- Home
- Internasional
- Setidaknya 15 WNI Jadi Tahanan Pemberontak Kurdi di Suriah
Setidaknya 15 WNI Jadi Tahanan Pemberontak Kurdi di Suriah
Selasa, 27 Feb 2018 11:36
SETIDAKNYA 15 perempuan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga telah bergabung dengan kelompok militan ISIS dilaporkan telah ditahan oleh pasukan pemberontak Kurdi di Suriah. Informasi itu diungkap oleh pajabat dari organisasi hak asasi manusia yang mengunjungi kamp tahanan Kurdi bulan lalu.
"Saya tahu ada warga Indonesia, setidaknya 15 keluarga," kata Direktur Program Teorisme dan Kontra Terorisme Human Rights Watch, Nadim Houry sebagaimana dikutip Free Malaysia Today, Selasa (27/2/2018).
"Kebanyakan
keluarga memiliki anak, jadi meski saya tidak memiliki detail mengenai
keluarga ini, kecurigaan saya, ya mereka memiliki anak," ujarnya.
Para
perempuan Indonesia yang ditahan adalah sebagian dari 800 perempuan dan
anak-anak yang ditahan oleh pasukan Kurdi di empat kamp di Suriah.
Mereka berasal dari sekira 40 negara termasuk Kanada, Jerman, Tunisia,
Prancis dan Turki.
Mereka diberikan kebebasan yang cukup namun
tidak diizinkan untuk meninggalkan kamp. Para perempuan itu juga
dipisahkan dari militan ISIS yang ditahan oleh pasukan pemberontak
Kurdi.
Beberapa perempuan yang diwawancara oleh Houri
mengatakan, mereka telah "dipukuli dan dipermalukan" selama interogasi
dan hidup dalam kondisi yang tidak higienis bersama bayi-bayi
mereka.Kondisi ini, menurut Houri, membuat para perempuan ingin kembali
ke negara mereka meski menghadapi ancaman tuntutan kriminal karena
bergabung dengan ISIS.
"Wanita-wanita ini berada dalam situasi
yang sangat sulit. Bagi anak-anak kecil, terutama, keadaannya sama
sekali tidak baik," jelasnya.
"Beberapa perempuan ingin
setidaknya mengirim anak-anak mereka pulang. Anak-anak tidak melakukan
kejahatan apapun. Mereka adalah korban perang, dan seringkali korban
dari orang tua mereka yang radikal."
Direktur Perlindungan Warga
Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar
Negeri, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum
bisa menemui para WNI tersebut. Dia menjelaskan bahwa situasi saat ini
tidak memungkinkan untuk melakukan pertemuan.
"Berdasarkan
informasi yang didapat, mereka mengaku WNI. Tapi, kami belum bisa cek ke
sana karena situasi yang berbahaya. Berdasarkan informasi yang kami
dapatkan juga, mereka memang ingin bergabung dengan ISIS," kata Iqbal
kepada media.
Situasi yang berlangsung di Suriah juga tidak memungkinkan Kedutaan
Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriah untuk memberikan bantuan
kemanusiaan kepada para WNI yang ditahan.
"Kami memang tidak bisa memberikan bantuan kemanusiaan, karena situasi tidak memungkinkan," jelasnya.
(okezone.com)
Internasional
Rusia Kembangkan Vaksin Kanker Baru, Pengujian Awal Diklaim 100% Sukses
Rusia telah meluncurkan EnteroMix, sebuah vaksin perawatan kanker baru yang dilaporkan menunjukkan efikasi 100 persen dalam uji klinis awal. EnteroMix dikembangkan dengan teknologi yang mirip dengan v
Transformasi Wanita AS usai Operasi Peninggi Badan, dari 117 Cm Jadi 151 Cm
Chandler Crews (31) di Maryland, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya menjalani operasi peninggi badan yang kontroversial. Crews lahir dengan kondisi genetik langka anchondroplasia, yang membuat
Badai Dahsyat Tapah Dekati Hong Kong Picu Penutupan Bisnis dan Sekolah
Hong Kong menutup sekolah dan banyak bisnis pada Senin (8/9/2025) karena Badai Tropis Tapah yang membawa angin kencang dan hujan lebat, mendekati wilayah tersebut dalam jarak 170 km. Badai itu memenga
Jepang Gelar Upacara Perayaan Usia Dewasa Pangeran Hisahito
Jepang menyelenggarakan upacara perayaan usia dewasa bagi Pangeran Hisahito, anggota keluarga kekaisaran pria pertama yang resmi mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.Pangeran Hisahito, yang me
Trump Keluarkan ‘Peringatan Terakhir’ untuk Hamas Soal Kesepakatan Sandera
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap Hamas, mendesak kelompok militan Palestina itu agar menerima kesepakatan pembebasan sandera dari Gaza.“Israel telah mener