Berita satu.com
Kepala rumah sakit terbesar di Gaza pada Selasa (22/7/2025), menyatakan bahwa 21 anak telah meninggal akibat kekurangan gizi dan kelaparan dalam tiga hari terakhir, di tengah memburuknya krisis kemanusiaan serta operasi militer Israel yang masih berlangsung.
“Sebanyak 21 anak meninggal dunia akibat kekurangan gizi dan kelaparan di berbagai wilayah di Jalur Gaza,” kata Direktur Kompleks Medis Al-Shifa Dr Mohammed Abu Salmiya.
Ia memperingatkan bahwa jumlah kasus baru terus berdatangan ke beberapa rumah sakit yang masih beroperasi. Menurutnya, wilayah Gaza akan menghadapi angka kematian yang mengkhawatirkan jika situasi tidak segera membaik.
Gaza, yang dihuni lebih dari 2 juta penduduk, kini mengalami kelangkaan ekstrem bahan makanan, air bersih, dan pasokan medis. Banyak warga yang tewas saat mencoba memperoleh bantuan di titik distribusi yang terbatas.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut Gaza sebagai pertunjukan horor dalam pidatonya hari Selasa, menggarisbawahi tingkat kematian dan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dokter di Gaza melaporkan bahwa 15 orang tewas akibat kelaparan hanya dalam 24 jam terakhir, termasuk bayi berusia enam minggu bernama Yousef. Tubuh Yousef difoto terkulai di atas meja rumah sakit di Gaza City, tulangnya menonjol karena kekurangan gizi. “Susu tidak tersedia di mana pun,” ujar pamannya.
Jika pun ada, harga susu formula mencapai US$ 100 (sekitar Rp 1,6 juta) per kemasan.
Tiga anak lainnya, termasuk remaja 13 tahun di Khan Younis, juga meninggal akibat kelaparan. Petugas medis mencatat setidaknya 101 korban meninggal karena kelaparan selama konflik, 80 di antaranya adalah anak-anak.
Juru bicara militer Israel Nadav Shoshani, menyatakan melalui media sosial bahwa 950 truk bantuan kini menunggu untuk didistribusikan oleh organisasi internasional di Gaza. Israel mengeklaim telah memfasilitasi masuknya bantuan, namun menyalahkan Hamas atas dugaan pencurian bantuan, yang dibantah oleh Hamas.
Seorang pejabat Gedung Putih turut menuding Hamas menyebar disinformasi dan menyerang bantuan kemanusiaan, sambil menyatakan dukungan terhadap Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF) yang didukung Israel.
Sejak gencatan senjata enam minggu gagal pada Maret 2025 lalu, Israel kembali memberlakukan blokade penuh terhadap Gaza. Bantuan mulai masuk kembali pada akhir Mei 2025, tetapi lembaga internasional menyebut stok telah menipis.
Ketegangan meningkat atas dominasi GHF dalam distribusi bantuan, menggantikan peran PBB. PBB menyatakan pasukan Israel telah membunuh lebih dari 1.000 warga Palestina yang sedang mengantre bantuan di titik distribusi GHF sejak akhir Mei. Sekitar 800 di antaranya tewas dalam beberapa minggu terakhir, mayoritas akibat tembakan di lokasi distribusi.
Badan PBB menyebut sistem GHF tidak netral secara kemanusiaan. Kepala UNRWA, badan pengungsi Palestina PBB, menyatakan staf dan relawan kini pingsan karena kelaparan. Dewan Pengungsi Norwegia juga melaporkan kehabisan tenda, makanan, dan pasokan darurat. "Tidak ada yang tersisa," kata Direktur Jan Egeland.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut gambar korban sipil di titik distribusi bantuan sebagai hal yang tidak dapat ditoleransi, dan mendesak Israel menepati janji peningkatan akses bantuan.
Pada hari yang sama, serangan udara Israel menewaskan 15 orang pada berbagai wilayah Gaza, termasuk 13 orang di kamp pengungsi Al-Shati di barat Gaza City. Lebih dari 50 orang terluka.
Kamp Al-Shati yang berada di pesisir Laut Mediterania dihuni ribuan keluarga pengungsi yang tinggal di tenda dan bangunan darurat. Sebagian besar penduduk Gaza telah berpindah tempat sedikitnya satu kali selama konflik.
Raed Bakr (30), ayah tiga anak, menggambarkan serangan di kamp sebagai mimpi buruk. "Api, debu, asap, dan potongan tubuh beterbangan. Anak-anak menjerit," katanya kepada AFP.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut menuduh pasukan Israel menyerang personelnya. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut tentara Israel memasuki rumah staf WHO di Gaza tengah, memaksa wanita dan anak-anak pergi, serta memborgol dan menginterogasi pria dengan todongan senjata.
Pada Selasa, militer Israel juga memperluas operasi darat ke Deir el-Balah, wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman. Militer mengeklaim merespons tembakan dari area tersebut.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperkirakan 50.000"80.000 orang kini tinggal di Deir el-Balah, termasuk 30.000 di kamp pengungsi. OCHA juga menyatakan hampir 88 persen wilayah Gaza kini berada di bawah perintah evakuasi atau ditetapkan sebagai zona militer, mempersempit ruang gerak warga sipil.
Rumah sakit kini kewalahan menangani korban, kekurangan makanan, serta obat-obatan untuk mengatasi malanutrisi. Sekitar 600.000 orang menderita kelaparan, termasuk 60.000 ibu hamil, menurut otoritas kesehatan Gaza.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com
Internasional