Senin, 27 Apr 2026

Dipasok Senjata AS, Pemberontak Suriah Justru Saling Bentrok

Selasa, 08 Des 2015 16:04
MOSKOW – Kemunculan kelompok militan ISIS telah menyebabkan konflik berkepanjangan di Irak dan Suriah. Terutama di daerah perbatasan, negara-negara barat yang bergabung di bawah pimpinan AS dalam upaya menggempur ladang minyak ISIS, telah menopang kelompok pemberontak berperang melawan pemerintah Suriah di bawah rezim Bashar al-Assad.

Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, khususnya Turki, diketahui menjadi pemasok utama persenjataan berbagai kelompok pemberontak rezim Assad.

Dengan jalan ini, mereka berharap kaum pemberontak selain berjuang menurunkan Presiden Suriah, sekaligus membantu memerangi Daesh (nama lain ISIS).

Akan tetapi, laporan baru dari Observatorium Hak Asasi Manusia (HAM) untuk Suriah di AS mengungkapkan bahwa pasokan senjata itu telah dimanfaatkan kaum pemberontak untuk saling memperkukuh daerah kekuasaan masing-masing, alih-alih turut membantu AS dan sekutu memerangi ISIS.

Perseteruan antar kaum pemberontak terjadi di dekat kota Azaz, sekitar Aleppo, di sepanjang perbatasan Turki.

"Tentara Syam (Levant Front) dan lainnya bertengkar mengenai siapa yang paling berhak menguasai daerah Azaz. Percekcokan itu terutama terjadi antara Jaysh al-Thuwar dengan atau Kurdish YPG," ungkap seorang pejuang kepada Reuters, disadur dari Sputnik, Selasa (8/12/2015).

Jaysh al-Thuwar atau Tentara Revolusi Suriah anti-Assad yang dikenal ambisius menyatukan Arab, Kurdi dan Turki. Sementara Kurdish Yekineyen Parastina Gel (Kurdish YPG) atau Unit Perlindungan Masyarakat Kurdi sebenarnya merupakan sekutu terdekat Jaysh al-Thuwar di Irak Utara.

Keduanya tergabung dalam Pasukan Pembebasan Suriah (Free Syrian Army) yang membantu negara barat memerangi ISIS.

Masalahnya, FSA adalah kelompok yang memiliki kedekatan dengan Turki, sedangkan YPG dan Jaysh al-Thuwar lebih pro Washington dan kemudian membentuk aliansi baru bernama Pasukan Demokrasi Suriah.

Menurut Direktur Observasi HAM Suriah, Rami Abdulrahman, perselisihan antara kelompok pemberontak yang pro Turki dan AS adalah sesuatu yang amat ganjil.

"(Jika saling tuding senjata antar kaum pemberontak itu terus berlanjut, maka) pemenang dari perseteruan ini kemungkinan adalah ISIS. Karena mereka juga mengerahkan pasukan ke daerah yang sama, dan tampaknya berencana untuk hanya mengambil potongan-potongan mana faksi akhirnya memenangkan pertempuran ini, dan mengklaim berharga lintas batas," tukas Jason Ditz, editor berita untuk portal Antiwar.

Selama krisis di Suriah, Rusia berupaya keras mempertahankan posisi Assad, yang menurutnya merupakan cara terefektif dalam mencegah penyebaran bibit teror ISIS di Suriah.

Negeri Beruang Merah itu juga berharap dengan demikian warga Suriah bisa memutuskan sendiri pemimpinnya. Sementara AS dan Turki mati-matian mendukung kaum pemberontak menggulingkan Putra Mantan Presiden Hafizh al-Assad tersebut dari jabatannya sekarang.

(okezone.com)
Internasional
Berita Terkait
  • Minggu, 26 Apr 2026 21:37

    Viral! Pria Ini Naik Gunung Andong Bawa Sound System, Netizen: Emang Boleh?

    JAKARTA - Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan aksi seorang pendaki membawa sound system berukuran besar saat mendaki gunung. Video tersebut diunggah oleh akun TikTok

  • Minggu, 26 Apr 2026 21:34

    Mitos atau Fakta: Pakai Tas Selempang Berat Bikin Tulang Belakang Melengkung ke Samping?

    BANYAK orang mengira memakai tas selempang berat hanyalah kebiasaan sepele. Padahal dalam jangka panjang, tas selempang berat bisa berdampak pada postur tubuh.Salah satu isu yang s

  • Minggu, 26 Apr 2026 21:32

    Kenapa Vaksin Meningitis Wajib Sebelum Haji dan Umrah? Ini Penjelasannya

    JAKARTA â€" Calon jemaah haji dan umrah diwajibkan menjalani vaksinasi meningitis sebelum berangkat ke Arab Saudi. Kebijakan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai langkah pencegahan

  • Minggu, 26 Apr 2026 21:30

    AS Akan Kembali Berlakukan Eksekusi Mati dengan Regu Tembak dan Kamar Gas

    JAKARTA â€" Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada Jumat (24/4/2026) menyatakan bahwa negara itu akan kembali menerapkan regu tembak, hukuman mati dengan sengatan listrik, dan asfiksia ga

  • Minggu, 26 Apr 2026 21:27

    Tampang Pelaku Penembakan di Acara Gedung Putih hingga Sebabkan Trump Dievakuasi

    WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pelaku penembakan saat makan malam koresponden Gedung Putih, Sabtu (25/4/2026), sudah ditangkap. Saat kejadian, T

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.