Kamis, 11 Jun 2026

Obama Akui AS Penyebab Masalah Perubahan Iklim

Selasa, 01 Des 2015 15:47
VOA News
Presiden Amerika Serikat Barrack Obama berpidato dalam KTT Perubahan Iklim di Paris.
PARIS – Dalam pidatonya di pembukaan KTT Perubahan Iklim (COP21) di Paris, Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama mengakui bahwa negaranya bertanggungjawab atas bencana perubahan iklim.

"Saya datang sebagai pemimpin negara dengan perekonomian terbesar di dunia dan emitor kedua terbesar untuk menyatakan bahwa AS tidak hanya menyadari perannya sebagai pembuat masalah. Kami juga bertanggungjawab untuk mengatasinya," ujarnya seperti dikutip dari CNN, Selasa (1/12/2015).

Menurutnya, kesungguhan itu telah ditunjukkan selama tujuh tahun terakhir. AS gencar melakukan investasi atas teknologi ramah lingkungan. Negara adidaya ini juga mengklaim ambisius mengurangi emisi karbonnya.

"Kami telah meningkatkan penggunaan tenaga angin sampai tiga kali lipat, dan tenaga surya lebih dari dua puluh kali. Pemanfaatan sumber daya ini, selain lebih murah juga lebih bersih, serta membantu AS mendayakan listrik konvensional," ucap Obama.

"Kami mengatakan tidak untuk infrastruktur yang akan menyedot bahan bakar fosil tinggi karbon dari tanah. Kami sudah mengatakan iya untuk pertama kalinya terkait penetapan standard nasional membatasi jumlah polusi karbon pembangkit listrik yang dapat kami lepaskan ke langit," tambahnya.

Berdasarkan grafik agensi milik PBB, level karbon dioksida Bumi, perlahan tapi pasti mengalami kenaikan 400 ppm per tahunnya sejak 1984. Dengan rata-rata tingkat karbon dioksida 397,7 ppm pada 2014 dan masih terus naik di awal 2015.

Kondisi ini diperparah oleh El Nino dalam konsentrasi yang lebih tinggi. Akibatnya, emisi gas rumah kaca dunia mencapai titik tertinggi pada 2015.

Dilaporkan Reuters, melalui Scientific American, China dan AS merupakan negara penyumbang emisi terbesar di dunia. Untuk itu, mereka berlomba-lomba dengan 150 negara lainnya untuk menjalankan program mengatasi emisi hingga 2020.

Sayangnya, program yang dijalankan selama ini gagal. Sebab tak memenuhi target pengurangan emisi pada 2010 sebesar 3 derajat celcius.

(okezone.com)
Internasional
Berita Terkait
  • Kamis, 11 Jun 2026 16:43

    PTPN IV Tuntaskan Penanaman 9.000 Pohon di Bumi Lancang Kuning

    PEKANBARU-PTPN IV melalui entitasnya di Riau, PTPN IV Regional III menuntaskan penanaman sedikitnya 9.000 bibit pohon di berbagai wilayah operasional sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mend

  • Kamis, 11 Jun 2026 16:39

    Latsar CPNS Meranti Dimulai, Ratusan Calon ASN Ditempa Jadi Pelayan Publik Berintegritas

    SELATPANJANG â€" Sebanyak 177 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti mulai menjalani tahapan penting dalam perjalanan mereka menuju Aparatur Sipil Negar

  • Kamis, 11 Jun 2026 16:35

    Dapur MBG SPPG Umban Sari 02 Pekanbaru Hentikan Operasional Sementara, Diduga Terkendala Pencairan Dana

    Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Umban Sari 02 Pekanbaru yang melayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara mulai Kamis (11/6/2026).Informasi penghentian sementara

  • Kamis, 11 Jun 2026 15:53

    Kejari Kuansing Ringkus Buronan Korupsi 8 Tahun di Loteng Rumah Istri

    KUANSING â€" Setelah buron selama delapan tahun, Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus tindak pidana korupsi penyimpangan dana bantuan sertifikat tanah pola KKPA dari PTPN V kepada Koperasi Petani Siampo

  • Kamis, 11 Jun 2026 15:51

    SPP UPMS I: Kenaikan Pertamax Menjadi Alarm bagi Penguatan Kedaulatan Energi Nasional

    PEKANBARU - Serikat Pekerja Pertamina Unit Pemasaran I (SPP UPMS I) memandang kenaikan harga Pertamax yang dalam periode tertentu telah mencapai lebih dari 30 persen sebagai pengingat penting bahwa se

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.