Pengungsi dan migran menunggu untuk diselamatkan oleh LSM Spanyol Proactiva Open Arms di atas sebuah kapal karet, 60 mil sebelah utara Al -Khum, Libya (18/2). Para pengungsi dan migran ini meninggalkan Libya untuk ke Eropa.
Amsterdam - Dewan Keamanan PBB menyetujui sanksi hukum internasional, terhadap enam orang pemimpin sindikat penyelundupan imigran ilegal yang beroperasi di Libya.
Enam orang yang masuk daftar hitam tersebut terdiri dari empat warga
negara Libya, dan dua orang asal Eritrea. Salah satu tersangka tercatat
berprofesi sebagai kepala unit penjaga pantai regional.
Dikutip dari BBC pada Jumat (8/6/2018), para penyelundup
telah memanfaatkan situasi tidak aman di Libya, untuk memindahkan
ratusan ribu imigran gelap melalui perjalanan laut menuju Eropa.
PBB menyebut banyak imigran ilegal yang terjebak di pusat-pusat penampungan sementara, dan kerap mengalami tindak kekerasan dari para penyelundup manusia.
Keenam pemimpin sindikat penyelundupan manusia itu dijatuhi sanksi
internasional hasil persetujuan "proposal Belanda", yakni di antaranya
berupa larangan perjalanan lintas negara dan pembekuan seluruh aset
kekayaan.
Sanksi tersebut awalnya akan resmi dijatuhkan pada awal Mei lalu,
namun tertahan karena Rusia --sebagai salah satu anggota tetap DK PBB--
berupaya memeriksa sendiri bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh
keenam tersangka.
Penetapan sanksi hukum tersebut merupakan yang pertama kali, di mana merupakan buntut dari laporan video CNN pada 2017, yang menunjukkan pelelangan imigran ilegal sebagai budak di Libya.
"Musim gugur tahun lalu, video tentang jual beli imigran sebagai
budak, sangat mengejutkan hati nurani kami, dan Dewan Keamanan berjanji
untuk mengambil tindakan tegas," kata Nikki Haley, utusan AS ke PBB.
Sementara
itu, di antara enam orang yang dijatuhi sanksi internasional itu,
muncul nama Ernias Ghermay, yang oleh PBB disebut sebagai "salah satu
aktor penting dalam pusaran perdagangan manusia di kawasan sub-Sahara."
Lima lainnya adalah Fitiwi Abdelrazak dari Eritrea, pemimpin milisi
Libya Ahmad Oumar al-Dabbashi, Musab Libya Abu-Qarin, Libya Mohammed
Kachlaf, kepala brigade di Libya barat Syuhada al Nasr di Zawiya, dan
pemimpin penjaga pantai Libya regional Abd al Rahman al-Milad.
Dalam beberapa tahun terakhir, Libya telah menjelma sebagai rujukan
utama para imigran gelap asal Afrika, untuk menyeberang ke Eropa.
Negara itu terus mengalami kekacauan politik dan keamanan, pasca penggulingan berdarah diktator Moammar Khadafi pada 2011 silam.
Laporan dari Uni Afrika mengatakan bahwa hingga Desember lalu,
tercatat antara 400.000 hingga 700.000 imigran yang tertahan di lebih
dari 40 kamp di Libya, di mana cukup banyak di antaranya mendapat
perlakuan tidak manusiawi.
Di saat bersamaan, Organisasi Internasional Migrasi (IMO) mencatat
lebih dari 3.100 kasus imigran tewas di tengah upaya menyeberang lautan,
dari Libya menuju Eropa.
(Liputan6.com)
Internasional