Sabtu, 30 Mei 2026
Tak Terima Dianiaya, Seorang Ustad di Pekanbaru Polisikan Oknum Pimpinan Ormas
Admin
Selasa, 10 Nov 2020 08:51
Riauterkini.com
Laporan itu dilayangkan ke pihak berwajib pada 6 November 2020 kemarin. Dimana meski kejadian sudah sepekan sebelum Ia melapor, namun bekas penganiayaan di wajah ustad muda masih tampak jelas.
Ustad Asad yang merupakan rekan korban bercerita, kejadian itu berawal dari anak pelaku yang biasanya mengaji di pondok pesantren itu mengaku telah dipukul oleh korban kepada ayahnya. Tak terima laporan itu, A kemudian mendatangi pondok pesantren yang didirikan khusus untuk kaum duafa itu bersama lima rekannya.
"Setelah ditelusuri ternyata anak pelaku itu bohong. Mana mungkin ustad melakukan hal itu," katanya Senin (09/11/20)
Dari cerita yang didapat Asad, pelaku bersama rekannya mendobrak pondok putri yang kala itu membuat ustazah serta santriwati ketakutan. Ia lantas menanyakan keberadaan korban, dan didapatinya tengah berada di dalam mushalla.
"Perlakuan mereka ini sangat ganas dan arogan, mereka masuk masjid, pakai sepatu, sajadah dipijak-pijak," terangnya.
"Ustadznya (korban) juga dipijak, dipukul pakai rotan dan menarik jenggot ustadz dan bilang apa yang dibanggakan dari janggut panjang ini," cerita Asad.
Kala itu, korban memang tak melakukan perlawanan. Tubuhnya yang kecil tak sanggup melawan 6 orang sekaligus.
Diketahui, A dan lima orang rekannya datang menggunakan tiga mobil kala itu. Kedatangan mereka sontak membuat takut warga pondok pesantren itu. Terlebih pelaku mengaku salah satu pimpinan ormas di wilayah itu.
Pelaku juga sempat menanyakan izin pondok pesantren itu. Bahkan Ia juga memaksa para pengurus pesantren untuk menutup pondok pesantren yang dibuka gratis untuk orang-orang miskin dan anak yatim tersebut.
"Pondok pesantren itu didirikan untuk para anak-anak yatim dan kurang mampu untuk mengaji. Saya sangat sedih mendengar itu," tuturnya.
Asad, juga menceritakan awalnya korban dan pengurus lainnya menyimpan peristiwa ini dan tak berani bercerita kepada siapapun. Lantaran, mereka semua bukan asli penduduk di wilayah itu.
"Mungkin mereka khawatir terjadi sesuatu hal jika mereka ceritakan masalah penganiayaan itu. Namun kita sudah musyawarah dengan pihak pondok pesantren, FPI bahkan juga dengan paman saya yang juga pentolan PP di wilayah Rokan Hulu," paparnya.
"Akhirnya kita sepakat laporkan ini ke Polda Riau. Itu juga diarahkan oleh aparat setempat," imbuhnya.
Sementara dikonfirmasi, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Riau Kombes Pol Zain Dwi Nugroho, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dugaan penganiayaan tersebut.
"Benar, sedang kita tangani," singkatnya.
Sumber: Riauterkini.com
komentar Pembaca