Rabu, 10 Jun 2026

Perut Makin Besar, Ini Bahaya yang Mengintai

Rabu, 28 Okt 2015 14:43
Ilustrasi: Shutterstock
Makin besar perut, makin besar pula risiko terkena penyakit berbahaya
KECUALI ibu hamil, ciri perut membesar khas dengan kegemukan. Obesitas atau kegemukan merupakan keadaan berlebihnya lemak tubuh. Dan salah satu bagian paling mudah bertumpuknya lemak adalah perut.

Menurut ulasan dr. Alvin Nursalim, obesitas adalah sebuah keadaan berlebihnya lemak tubuh. Keadaan ini merupakan sebuah kelainan multifaktor, diantaranya faktor genetik dan lingkungan.

Dalam praktik sehari-hari, pengukuran obesitas menggunakan pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) yang berhubungan dengan kadar lamak tubuh. IMT di dapat dengan rumus berat badan dalam kilogram, dibagi kuadrat dari tinggi badan (meter kuadrat).

Untuk wilayah Asia Pasifik, kriteria dan klasifikasi obesitas berdasarkan nilai IMT dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Apa bahaya obesitas?

Umumnya individu obes memiliki tumpukan lemak sekitar perut atau kita kenal dengan perut buncit. Penumpukan lemak perut ini merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung. Selain itu individu obes cenderung memiliki berbagai faktor risiko metabolik lain seperti tekanan darah tinggi, kelainan lemak darah dan gangguan gula darah.

Semua faktor risiko ini akan meningkatkan risiko seorang pasien untuk menderita berbagai penyakit seperti penyakit jantung dan pembuluh darah otak.

Mengapa obesitas cenderung meningkat?

Obesitas disebabkan oleh berbagai faktor. Genetik tak pelak merupakan faktor kuat penyebab obesitas, namun lingkungan juga berperan penting dalam peningkatan kasus obesitas akhir-akhir ini. Angka obesitas cenderung mengalami peningkatan karena lingkungan dunia yang cenderung menjadi "obesogenic".

Lingkungan "obesogenic" merupakan sebuah keadaan pola hidup sedenter, dan maraknya makanan berkalori tinggi. Pola hidup sedenter adalah pola hidup yang minim aktivitas, tidak berolahraga dan konsumsi makanan tinggi kalori. Terlebih kini jaringan waralaba makanan berkalori tinggi menjamur dimana-mana.

Bagaimana penanganan obesitas?

Langkah pertama untuk menangani obesitas adalah dengan melakukan perubahan pola makan. Untuk memberikan terapi diet yang optimal, maka komposisi diet harus dirancang per individu. Defisit kalori sebanyak 500 hingga 1000 kilokalori (kkal) per hari dari kebutuhan kalori individu obes dapat dilakukan, hal ini untuk mencapai penurunan berat badan yang adekuat. Total lemak yang diberikan harus kurang dari 30 persen kebutuhan kalori.

Karbohidrat mencakup 55-65 persen dari kebutuhan energi total, sedangkan protein sekitar 15 persen dari kalori total. Individu obes harus dimotivasi untuk meningkatkan konsumsi buah segar dan sayuran.

Selain itu, peningkatan aktivitas fisik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program penurunan berat badan. Untuk pasien obes, aktivitas fisik harus dimulai secara bertahap dan intensitasnya ditingkatkan secara bertahap. Pasien dapat memulai aktivitas fisik dengan berjalan 30 menit sebanyak 3 kali seminggu dan ditingkatkan menjadi 45 menit sebanyak 5 kali seminggu.

Satu hal yang pasti bahwa obesitas dapat dicegah. Pengaturan pola makan dan olah raga rutin merupakan ujung tombak penanganan obesitas. Bayangkan jika dunia tenggelam dalam kasus obesitas, maka komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah otakpun akhirnya akan meningkat.

Bukanlah tidak mungkin jika fenomena peningkatan kasus obesitas ini berlanjut, maka dunia akan lumpuh karena dipenuhi pasien dengan penyakit jantung, otak atau penyakit kompliasi kegemukan lainnya.

Jumlah kasus obesitas di dunia sangat mencengangkan. Saat ini diperkirakan terdapat 250 juta orang di dunia dengan berat badan berlebih, dan angka ini diprediksikan terus meningkat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010, prevalensi obesitas diatas umur 18 tahun adalah 21,7 persen. Jumlah kasus obesitas di Indonesia juga cenderung meningkat.

Obesitas berbahaya karena meningkatkan risiko individu obes untuk menderita berbagai penyakit, seperti jantung dan pembuluh darah otak.

(okezone.com)
kesehatan
Berita Terkait
  • Rabu, 10 Jun 2026 14:50

    Wamendagri Ribka Haluk: Pendidikan Kunci Tingkatkan Kualitas SDM Menuju Indonesia Emas 2045

    Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Ribka Haluk menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Menurutnya, pembangunan infrastr

  • Rabu, 10 Jun 2026 14:05

    Iran Balas AS, Serang Pangkalan Militer di Yordania, Bahrain dan Kuwait

    Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah melakukan serangan terhadap beberapa pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Tindakan

  • Rabu, 10 Jun 2026 13:57

    Satgas Dorong Sinkronisasi Pusat dan Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana Sumatra

    Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah di Provinsi Aceh untuk menyinkronkan seluruh progr

  • Rabu, 10 Jun 2026 13:26

    BMKG Keluarkan Peringatan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Sejumlah Perairan Indonesia

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia. Fenomena ini diperkirakan berlangsung dari tang

  • Rabu, 10 Jun 2026 13:16

    Gagalkan Penyelundupan 70 Kg Sabu, Kapolda Sulsel Waspadai Munculnya Narkoba Jenis Baru

    Jajaran Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan mengungkap peredaran narkotika jenis sabu dengan total barang bukti mencapai 70 kilogram serta menangkap sekitar 1.178 tersangka dalam kurun waktu enam bulan

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.