Sabtu, 30 Mei 2026

Nasional

KPK Sebut Kuota Impor Pangan Jadi Lahan Suap

Jumat, 09 Agu 2019 15:34
Detik.com
Laode M Syarif
JAKARTA - KPK beberapa kali menemukan adanya kasus suap dalam komoditas impor pangan. KPK meminta pemerintah harus tegas dalam penentuan kuota impor yang kerap dijadikan sebagai lahan korupsi bagi politisi atau pengusaha.

"Ya seperti itu ( kegiatan suap menyuap) berulang, dan kita berharap sebenarnya ini disetop, tapi sampai sekarang nggak juga. Dulu kita pernah kasus impor sapi, sekarang bawang, sebelumnya dulu sapi juga. Ini kelihatannya modusnya masih sama. Cuma modus cara bergeraknya beda-beda. Jadi kita harus menyesuaikan diri untuk hal itu," ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, di Gedung Lemhanas, Jakarta Pusat, Jumat (9/8/2019).

"Ini harus disetop, pemerintah ini harus tegas menurut saya. Penentuan kuota-kuota ini selalu menjadi lahan untuk suap menyuap. Karena hampir semua komoditi. Sehingga di pasar masih kelebihan pun karena ingin mendapat keuntungan ekonomi mereka," lanjutnya.

Laode menilai ada titik kelemahan di pemerintahan soal kuota impor pangan. Yakni menurutnya lemahnya koordinasi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagagan.

"Titik lemahnya itu sebenarnya, kan sebenarnya komoditas dari pertanian itu kan ada Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan. Tetapi ini kelihatannya antara Kementerian Perdagangan dan Pertanian enggak selalu sinkron," katanya.

Ia pun mencontohkan soal perdebatan impor beras. Kebijakan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian menurutnya tidak sejalan.

"Jadi misalnya kaya kemarin, impor beras, kementerian pertanian bilang ini beras banyak cukup, tapi masih saja di impor oleh kementerian perdagangan akhirnya Kepala Bulog mengeluh, mau ditaruh di mana impor ini, karena gudangnya sudah penuh. Dan itu aneh sebenarnya, masa pemerintahan nggak bisa berkoordinasi dengan baik," kata Laode.

Perbedaan data kuota impor itu jelas Laode dapat dijadikan celah oleh beberapa oknum untuk melakukan korupsi. Lantaran perbedaan harga yang cukup tinggi di luar negeri dengan dalam negeri.

"Ia perdagangan pengaruh, dan itu akhirnya dimanfaatkan. Karena selisih harga komoditi di luar negeri dengan dalam negeri itu tinggi banget. Kaya seperti bawang putih harganya satu kilo di sini berapa? Kalau di China murah sekali, beras juga begitu harga beras itu setengahnya harga per kg diluar negeri dengan dalam negeri," tuturnya.


(detik.com)
nasional
Berita Terkait
  • Sabtu, 30 Mei 2026 16:34

    Dolar Terus Menanjak Ini Saran Ekonom Riau untuk Masyarakat

    PEKANBARU - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika semakin menanjak, nyaris mendekati Rp18 ribu. Masyarakat diminta tetap tenang, tak perlu gegabah apalagi panik.Demikian dikatakan Ekonom Riau Dahl

  • Sabtu, 30 Mei 2026 16:29

    Terbongkarnya Perselingkuhan Istri dengan Sahabat Sendiri: Idham Melakukan Hal Nekad

    Idham Dermawan (35), warga Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, diduga nekat mengakhiri nyawa rekannya sendiri, Agmi (35).Idham meradang setelah mengetahui adanya hubungan terlarang antara korban

  • Sabtu, 30 Mei 2026 16:06

    Hasil Lawatan ke Prancis, Prabowo Bawa Pulang Capaian Kerja Sama Rp 61,25 T .

    Jakarta - Presiden Prabowo Subianto tiba di Tanah Air setelah kunjungan kenegaraan ke Prancis. Prabowo membawa pulang capaian kerja sama bernilai Rp 61,25 triliun.Dikutip dari keterangan Badan Komunik

  • Sabtu, 30 Mei 2026 16:01

    Babak Baru Kasus Dugaan Penipuan Calon Jemaah Umrah, Bos Hanania Travel Ditahan Usai Ditetapkan Sebagai Tersangka

    Polda Metro Jaya menahan Direktur Utama PT Khazanah Tamma Internasional atau Hanania Group berinisial ASF setelah ditetapkan sebagai tersangka. Polda Metro Jaya sebelumnya menerima dua laporan terkait

  • Sabtu, 30 Mei 2026 14:31

    Sindikat Penipuan Bermodus Batu Merah Delima Perdaya ASN Siak Ratusan Juta

    SIAK- Seorang aparatur sipil negara di Kabupaten Siak bernama Zainuddin alias Atan (54) menjadi korban sindikat penipuan bermodus jual beli batu merah delima bertuah. Warga Kecamatan Mempura tersebut

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.