi itu dipengaruhi oleh ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku dan komponen obat impor.

Pelaksana Tugas (Plt) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, Prihatin Iman Nugroho mengatakan, potensi kenaikan harga obat akibat melemahnya kurs rupiah memang terbuka lebar. Sebab, sebagian besar bahan baku obat yang digunakan industri farmasi masih didatangkan dari luar negeri.

"Jadi memang dengan adanya kenaikan kurs rupiah terhadap dolar memang potensi untuk kemungkinan terjadi peningkatan harga obat memang ada," kata Pelaksana Tugas (Plt) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, Prihatin Iman Nugroho kepada wartawan, Rabu (17/6).

Prihatin menyebut, kenaikan harga obat itu tidak hanya dari faktor biaya produksi saja, namun juga distribusi dan rantai pasok yang sebagian masih berkaitan dengan komponen impor. Menurutnya, ketergantungan industri farmasi terhadap bahan baku impor membuat gejolak kurs menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.

"Jadi saat rupiah tertekan terhadap dolar AS, biaya produksi berpotensi membengkak dan pada akhirnya dapat memicu penyesuaian harga obat di tingkat konsumen," ungkapnya. 

Namun sejauh ini, Dinas Kesehatan Kota Semarang memastikan belum menemukan indikasi kenaikan harga obat yang berdampak signifikan terhadap layanan kesehatan maupun akses masyarakat terhadap kebutuhan pengobatan.

"Di Kota Semarang sendiri sejauh yang kami tangkap saat ini masih belum kami dengar adanya pergerakan atau perubahan harga-harga obat yang berpotensi menyebabkan gangguan di pelayanan," ujarnya.

Prihatin menuturkan, gejolak pasokan obat sebenarnya sudah terasa jauh sebelum rupiah tertekan dan harga bahan bakar merangkak naik. Saat itu, sejumlah distributor dilaporkan kesulitan menyediakan obat-obatan untuk pasien penyakit kronis, termasuk amlodipin dan klonidin yang banyak digunakan penderita hipertensi.

"Memang sudah ada beberapa obat yang kosong produksi. Apakah ini terkait langsung dengan proses terjadinya kenaikan dolar atau bukan, ini masih debatable juga," ungkapnya.

Kondisi Mulai Membaik
Namun, menurut dia, kondisi tersebut saat ini mulai membaik karena sejumlah rumah sakit kembali memperoleh pasokan obat dalam jumlah terbatas. "Terakhir saya terinfo obat itu sudah mulai ada di beberapa rumah sakit yang sebelumnya sempat terinfo kosong," katanya.

Saat obat tertentu sulit diperoleh atau harganya melambung, dokter biasanya akan merekomendasikan alternatif dengan efek terapi yang sama. Kendati demikian, langkah tersebut berpotensi menambah beban biaya kesehatan yang harus ditanggung pasien.

"Kalau substitusinya harganya lebih mahal, pastinya akan menaikkan biaya untuk mendapatkan pengobatan tersebut dan hal ini tentu saja tidak kita harapkan terjadi pada pelayanan kesehatan dan masyarakat," jelasnya.

Ia menekankan kelancaran distribusi obat merupakan kebutuhan vital bagi jutaan pasien penyakit kronis. Tanpa terapi yang dijalani secara rutin, risiko memburuknya kondisi kesehatan penderita hipertensi, diabetes, dan penyakit ginjal dapat meningkat.

"Pasien kasus kronis terutama, mereka harus mendapatkan obat-obatan yang memang digunakan untuk meminimalkan agar masalah kesehatan itu bisa dikontrol," ujarnya.

Meski isu kenaikan harga obat mulai menjadi perhatian, Prihatin memastikan belum ada sinyal kuat dari fasilitas kesehatan di Semarang yang menunjukkan terjadinya lonjakan harga secara mencolok.

"Sampai hari ini kami masih belum mendapatkan informasi terjadi progres kenaikan harga obat apa saja," katanya.

Jaga Stabilitas Pasokan
Karena itu, IDI Kota Semarang berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas pasokan obat serta memastikan ketersediaan bahan baku agar pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal.

"Ketersediaan dari pendukung pelayanan seperti obat pastinya menjadi sesuatu yang harus menjadi perhatian juga. Karena itu merupakan bagian dari kontinuitas pengobatan yang bermutu," pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan pemerintah telah mengantisipasi dampak pelemahan rupiah dengan memantau secara ketat pergerakan harga obat di pasaran.

"Harga obat kita sudah lihat, kita sudah list mana yang naik ya make sense dan tidak make sense. Tapi untuk obat-obatan BPJS kita berhasil jaga. Jadi, obat-obatan di luar BPJS kita lihat ada kenaikan," kata Budi  pada Kamis (11/6).(MERDEKA.COM)
Sumber: https://www.merdeka.com/uang/rupiah-melemah-dan-harga-obat-terancam-naik-idi-semarang-ketergantungan-impor-584043-mvk.html?page=3

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.