- Home
- Internasional
- Runtuhnya dominasi Amerika berkedok penjaga moral dunia
Internasional
Runtuhnya dominasi Amerika berkedok penjaga moral dunia
Jumat, 06 Apr 2018 10:21
Dalam kolom opininya di laman Aljazeera, Senin (2/4), Amor menuturkan, Amerika mulai terlibat dengan persaingan kekuasaan dunia pada akhir abad ke-19. Hingga awal abad 20 Amerika tidak punya alasan untuk menjaga moral dan mengikuti aturan hukum dalam mengejar kepentingannya di panggung dunia. Saat itu Amerika merasa bebas untuk menyerang dan menghancurkan musuh-musuhnya asalkan tidak menyinggung dominasi negara kuat Eropa. Namun keadaan ini berubah setelah Perang Dunia Kedua.
Ketika terlibat perang bersama Inggris, propaganda AS menampilkan konsep perang ideologi secara sederhana: Inggris dan Amerika berperang demi 'mempertahankan demokrasi' di seantero dunia.
Ketika pasukan sekutu memenangkan perang, narasi tentang kekejaman Nazi Jerman dan Jepang menjadi narasi dominan dalam konflik di panggung dunia dan menjadi pintu gerbang lahirnya era baru. Akhir Perang Dunia Kedua dengan kekalahan Nazi Jerman sekaligus menyudahi dominasi tatanan dunia yang berpusat pada Eropa.

Selama masa Perang Dingin Amerika selalu menampilkan diri sebagai negara penjaga moral, kali ini melawan kekuatan komunis. Selain upaya propaganda, tindakan AS di seantero dunia, dari mulai Asia Tenggara hingga Amerika Latin, di masa ini memperlihatkan legitimasi moral yang ditampilkan AS hanyalah kedok. Namun dengan memperlihatkan Uni Sovyet sebagai ancaman paling berbahaya bagi tatanan dunia baru, AS berhasil meyakinkan para sekutunya bahwa mereka bertindak demi kebaikan. Setelah jatuhnya Uni Sovyet, AS masih melanjutkan strateginya sebagai penjaga moral dalam hubungan internasional sembari terus mengejar kepentingannya yang pada saat itu tanpa pesaing berarti.
Di abad ke-21 kedok AS sebagai penguasa moral makin nyata ketika Presiden George W Bush mengumumkan Operasi Pembebasan Irak pada Maret 2003 dengan alasan Irak memiliki senjata pemusnah massal dan melakukan pelanggaran berat hak asasi.
Tapi seperti diketahui dunia saat ini, klaim bahwa Irak punya senjata pemusnah massal ternyata hanya kebohongan. Seiring berjalannya waktu, warga dunia kian paham ketika AS menyerang negara berdaulat dengan alasan demi membawa kemerdekaan, kebebasan, dan demokrasi, sebenarnya Negeri Paman Sam hanya ingin mengejar kepentingan nasionalnya.
Amerika berusaha meyakinkan komunitas internasional bahwa mereka sedang berperang demi moral dan keadilan. Namun peran penjaga moral yang ditampilkan AS setelah menang dalam Perang Dunia Kedua kini kian memudar. Setelah perang di Semenanjung Korea, Vietnam, Irak, dan Afghanistan citra Amerika saat ini makin merosot. Hari ini kekuatan militer AS boleh jadi masih yang terkuat dan terbaik di dunia, namun AS sudah kehilangan pengakuan sebagai negara penjaga moral. Internasional
BC Bengkalis Gagalkan Penyelundupan 652 iPhone Bekas Ilegal dari Malaysia
BENGKALIS â€" Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Bengkalis berhasil menggagalkan upaya masuknya 652 unit handphone bekas merek iPhone ilegal melalui Pelabuhan Pe
Polisi Ungkap Kasus Narkotika 500 Gram di Pangkalan Kuras Pelalawan
PELALAWAN â€" Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polres Pelalawan mengungkap kasus peredaran narkotika jenis sabu di Dusun II Seimedang, Desa Kesuma, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Rab
65 Personel Polres Rokan Hilir Naik Pangkat, Kapolres: Jadikan Amanah untuk Tingkatkan Kinerja dan Pelayanan
TANAHPUTIH-Sebanyak 65 personel Polres Rokan Hilir menerima kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dalam Upacara Laporan Kenaikan Pangkat Personel Polres Rokan Hilir Periode 1 Juli 2026. Upacara berl
Taspen dan Kemenag RI Integrasikan Data Pernikahan untuk Permudah Layanan ASN
PT TASPEN (Persero) menjalin kerja sama dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang
Ditangkap KPK, Bupati Langkat Diduga Terima Suap Proyek
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Langkat, Syah Afadin dalam rangkaian Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Sumatera Utara, Kamis (2/7/2026).Syah Afadin diamankan bersama enam orang lainn