Minggu, 26 Apr 2026

ISIS Menggunakan Model Serangan Baru

Jumat, 20 Nov 2015 15:04
JAKARTA - Serangkaian teror yang dilakukan kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Paris, Jumat 13 November 2015, menjadi bahan pembelajaran dan antisipasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Teror dengan bom bunuh diri serta tembakan membabi buta dengan AK47 menyebabkan 129 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami cedera berat. Dari peristiwa berdarah itu, BNPT menganalisa teror Paris itu adalah teror model baru yang dilakukan ISIS.

"Dari analisa saya, model teror yang digunakan itu adalah model baru. Mereka mengubah pola teror. Kalau selama ini mereka melakukan teror dan serangan di wilayah yang pendukung ISIS banyak seperti Suriah dan Irak, sekarang mereka menghantam wilayah yang pendukung mereka sedikit, tapi memiliki dampak yang sangat luar biasa," ujar Jurubicara BNPT Prof Dr Irfan Idris MA di Jakarta, Jumat (20/11/2015).

Strategi ISIS ini, lanjut Irfan, adalah bagian dari strategi melebarkan sayap mereka. Pasalnya, saat ini kedudukan mereka di Suriah tengah dibombardir pasukan Rusia, sehingga kalau tidak keluar misi mereka menyebarkan paham-paham ekstrim dan khilafah, sekaligus menebar teror menjadi terbatas. Pasalnya, secara geografis saat ini wilayah ISIS masih terbatas di Suriah dan Irak, bahkan dari sisi personil, mereka juga semakin habis.

"Dari situlah, mereka (ISIS) lantas membalas ke negara-negara yang ikut membombardir mereka melalui pengikut-pengikutnya di negara-negara tersebut. Memang secara jumlah, pengikutnya tidak terlalu banyak di setiap negara, tapi ancaman seperti teror Paris, bisa terjadi di negara-negara lainnya. Target mereka selanjutnya mungkin Italia dan Amerika Serikat," ungkap Irfan Idris yang juga Direktur Deradikalisasi BNPT ini.

Dari analisa itulah, papar Irfan, ancaman ISIS tentu sangat luar biasa. Kalau strategi itu terus mereka mainkan, pasti akan terjadi banyak teror dan ledakan bom di banyak negara yang ada simpatisan ektrimis tersebut (ISIS), termasuk Indonesia. Karena itulah, bangsa Indonesia harus ikut aktif membantu BNPT dan lembaga-lembaga terkait dalam penanggulangan terorisme.

Caranya dengan meningkatkan kewaspadaan, juga hard approach tentang bagaimana memperketat keamanan di tempat-tempat keramaian. Selain itu juga memperketat pengawasan secara massif di lembaga-lembaga pendidikan seperti kampus dan pondok pesantren, yang notabene dihuni anak muda yang mudah dicekokin paham-paham ekstrim.

Irfan juga meminta pemerintah, dalam hal ini langsung Presiden Joko Widodo wajib membuat instruksi ke seluruh komponen bangsa, terkait antisipasi serangan ISIS ke Indonesia. Ini penting karena mau tidak mau, Indonesia telah menjadi 'bagian' ISIS dengan masih adanya 364 WNI yang bergabung dengan ISIS di Suriah. Apalagi dari pernyataan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian yang telah memantau keberadaan kantung-kantung ISIS di Indonesia.

"Meski dianggap rendah atau sedikit, tapi kalau ada dimana-mana, tentu itu akan sangat berbahaya. Mungkin terornya tidak sebesar Paris, tapi itu bisa menjadi pesan bahwa mereka masih ada dan eksis. Dan faktanya jelas seperti kasus Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PSTP) dan Investasi BP Batam Dwi Djoko Wiwoho yang gabung ke ISIS, juga 2 pemuda Indonesia asal Pekanbaru yang ditangkap di Singapura, serta kasus serupa di Korea Selatan," ungkap Irfan.

Terkait salah satu tersangka teror Paris Frederick Salvi alias Ali yang pernah menjadi santri ke Pondok Pesantren Al Jawami, Bandung, Prof Irfan Idris menegaskan bahwa pihaknya sudah mendapat penjelasan dari pimpinan pondok pesantren Al Jawami Kiai Haji Imang Abdul Hamid. Menurutnya, Frederick Salvi di Indonesia hanya sekadar belajar dan silaturahmi biasa dan tidak ada kaitannya dengan aksinya di Paris. 

"Hanya kita khawatirkan ada anak muda Indonesia yang membawa dia ke sini. Bisa saja dia beralasan mau mencari salah satu pesantren dengan alasan belajar, tapi pada akhirnya membawa misi mereka mau menyebarkan paham jihad. Pesantren ini memang harus diproteksi karena rentan anak-anak muda yang nyantri digiring untuk berjihad versi ISIS. Intinya, pesantren harus bisa menyuarakan makna jihad yang sebenarnya dan Islam yang rahmatan lil alamin," pungkasnya.

(okezone.com)
Internasional
Berita Terkait
  • Minggu, 26 Apr 2026 21:27

    Tampang Pelaku Penembakan di Acara Gedung Putih hingga Sebabkan Trump Dievakuasi

    WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pelaku penembakan saat makan malam koresponden Gedung Putih, Sabtu (25/4/2026), sudah ditangkap. Saat kejadian, T

  • Minggu, 26 Apr 2026 21:19

    Geger 3 Juta Data di Sistem eVisa Bocor, Imigrasi: Hoaks!

    JAKARTA - Geger kabar kebocoran sistem e-Visa Indonesia yang menyebabkan bocornya 3 juta data imigrasi. Kabar itu langsung dibantah Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi dan dipastikan hoaks.Hal

  • Minggu, 26 Apr 2026 21:17

    Mensos Tegaskan Kabar Bansos Dikurangi Adalah Hoaks

    JAKARTA - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meminta masyarakat lebih waspada terhadap maraknya narasi hoaks dan informasi menyesatkan terkait bantuan sosial (bansos). Ia meneg

  • Minggu, 26 Apr 2026 20:59

    72 Kloter Diterbangkan ke Saudi, Kemenhaj: 17.747 Jamaah Haji Sudah Tiba di Madinah

    JAKARTA - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyampaikan sebanyak 28.274 jamaah haji dari 72 kelompok terbang (kloter) telah diterbangkan ke Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.747

  • Minggu, 26 Apr 2026 20:56

    Produksi Migas PHI Lampaui Target di Kuartal I-2026

    JAKARTA - PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mencatat kinerja produksi minyak dan gas (migas) di atas target pada kuartal I-2026. Produksi migas PHI bagian Subholding Upstream Pertamina yang menge

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.