Rabu, 01 Jul 2026

Internasional

Austria Tutup Tujuh Masjid dan Deportasi Puluhan Imam

Sabtu, 09 Jun 2018 09:58
Wina - Dalam langkah memerangi Islam politis dan gerakan radikalisasi, pemerintah Austria berencana untuk menutup masjid yang didanai pihak asing dan mendeportasi imam yang berafiliasi dengan masjid-masjid tersebut.

Pemerintah Austria akan menutup tujuh masjid dan berencana untuk mendeportasi sekitar 60 imam sebagai langkah untuk memerangi Islam politis, radikalisasi dan mencegah pendanaan asing untuk kelompok agama. Kanselir Austria, Sebastian Kurz, mengatakan tujuh masjid yang ditutup terdiri dari satu masjid nasionalis garis keras Turki di Wina dan enam masjid yang dikelola kelompok Komunitas Religius Arab. Tindakan pemerintah Austria ini didasarkan pada undang-undang tahun 2015 yang, di antaranya, melarang komunitas agama mendapatkan pendanaan dari luar negeri.

Menteri Dalam Negeri Austria Herbert Kickl mengatakan izin tinggal para imam yang dipekerjakan oleh ATIB, organisasi yang mengawasi masjid Turki di Austria, sedang ditinjau, tapi sudah ada dua imam yang izin tinggalnya telah dicabut dan lima imam yang permohonan izin tinggalnya ditolak.

Kurz dari Partai Rakyat yang konservatif menjadi kanselir pada bulan Desember dalam sebuah koalisi anti-migrasi dengan Partai Kebebasan. Dalam kampanye pemilu tahun lalu, kedua partai koalisi menyerukan kontrol imigrasi yang lebih ketat, deportasi segera pencari suaka yang permintaannya ditolak dan tindakan keras terhadap Islam radikal. Pemerintah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk melarang siswi sekolah dasar dan taman kanak-kanak untuk mengenakan jilbab.

"Masyarakat paralel, Islam politis dan kecenderungan ke arah radikalisasi tidak memiliki tempat di negara kami," kata Kurz kepada wartawan di Wina. Dia menambahkan bahwa kekuatan pemerintah untuk campur tangan "tidak dimanfaatkan dengan baik" di masa lalu. Langkah-langkah yang dilakukan hari ini adalah "langkah pertama yang signifikan dan perlu untuk menuju ke arah yang benar," kata Wakil Kanselir Heinz-Christian Strache, pemimpin Partai Kebebasan.

Hasil investigasi

Penutupan masjid yang ditengarai menyebarkan paham radikal ini dilakukan menyusul hasil investigasi otoritas urusan agama Austria, salah satunya mengenai foto yang muncul bulan April. Dalam foto yang diterbitkan mingguan Falter tersebut, anak-anak di sebuah masjid Turki memerankan adegan pertempuran Gallipoli di Perang Dunia I.

Anak-anak itu mengenakan seragam kamuflase, berbaris, memberi hormat, melambai-lambaikan bendera Turki dan kemudian berpura-pura mati. "Mayat" mereka kemudian dibariskan dan dibungkus dengan bendera. ATIB sendiri mengutuk foto-foto itu dan "sangat menyesalkan" adegan tersebut.

Selain karena dugaan radikalisme, masjid tersebut juga ditutup karena tidak memiliki lisensi untuk beroperasi di bawah Komunitas Islam Austria, organisasi payung yang merepresentasikan warga Muslim di negara ini.

Sementara itu, masjid-masjid Arab ditutup karena adanya laporan mengenai khutbah-khutbah kelompok Salafis yang ekstrem.

Reaksi Turki

Juru bicara kepresidenan Turki pada Jumat (08/06) mengecam keputusan Austria untuk mengusir 60 imam yang didanai Turki dan menutup tujuh masjid sebagai gerakan "anti-Islam" dan "rasis". "Keputusan Austria untuk menutup tujuh masjid dan mendeportasi imam dengan alasan yang mengada-ada adalah refleksi dari gelombang populis anti-Islam, rasis dan diskriminatif di negara ini," kata Ibrahim Kalin setelah Wina mengumumkan langkah tersebut.

Ia menambahkan bahwa keputusan itu adalah bagian dari upaya "menormalkan Islamophobia dan rasisme", yang katanya harus ditolak. "Praktik-praktik ideologis yang dibebankan pemerintah Austria melanggar prinsip-prinsip hukum universal, kebijakan integrasi sosial, hak minoritas dan etika koeksistensi," lanjut Kalin.

Selama kampanye referendum Turki tahun lalu untuk memperluas kekuasaan presiden, timbul tensi tinggi antara Wina dan Ankara setelah Austria tidak mengizinkan acara terkait kampanye dilakukan di sana. Hubungan juga tegang karena Kurz menyerukan kepada Uni Eropa untuk menghentikan perundingan dengan Ankara tentang Turki yang ingin bergabung dengan UE.

(detik.com)
Internasional
Berita Terkait
  • Rabu, 01 Jul 2026 16:48

    Bupati Kuansing Resmi Berompi Oranye Terkait Kasus Suap Jabatan

    JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Provinsi Riau, Suhardiman Amby sebagai tersangka dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah

  • Rabu, 01 Jul 2026 16:09

    KPK Periksa Bupati Inhu dan Sekda Riau Terkait Kasus Pemerasan Gubernur Nonaktif Abdul Wahid

    JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Bupati Indragiri Hulu, Ade Agus Hartanto beserta Sekretaris Daerah Riau, Syahrial Abdi. Keduanya diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan pemer

  • Rabu, 01 Jul 2026 16:08

    Lantik 38 Pejabat, Bupati Asmar Dorong Reformasi Birokrasi yang Profesional dan Responsif

    SELATPANJANG â€" Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti kembali melakukan penyegaran birokrasi sebagai langkah memperkuat tata kelola pemerintahan. Sebanyak 38 pejabat administrator dan pejabat pengaw

  • Rabu, 01 Jul 2026 15:31

    LBH Laporkan Dugaan Kekerasan Oknum Polisi Terhadap Sembilan Warga Rupat Utara ke Polda Riau

    PEKANBARU - Gabungan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) ICMI Wilayah Riau dan LBH Pekanbaru resmi mengadukan dugaan tindak kekerasan fisik oleh oknum aparat Polsek Rupat Utara terhadap sembilan warga sipil.

  • Rabu, 01 Jul 2026 15:19

    Pesona Batik Motif Bakar Tongkang Karya Miskiah Angkat Budaya Rokan Hilir ke Kancah Nasional

    BAGANSIAPIAPI - Perayaan Festival Ekraf Pesona Beapi Besenergi Kawasan Qris yang memeriahkan event Bakar Tongkang di Bagansiapiapi sukses menarik perhatian masyarakat luas. Dari 35 stand bazar yang me

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor