Berita satu.com
Dalam menghadapi tantangan global yang kian kompleks, diplomasi ekonomi menjadi salah satu kunci untuk membangun ketahanan nasional yang kokoh. Melalui Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) atau Indonesian AID, Indonesia menunjukkan komitmen nyata dalam memperkuat peran diplomasi pembangunan di level regional maupun global.
Langkah strategis Indonesian AID untuk mendukung kerja sama pembangunan lintas negara diapresiasi kalangan akademisi.
“Langkah ini bukanlah sekedar aksi filantropi, melainkan bagian dari strategi besar diplomasi yang dijalankan pemerintahan Prabowo-Gibran,” ungkap Kepala Departemen Hubungan Internasional Universitas Andalas, Dr. Apriwan.
Sebagai instrumen diplomasi pembangunan, Indonesian AID menjalankan mandat untuk memberikan dukungan hibah, pelatihan, hingga pengembangan infrastruktur ke berbagai negara sahabat. Upaya ini membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk menembus pasar potensial di Asia, Pasifik, hingga Afrika. Hal ini ditegaskan oleh Direktur Utama Indonesian AID, Dalyono, yang mencontohkan sejumlah program konkret.
“Sebagai contoh adalah pendanaan untuk dukungan hibah vaksin Pentavalent produksi Biofarma ke Nigeria. Program ini diharapkan membuka pasar dan jejaring Biofarma di Kawasan Afrika. Demikian juga dengan pendanaan kegiatan pelatihan dan hibah produk dan teknologi Inseminasi Buatan produksi Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari yang kini telah merambah ke berbagai negara di Afrika,” ungkap Dalyono.
Dalam skema Indonesian AID, diplomasi pembangunan tidak hanya berdampak ke luar negeri tetapi juga memperkuat sektor-sektor vital di dalam negeri.
“Menariknya, diplomasi pembangunan ini ternyata memiliki dampak positif ke dalam negeri. Ketika Indonesia memperkuat kerja sama teknologi, kesehatan, pangan, dan energi dengan negara mitra melalui Indonesian AID, secara tidak langsung kita juga membangun ketahanan nasional di sektor-sektor tersebut,” terang Apriwan.
Sejalan dengan itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede turut menegaskan betapa strategisnya Indonesian AID sebagai instrumen soft power Indonesia di panggung internasional. Dalam konteks diplomasi ekonomi, LDKPI disebut mampu meneguhkan citra Indonesia sebagai negara yang bertanggung jawab pada pembangunan global sekaligus mendukung visi besar pemerintah.
“Dalam konteks diplomasi ekonomi, LDKPI (Indonesian AID) memiliki posisi yang strategis sebagai instrumen penting yang memperkuat soft power Indonesia di panggung global. Melalui LDKPI, Indonesia secara konkret menerapkan diplomasi dengan memberikan bantuan pembangunan internasional dalam bentuk hibah kepada pemerintah atau lembaga asing sebagai bentuk kontribusi Indonesia terhadap pembangunan global,”ujar Josua pada Senin (7/7/2025).
Lebih lanjut, Josua mengatakan kehadiran lembaga ini menjadi sarana strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan hubungan bilateral dan multilateral yang lebih erat, memperluas jejaring global, serta meneguhkan citra positif Indonesia sebagai negara yang bertanggung jawab dan memiliki komitmen tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan sosial.
Selain itu, kontribusi Indonesian AID juga relevan dengan visi misi Asta Cita yang menempatkan ketahanan nasional sebagai prioritas. Isu-isu strategis seperti ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, mitigasi bencana, dan penguatan kapasitas SDM dijalankan melalui kerja sama pembangunan dengan negara mitra.
“Hal ini karena program-program tersebut menciptakan lingkungan regional dan global yang lebih stabil, sehingga meminimalisir potensi dampak negatif yang dapat timbul akibat ketidakstabilan ekonomi dan politik di negara-negara mitra. Lebih jauh, kegiatan bantuan internasional seperti pengembangan kapasitas kewirausahaan, pengelolaan sumber daya alam, dan manajemen risiko bencana telah terbukti memperkuat daya lenting ekonomi domestik dengan menciptakan peluang kerja sama ekonomi serta investasi jangka panjang dengan negara-negara mitra,” ungkap Josua.
Sebagai emerging power, Indonesia melalui Indonesian AID juga semakin percaya diri memainkan peran kepemimpinan di forum-forum internasional, mulai dari ASEAN, G20, hingga BRICS.
“Dengan aktif memberikan bantuan internasional, Indonesia mampu tampil lebih percaya diri, membangun pengaruh yang lebih kuat, serta memperkuat kredibilitasnya sebagai pemimpin regional dan global. Indonesian AID menjadi sarana strategis untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia dalam pengelolaan isu-isu global seperti perubahan iklim, transisi energi, dan pembangunan berkelanjutan,” ucapnya.
“Hal ini tercermin dari berbagai inisiatif konkret yang dilakukan oleh Indonesian AID, seperti program bantuan teknis di bidang pengelolaan energi surya di Afrika, pelatihan manajemen kebencanaan di Amerika Latin, serta program peningkatan kapasitas kewirausahaan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik,” lanjutnya.
Namun demikian, Josua menekankan perlunya sinergi lebih erat antara Indonesian AID dengan sektor swasta, agar nilai tambah ekonomi bisa dirasakan secara langsung. Skema National Interest Account (NIA) dapat dioptimalkan sebagai pendekatan, agar setiap hibah atau bantuan internasional juga membuka jalan ekspor produk unggulan Indonesia.
“Dengan demikian, diplomasi pembangunan ini tidak hanya memperkuat citra positif Indonesia secara politik, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung melalui terbukanya akses pasar baru, serta mendorong investasi dari negara-negara mitra,” pungkasnya.
Dengan sinergi antara kebijakan fiskal, diplomasi politik, dan partisipasi dunia usaha, diplomasi pembangunan yang dijalankan Indonesian AID diharapkan mampu menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Indonesia yang semakin berdaulat, mandiri, dan berdaya saing di tingkat global.***(Berita satu.com)
Sumber: Berita satu.com
nasional