- Home
- Internasional
- Perempuan Turki Protes Pemisahan Kawasan Pria-Perempuan di Masjid
Internasional
Perempuan Turki Protes Pemisahan Kawasan Pria-Perempuan di Masjid
Senin, 11 Jun 2018 14:17
Berawal pada bulan Maret lalu, seorang perempuan dikeluarkan dari masjid karena menentang aturan tersebut.
Perempuan itu tak terima, dan menolak untuk tinggal diam: dia pun mengajak kawan-kawannya untuk melakukan gerakan yang memprotes diskriminasi area beribadah di masjid.
Lalu muncullah gerakan 'Perempuan di Masjid' untuk menentang pemisahan antara laki-laki dan perempuan di tempat salat di masjid.
Sejumlah perempuan di Istanbul menggelar protes di berbagai masjid, mereka memprotes aturan tabir atau pembatas dan area khusus bagi perempuan untuk beribadah.
"Ketika Anda salat dan berdoa di area khusus tanpa melihat imam atau jemaah lainnya Anda merasa terisolasi dari komunitas Anda sendiri," tutur Zeyne, salah seorang mahasiswi.
Sekitar 40 perempuan berkumpul di satu masjid dan salat di ruang utama bersama makmum pria, dan mereka melancarkan kampanye "Perempuan di Masjid."
Eslem, seorang mahasiswi lainnya mempermasalahkan: bahwa di luaran kaum perempuan bisa belajar dan bekerja bersama kaum laki-laki, tapi ketika di masjid mereka (kaum perempuan) ditempatkan di bagian belakang.
"Saya bisa duduk bersebelahan dengan laki-laki di mana saja," katanya. Bisa di kantor, di angkutan umum, di tempat kuliah, di berbagai kegiatan. "Tetapi situasi itu berubah di masjid," katanya.
"Terkadang
saya tidak bisa menemukan tempat untuk salat dan tidak menikmati
suasana masjid. Tidak seperti kaum pria, saya tidak bisa merasakan
semangat beribadat berjamaah," tambahnya.
Gerakan "Perempuan di Masjid" ini, disambut positif oleh kaum perempuan di Istanbul, Sena, salah satunya mengungkapkan dirinya tidak berharap semua berubah secara instan, dia yakin suatu saat orang-orang akan melihat gerakan itu dengan lebih positif.
Kendati demikian dia mengutarakan akan ada beberapa kalangan yang tidak sepakat atau keberatan dengan gagasan kampanye ini.
Dan benar saja, apa yang dikhawatirkan Sena memang nyata.
Salah satu keberatan itu datang dari kolumnis pro pemerintah, Hilal Kaplan.
"Saya tak paham mengapa ada yang memprotes hal itu," katanya.
Dia berpendapat, bahwa perempuan harus menyadari bahwa mereka memiliki hak 'melihat tanpa terlihat,' yang menurutnya membuat perempuan 'lebih berkuasa' daripada kaum pria.
"Menjadi berdaya dan berkuasa itu adalah menjadi subyek, bukan menjadi obyek," katanya.
(detik.com)
Internasional
Salurkan Beasiswa Nasional, Langkah BNI Dukung Pemerataan Pendidikan
JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus memperkuat komitmennya terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, sejalan dengan semangat Hari Pendidikan Nasional (Har
Harga BBM BP dan Vivo Naik Jadi Rp30.890 per Liter di Mei 2026, Pertamina Kapan?
JAKARTA - Harga BBM di SPBU swasta seperti Vivo dan BP naik pada 1 Mei 2026. SPBU Vivo dan BP kompak menaikkan harga BBM menjadi Rp30.890 per liter.Vivo menaikkan harga BBM jenis Primus Diesel Pl
Menko Yusril Tegaskan Fungsi Komnas HAM Tak Bisa Diambil Pemerintah
JAKARTA â€" Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa posisi Komnas HAM harus diperkuat. Ia menilai fungsi pengawasan dan penegak
23 Calon Jemaah Haji Gagal Berangkat, Ketahuan Pakai Visa Nonprosedural
JAKARTA â€" Direktorat Jenderal Imigrasi kembali menunda keberangkatan calon jemaah haji asal Indonesia yang menggunakan visa nonprosedural. Kali ini, sebanyak 23 orang dicegah berangkat saat hen
May Day di Jakarta, Ratusan Aktivis hingga Pejabat Negara Serukan Kesejahteraan Buruh
JAKARTA - Ratusan aktivis lintas generasi, tokoh nasional, serta sejumlah pejabat pemerintahan menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional yang digelar di Jakarta, Jumat 1 Mei 2026.Kegiatan te