Nabila Jadi Korban Asap, DPR: Jokowi Jangan Diam
Minggu, 04 Okt 2015 07:14
JAKARTA - Bencana kabut asap menelan korban jiwa, dalam media sosial Facebook disebutkan bayi berumur 15 bulan di Jambi telah meninggal dunia akibat menghirup udara yang terkontaminasi asap selama dua bulan.
Anggota Komisi IV DPR Andi Akmal Pasluddin mengatakan, dengan adanya korban jiwa tersebut pemerintah telah lalai dalam melindungi masyarakatnya dari bencana asap tersebut. Oleh karenanya dia mendesak agar pemerintah mengerahkan seluruh kemampuan yang ada dalam memadamkan api di kawasan Sumatera dan Kalimantan.
"Pertama kita sudah ingatkan pemerintah untuk serius mengerahkan segala kemampuannya. Dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jangan tinggal diam karena ini bencana asap bisa membunuh kita semua secara perlahan-lahan," ujar Andi kepada Okezone, Minggu (4/10/2015).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut menambahkan, saat ini warga sekitar Sumatera dan Kalimantan seperti berada dalam kandang burung yang tidak bisa pergi ke mana-mana, karena seluruh wilayahnya sudah terkepung asap.
Dengan kondisi tersebut, harusnya Presiden Jokowi yang sudah mendatangi lokasi tempat terbakarnya lahan tersebut memberikan target kepada pihak terkait untuk segera memadamkan titik-titik api tersebut. Terlebih pemerintah sudah menganggarkan biaya miliaran rupiah.
"Karenanya saya mempertanyakan sampai kapan ini asap dan api bisa dihilangkan. Apa sampai timbulnya korban jiwa lagi baru pemerintah bertindak?," katanya.
Sekedar informasi, dalam akun Facebooknya Rhia Moorlife Jambi menposting lima foto bayinya yang sudah tidak bernyawa dalam kondisi masih berselang infus.
"Cukup anak hamba ya Allah yang jdi korban akibat asap yang tidak kunjung berhenti, jangan lagi ada korban yang lain. Sesak napas, batuk, pilek akibat kabut asap dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab," tulisnya Jumat 2 September 2015.
Sebagian besar wilayah di Sumatera seperti Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara saat ini masih tertutup kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan yang telah terjadi sejak Agustus lalu.
Pada Kamis 1 September 2015 kondisi hot spot (titik api) yang terpantau dari Satelit Terra Aqua BMKG tercatat berjumlah 192 titik. Terjadi penurunan dibandingkan dengan jumlah titik api kemarin yang mencapai 253 titik.
Titik api paling banyak berada di Sumsel yakni 168 titik, kemudian di Jambi 18 titik, Riau empat titik dan Aceh dua titik. Sementara itu, di Sumut tidak ada terlihat titik api.
PWI Pusat Gelar Takziah dan Doa Bersama, Sekjen Zulmansyah Sekedang Dikenang Sosok Total dan Berdedikasi
Jakarta-Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, mengenang Sekjen PWI Pusat, almarhum Zulmansyah Sekedang sebagai sosok yang tidak hanya berdedikasi tinggi, tetapi juga mendapatkan penghormatan luas dari b
Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa Jurnalistik
JAKARTA-Dewan Pers menggelar diskusi bertajuk “Membaca Kasus Magdalene.id dari Kacamata Pers” di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mem
Aklamasi, Purnomo Yusgiantoro Nahkodai DPP IKAL Lemhannas
Jakarta-Prof Dr Ir Purnomo Yusgiantoro MSc MA PhD IPU terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL Lemhannas) periode 2025-2030.Menteri Perta
Kemenhan Fasilitasi Retret Bela Negara 200 Wartawan Sambut HPN 2026
JAKARTA-Kementerian Pertahanan RI bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menyiapkan retret khusus wartawan di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah, pada akhir Januari atau awal Febr
Dukung Kelancaran Operasi Hulu Migas, 13 Sertipikat Hak Pakai Lahan WK Rokan Diserahkan kepada PHR
Jakarta-PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 " Sumatra kembali menerima Sertipikat Hak Pakai (SHP) atas Barang Milik Negara (BMN) berupa tanah hulu migas di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Provinsi Ri