(FotoGoriau.com)
PEKANBARU â€" Ekosistem gambut dan mangrove di Provinsi Riau, memegang peranan sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim global. Namun saat ini, kondisi kedua ekosistem itu juga memprihatinkan. Hal itu tak terlepas akibat dampak berbagai hal. Seperti degradasi, konversi lahan, hingga permasalahan sosial ekonomi di tingkat tapak.
“Peran keduanya sangat krusial dalam penyimpanan karbon. Gambut di dunia hanya mencakup sekitar tiga persen luas daratan, tetapi menyimpan hampir 30 persen karbon bumi,” ujar Dr. Sigit Sutikno dari Pusat Unggulan Iptek (PUI) Gambut Universitas Riau, Selasa (3/2/2026).
Sementara mangrove mampu menyimpan dan menyerap karbon hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan, tambah Sigit. Dijelaskannya, gambut dan mangrove merupakan bagian dari ekosistem lahan basah (wetlands ecosystem) yang umumnya berada di wilayah dataran rendah.
Sekitar 65 persen wilayah Riau merupakan kawasan lowland, sehingga kedua ekosistem ini berkembang luas dan memiliki potensi yang sangat besar.
Namun kondisi gambut dan mangrove di Riau saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Banyak masalah yang kini mengancam kelestariannya. Seperti konversi lahan menjadi perkebunan, permukiman, hingga pemanfaatan kayu untuk bahan bangunan dan arang. Degradasi ini meningkatkan risiko kebakaran, subsidensi, hingga abrasi pantai.
Di Riau, gambut dan mangrove terluas berada di Kabupaten Indragiri Hilir. Mangrove juga tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota yang berbatasan langsung dengan laut. Sedangkan gambut terdapat di hampir seluruh daerah, kecuali Kuantan Singingi.
Di wilayah kepulauan seperti Bengkalis dan Kepulauan Meranti, degradasi gambut berlangsung lebih cepat dan membutuhkan perhatian kebijakan yang lebih serius. “Gambut dan mangrove itu berdampingan dan saling melindungi. Kalau mangrovenya rusak, abrasi akan masuk ke gambut, dan itu jauh lebih berbahaya,” kata Sigit.
Untuk memperbaiki kondisi itu, bisa dilakukan dengan cara restorasi. Namun cara ini bukanlah pekerjaan instan. Restorasi gambut dan mangrove butuh proses panjang dan berkelanjutan. Tidak cukup hanya menanam, tetapi harus diikuti pemantauan, perawatan, dan evaluasi terus-menerus.
“Tantangan terberat justru ada pada revitalisasi mata pencaharian masyarakat. Mengubah kebiasaan ekonomi yang sudah lama dijalani tidak mudah, sehingga perlu pendekatan bertahap dan perbaikan berkelanjutan,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Direktur Yayasan Gambut Riau Mulyadi mengatakan, selama ini pihaknya fokus melakukan pendekatan secara ekonomi, terhadap masyarakat yang bermukim di dua ekosistem ini.
Menurutnya, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, untuk menjaga dua ekosistem.
“Kalau bicara masyarakat, kebutuhan dasarnya tetap ekonomi. Dulu karet, lalu sawit karena pasarnya besar. Jadi ketika kita bicara konservasi, harus ada alternatif penghidupan yang jelas,” ujarnya.
Dikatakan, sejak 2019, Yayasan Gambut Riau telah mendampingi kelompok masyarakat yang memiliki komitmen untuk mengelola gambut tanpa pembakaran. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah mengembangkan komoditas ramah gambut seperti jahe merah dan kopi liberika.
Dikatakan,komoditas Jahe Merah di Kabupaten Bengkalis, yang mereka kembangkan bersama masyarakat telah berdampak ekonomi. Komoditas tersebut dinilai relatif cepat berkembang, bahkan kini telah memiliki merek lokal sendiri. Sementara Kopi Liberika, dikembangkan sebagai investasi jangka panjang tanpa perlu membuka lahan baru, karena ditanam di sela-sela kebun yang sudah ada.
“Hari ini sudah sekitar 8.100 batang kopi ditanam masyarakat. Yang produktif memang belum banyak, tapi sudah mampu memasok kebutuhan puluhan kedai kopi. Ini membuktikan bahwa komoditas ramah gambut punya pasar,” jelas Mulyadi.
Pesisir Mengkhawatirkan
Sigit menilai, kerusakan ekosistem mangrove di wilayah pesisir sangat memprihatinkan. Abrasi pantai di Bengkalis dan Pulau Rangsang tergolong sangat parah, dengan kehilangan daratan mencapai hingga 18 meter per tahun di beberapa lokasi.
Kondisi ini diperparah dengan rusaknya sabuk mangrove sebagai penahan alami gelombang. “Kalau abrasi sudah masuk ke gambut, itu jauh lebih sulit dipulihkan. Gambut sangat ringan dan mudah tergerus,” kata Sigit.
Ia menegaskan, rehabilitasi mangrove di kawasan abrasi tidak bisa dilakukan secara sederhana. Penanaman langsung sering gagal karena bibit tersapu gelombang. Dibutuhkan intervensi tambahan seperti pemecah gelombang dan penangkap sedimen sebelum mangrove bisa tumbuh, namun biayanya sangat mahal.
Di tengah keterbatasan tersebut, Mulyadi melihat harapan dari pendekatan berbasis alam. Salah satunya melalui pengembangan tanaman perpat dan nipah yang lebih tahan terhadap kondisi pesisir ekstrem, serta integrasi ekonomi mangrove dan gambut melalui sistem budidaya yang saling mendukung.
“Alam sebenarnya punya cara memperbaiki dirinya sendiri. Tugas kita mempercepat proses itu, sambil memastikan masyarakat mendapat manfaat ekonomi,” ujarnya.
Baik Sigit maupun Mulyadi sepakat bahwa kunci pemulihan gambut dan mangrove terletak pada kolaborasi. Akademisi berperan melalui riset dan rekomendasi ilmiah, masyarakat melalui praktik pengelolaan di lapangan, pemerintah melalui kebijakan dan pendanaan, perusahaan melalui tanggung jawab lingkungan, serta media dalam edukasi publik.
“Tidak bisa parsial. Gambut dan mangrove itu satu lanskap tanpa batas administratif. Kalau semua hanya memikirkan kepentingannya sendiri, bencana tinggal menunggu waktu,” tegas Sigit. (grc)
Sumber: GoRiau.com
Berita