- Home
- Internasional
- Dianggap Kafir oleh ISIS, 7.000 Yazidi Hidup Tersiksa
Dianggap Kafir oleh ISIS, 7.000 Yazidi Hidup Tersiksa
Kamis, 17 Des 2015 14:21
Sedikitnya 7.000 orang Yazidi, kebanyakan dari mereka anak-anak dan perempuan, disiksa, dijadikan budak, diperkosa berulang kali, bahkan dibakar hidup-hidup serta dikurung di penjara sempit yang berada di bawah tanah di tengah-tengah gurun pasir. Anak-anak lelaki Yazidi dilatih ISIS untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.
Ketua Organisasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Yazidi, Mirza Ismail, di hadapan peserta Kongres Komisi Parlemen HAM Internasional menyampaikan secara detail kekejaman mengerikan yang menimpa kaum Yazidi di Irak akibat ulah ISIS tersebut.
"Karena kami bukan Muslim, dan karena kami memilih jalan kedamaian, kami dibakar hidup-hidup," kata Ismail pada seminggu lalu, sebagaimana dikutip dari Christian Today, Kamis (17/12/2015).
Berdasarkan banyaknya jumlah kaum Yazidi yang dibantai ISIS, Ismail menilai kejahatan perang yang dilakukan kelompok militan itu selayaknya dianggap sebagai pelanggaran HAM berat berupa genosida.
"Banyak korban yang saya temui di utara Irak mengungkap banyaknya perempuan dan anak perempuan yang melarikan dari ISIS. Lebih dari 7.000 orang diculik, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Beberapa dari mereka bahkan harus menyaksikan anak-anak berusia tujuh sampai sembilan tahun mati kehabisan darah tepat di depan mata kepala mereka, setelah diperkosa oleh militan ISIS berkali-kali dalam sehari," ujar aktivis kemanusiaan itu berapi-api.
Ismail bercerita mengenai pertemuannya dengan para ibu yang anaknya menjadi korban penculikan ISIS. Ibu yang sama datang menemui teroris itu untuk memohon anaknya dikembalikan. Namun yang terjadi adalah mereka diberi tahu bahwa anak mereka sudah mati dan darah serta daging segar anak-anak itu disumpalkan ke mulut si ibu.
"ISIS telah membakar hidup-hidup ribuan anak perempuan Yazidi yang menolak pindah keyakinan dan menikah dengan tentara mereka. Seluruh tempat ibadah kami diledakkan dan dihancurkan. Seluruh populasi Yazidi dalam waktu kurang dari sehari pada 3 Agustus 2014 kehilangan tempat bermukim mereka di Sinjar. Kenapa? Semata karena kami bukan Muslim," ucapnya.
Kaum Yazidi merupakan kelompok agama yang mempraktikkan sinkretisme dan menggabungkan banyak keyakinan, antara lain Islam Syiah dan Sufi, disesuaikan dengan tradisi rakyat setempat. Bahasa utama mereka adalah Kurdi, namun ada juga yang berbahasa Arab. Kelompok ini juga berbahasa Asyur yang agamanya berakar dari agama Persia, bercampur dengan unsur Mesopotamia, Asiria, Mithraisme, dan Kristen. Situs suci utama mereka terletak di Lalish, sebelah timur Mosul. Dikarenakan latar belakang inilah kaum Yazidi sering kali dianggap penyembah iblis, sesat, dan kafir oleh penduduk mayoritas di sekitarnya.
PTPN IV Tuntaskan Penanaman 9.000 Pohon di Bumi Lancang Kuning
PEKANBARU-PTPN IV melalui entitasnya di Riau, PTPN IV Regional III menuntaskan penanaman sedikitnya 9.000 bibit pohon di berbagai wilayah operasional sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mend
Latsar CPNS Meranti Dimulai, Ratusan Calon ASN Ditempa Jadi Pelayan Publik Berintegritas
SELATPANJANG â€" Sebanyak 177 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti mulai menjalani tahapan penting dalam perjalanan mereka menuju Aparatur Sipil Negar
Dapur MBG SPPG Umban Sari 02 Pekanbaru Hentikan Operasional Sementara, Diduga Terkendala Pencairan Dana
Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Umban Sari 02 Pekanbaru yang melayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara mulai Kamis (11/6/2026).Informasi penghentian sementara
Kejari Kuansing Ringkus Buronan Korupsi 8 Tahun di Loteng Rumah Istri
KUANSING â€" Setelah buron selama delapan tahun, Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus tindak pidana korupsi penyimpangan dana bantuan sertifikat tanah pola KKPA dari PTPN V kepada Koperasi Petani Siampo
SPP UPMS I: Kenaikan Pertamax Menjadi Alarm bagi Penguatan Kedaulatan Energi Nasional
PEKANBARU - Serikat Pekerja Pertamina Unit Pemasaran I (SPP UPMS I) memandang kenaikan harga Pertamax yang dalam periode tertentu telah mencapai lebih dari 30 persen sebagai pengingat penting bahwa se