Senin, 04 Mei 2026

Setidaknya 15 WNI Jadi Tahanan Pemberontak Kurdi di Suriah

Selasa, 27 Feb 2018 11:36

SETIDAKNYA 15 perempuan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga telah bergabung dengan kelompok militan ISIS dilaporkan telah ditahan oleh pasukan pemberontak Kurdi di Suriah. Informasi itu diungkap oleh pajabat dari organisasi hak asasi manusia yang mengunjungi kamp tahanan Kurdi bulan lalu.

"Saya tahu ada warga Indonesia, setidaknya 15 keluarga," kata Direktur Program Teorisme dan Kontra Terorisme Human Rights Watch, Nadim Houry sebagaimana dikutip Free Malaysia Today, Selasa (27/2/2018).


"Kebanyakan keluarga memiliki anak, jadi meski saya tidak memiliki detail mengenai keluarga ini, kecurigaan saya, ya mereka memiliki anak," ujarnya.

Para perempuan Indonesia yang ditahan adalah sebagian dari 800 perempuan dan anak-anak yang ditahan oleh pasukan Kurdi di empat kamp di Suriah. Mereka berasal dari sekira 40 negara termasuk Kanada, Jerman, Tunisia, Prancis dan Turki.

Mereka diberikan kebebasan yang cukup namun tidak diizinkan untuk meninggalkan kamp. Para perempuan itu juga dipisahkan dari militan ISIS yang ditahan oleh pasukan pemberontak Kurdi.

Beberapa perempuan yang diwawancara oleh Houri mengatakan, mereka telah "dipukuli dan dipermalukan" selama interogasi dan hidup dalam kondisi yang tidak higienis bersama bayi-bayi mereka.Kondisi ini, menurut Houri, membuat para perempuan ingin kembali ke negara mereka meski menghadapi ancaman tuntutan kriminal karena bergabung dengan ISIS.

"Wanita-wanita ini berada dalam situasi yang sangat sulit. Bagi anak-anak kecil, terutama, keadaannya sama sekali tidak baik," jelasnya.

"Beberapa perempuan ingin setidaknya mengirim anak-anak mereka pulang. Anak-anak tidak melakukan kejahatan apapun. Mereka adalah korban perang, dan seringkali korban dari orang tua mereka yang radikal."

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum bisa menemui para WNI tersebut. Dia menjelaskan bahwa situasi saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan pertemuan.

"Berdasarkan informasi yang didapat, mereka mengaku WNI. Tapi, kami belum bisa cek ke sana karena situasi yang berbahaya. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan juga, mereka memang ingin bergabung dengan ISIS," kata Iqbal kepada media.

Situasi yang berlangsung di Suriah juga tidak memungkinkan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Suriah untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada para WNI yang ditahan.

"Kami memang tidak bisa memberikan bantuan kemanusiaan, karena situasi tidak memungkinkan," jelasnya.

(okezone.com)

Internasional
Berita Terkait
  • Senin, 08 Sep 2025 16:24

    Rusia Kembangkan Vaksin Kanker Baru, Pengujian Awal Diklaim 100% Sukses

    Rusia telah meluncurkan EnteroMix, sebuah vaksin perawatan kanker baru yang dilaporkan menunjukkan efikasi 100 persen dalam uji klinis awal. EnteroMix dikembangkan dengan teknologi yang mirip dengan v

  • Senin, 08 Sep 2025 16:09

    Transformasi Wanita AS usai Operasi Peninggi Badan, dari 117 Cm Jadi 151 Cm

    Chandler Crews (31) di Maryland, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya menjalani operasi peninggi badan yang kontroversial. Crews lahir dengan kondisi genetik langka anchondroplasia, yang membuat

  • Senin, 08 Sep 2025 13:37

    Badai Dahsyat Tapah Dekati Hong Kong Picu Penutupan Bisnis dan Sekolah

    Hong Kong menutup sekolah dan banyak bisnis pada Senin (8/9/2025) karena Badai Tropis Tapah yang membawa angin kencang dan hujan lebat, mendekati wilayah tersebut dalam jarak 170 km. Badai itu memenga

  • Senin, 08 Sep 2025 10:40

    Jepang Gelar Upacara Perayaan Usia Dewasa Pangeran Hisahito

    Jepang menyelenggarakan upacara perayaan usia dewasa bagi Pangeran Hisahito, anggota keluarga kekaisaran pria pertama yang resmi mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.Pangeran Hisahito, yang me

  • Senin, 08 Sep 2025 09:32

    Trump Keluarkan ‘Peringatan Terakhir’ untuk Hamas Soal Kesepakatan Sandera

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap Hamas, mendesak kelompok militan Palestina itu agar menerima kesepakatan pembebasan sandera dari Gaza.“Israel telah mener

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.