Kamis, 07 Mei 2026
  • Home
  • Internasional
  • Kemeriahan Imlek di China Terdampak Kondisi Ekonomi, Banyak Orang Pilih Tak Pulang Kampung

Internasional,

Kemeriahan Imlek di China Terdampak Kondisi Ekonomi, Banyak Orang Pilih Tak Pulang Kampung

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Minggu, 02 Feb 2025 18:16
okezone.com

JAKARTA - Perayaan Tahun Baru Imlek di China selalu berlangsung meriah dan gemerlap, namun untuk tahun ini, suasana tersebut kurang terasa. Hal ini diyakini sebagai dampak dari situasi ekonomi China yang masih terpengaruh oleh dampak buruk pandemi Covid-19, yang salah satunya memicu hilangnya banyak pekerjaan.

Dilansir Financial Post, Minggu, (2/2/2025), kondisi perekonomian China yang masih belum sepenuhnya pulih membuat orang-orang menghabiskan tabungan mereka dengan lebih barhati-hati, salah satunya dengan memiih untuk tidak pulang kampung pada saat Tahun Baru Imlek.

Ini membuat jumlah orang yang bepergian melalui jalan darat, kereta api, dan udara menjadi sangat sedikit. Beberapa pelancong melaporkan bahwa gerbong kereta mereka benar-benar kosong.

Seorang penumpang mendapati dirinya sendirian di gerbong kereta kelas satu saat perjalanan Tahun Baru Imlek, atau biasa juga disebut Festival Musim Semi. Tidak seperti pemandangan ramai tahun-tahun sebelumnya, kereta itu sangat kosong. Kabar yang beredar adalah bahwa tahun ini, mendapatkan tiket kereta cepat secara daring di China untuk pulang kampung saat Tahun Baru Imlek merupakan tantangan. Tetapi begitu mendapat tiket dan naik ke kereta tersebut, para penumpang mendapati gerbong yang hampir kosong.

Festival Musim Semi

Dalam beberapa tahun terakhir, tindakan keras pemerintah China terhadap sektor real estat, platform internet, dan pendidikan telah menghambat pertumbuhan ekonomi, yang menyebabkan stagnasi yang meluas. Pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengangguran yang melonjak kini menjadi hal umum di China. Menjelang Tahun Baru Imlek, banyak warga China yang menghadapi kesulitan keuangan dan keputusasaan, merasa merayakan hari raya itu terasa seperti menghadapi tantangan berat, bukan acara yang meriah.

Karena mahalnya harga tiket Kereta Cepat, banyak buruh di China memilih kereta "warna hijau" yang lebih terjangkau, meski perjalanannya lebih melelahkan. Video viral menggambarkan kereta-kereta ini penuh sesakâ€"setiap kursi terisi, orang-orang berdesakan di lorong, dan bahkan toilet penuh sesak. Sebaliknya, gerbong kereta cepat bersih, tetapi sebagian besar kosong, yang menyoroti perbedaan mencolok dalam pengalaman perjalanan.

Perbedaan mencolok ini disebabkan tiket kereta cepat lebih mahal tiga hingga empat kali lipat daripada tiket biasa. Untuk mempromosikan kereta cepat, pemerintah China telah mengurangi layanan kereta warna hijau, yang mengakibatkan kondisi kereta yang penuh sesak.

Dulu, pulang kampung untuk merayakan Festival Musim Semi di China adalah momen menggembirakan. Namun, kini percakapan didominasi pengangguran, kesulitan keuangan, dan tidak adanya keceriaan perayaan.

Banyak warga China berusia di atas 35 tahun merasa hampir mustahil untuk mendapatkan pekerjaan karena batasan usia dalam daftar lowongan pekerjaan. Hal ini membuat mereka enggan melamar. Akibatnya, banyak yang memilih untuk tidak pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru, karena tidak mampu menghadapi orang tua mereka eka. Acara yang dulunya penuh perayaan kini dibayangi oleh kesulitan ekonomi dan keputusasaan.

Statistik menunjukkan bahwa kaum muda China menghabiskan antara 5.000 hingga 10.000 Yuan (sekira Rp11 juta hingga Rp22 juta) setiap kali mereka pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru Imlek, yang setara dengan gaji sebulan bagi sebagian orang.

Pengeluaran yang besar ini mendorong banyak warga China untuk tidak melakukan perjalanan sama sekali. Mereka ingin menghemat uang dan beristirahat, tetapi pada kenyataannya, ingin menghindari pengeluaran besar dan kewajiban sosial. Pada akhirnya, mereka kembali bekerja, dan merasa kelelahan secara mental serta finansial.

Lanskap Ekonomi China

Meski tidak menerima gaji selama berbulan-bulan, banyak pekerja di China menolak untuk berhenti dari pekerjaan mereka, dengan berpegang teguh pada secercah harapan asalkan tidak menganggur. Mereka percaya bahwa tetap bekerja menawarkan daya tawar yang lebih baik untuk masa depan.

Berhenti bekerja, di tengah ketidakpastian ekonomi, bisa berarti tidak mendapatkan pekerjaan dalam waktu dekat. Ketakutan ini membuat mereka tetap bertahan, bahkan saat kesulitan keuangan meningkat, menyoroti sifat pasar kerja saat ini yang tidak menentu. Keengganan mereka untuk berhenti menggarisbawahi kebutuhan mendesak mereka akan stabilitas di masa yang tidak pasti.

Pada 17 Januari, Biro Statistik Nasional China mengumumkan bahwa Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara itu tumbuh sebesar 5 persen pada 2024, melampaui 130 triliun yuan untuk pertama kalinya. Para pejabat menggembar-gemborkan China sebagai ekonomi terbesar kedua secara global, berkontribusi 30 persen terhadap pertumbuhan ekonomi global dan berfungsi sebagai pendorong utama ekspansi ekonomi. Namun, pengumuman ini disambut dengan skeptisisme dan sarkasme yang meluas di media sosial China.

Seorang warganet China berkomentar di media sosial, “Ke mana perginya 5 persen itu? Saya dan teman-teman saya secara kolektif telah kehilangan setidaknya 50 persen dari pendapatan kami, bahkan mungkin lebih. Jadi, ke mana perginya 5 persen itu?â€

Sentimen ini mencerminkan kesenjangan yang semakin besar antara statistik resmi dan pengalaman hidup masyarakat di tengah tantangan ekonomi. Hingga 18 Januari, data dari penyedia layanan Wind asal China mengungkapkan bahwa lebih dari 900 perusahaan yang terdaftar telah menerbitkan prakiraan kinerja mereka untuk tahun 2024. Di antara perusahaan-perusahaan tersebut, lebih dari 54 persen mengantisipasi kerugian, sementara hanya 22 persen yang mengharapkan pertumbuhan.

Kontras yang mencolok ini menggarisbawahi dampak negatif yang mendalam dari kebijakan pemerintah China dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang melanda negara tersebut. Angka-angka itu menggambarkan gambaran suram dari lanskap ekonomi China, menyoroti tantangan yang semakin besar dan menurunnya kepercayaan di kalangan pelaku bisnis. Berbagai langkah antisipasi kerugian mencerminkan luasnya gejolak ekonomi serta kebutuhan mendesak akan adanya intervensi kebijakan yang efektif.

Sumber: okezone.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.