Selasa, 21 Jul 2026
  • Home
  • Opini
  • Dari Kerasnya Jalanan ke Puncak KNPI Riau: Ini Jejak Langkah Fuad Santoso Menemukan Titik Balik Kehidupan

opini

Dari Kerasnya Jalanan ke Puncak KNPI Riau: Ini Jejak Langkah Fuad Santoso Menemukan Titik Balik Kehidupan

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 20 Jul 2026 08:51
DI SEBUAH kafe di kawasan Sukajadi Pekanbaru tampak terisi penuh oleh pengunjung pada Jumat (17/7/2026) sore. Di salah satu ruangan berkaca, duduk beberapa pemuda yang sedang berdiskusi dan bercengkrama. Namun satu diantara mereka, tampak menonjol, berwajah putih seperti warga keturunan, penampilannya meski masih sangat muda, tampak berwibawa. Pemuda itu tampak seperti pusat cerita, dia mendengarkan percakapan dan hanya sesekali menyela. Dialah Fuad Santoso, S.H., M.H., sosok pemimpin muda yang kini menahkodai organisasi induk kepemudaan terbesar di Riau yakni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Riau untuk periode 2021-2024, dan kepengurusannya pun kini telah diperpanjang.

Bagi sebagian besar orang yang baru mengenalnya, posisi puncak yang ia raih saat ini mungkin terlihat sebagai kelanjutan alami dari sebuah karir organisasi yang mapan, terstruktur, dan terfasilitasi dengan baik sejak lahir. Namun, bagi Fuad sendiri, posisi itu hanyalah salah satu babak dari naskah panjang kehidupannya yang ditulis tidak dengan tinta emas, melainkan melalui keringat, air mata, dan benturan keras di jalanan.



Tidak banyak yang menyangka bahwa pria yang kini dikenal luas sebagai tokoh muda yang disegani ini pernah melewati fase kehidupan yang sangat kelam, penuh ketidakpastian, dan sarat akan marabahaya. Berbeda dengan profil pemimpin muda pada umumnya yang mungkin lahir dari kenyamanan fasilitas keluarga yang berlebih, memiliki privilege akses, atau jenjang akademis yang mulus tanpa hambatan sejak awal taman kanak-kanak, Fuad meniti jalannya dari “aspal yang panas dan berdebu”.

Ia memang lahir dari keluarga sederhana; ayahnya, H. Muldi Santoso, adalah seorang purnawirawan polisi yang karirnya tidaklah tinggi. Fuad muda yang hidup biasa saja justru memilih jalan yang memberontak. Sebuah jalan terjal, sunyi, dan penuh kerikil tajam yang memaksanya untuk belajar tentang arti kehidupan secara langsung dari kerasnya dunia luar, tanpa jaring pengaman dari keluarga.

Masa Kecil yang Berpindah dan Gelisah

Perjalanan hidup Fuad bermula dari Dumai, sebuah kota pelabuhan yang sibuk, berdebu, dan penuh dinamika di pesisir Provinsi Riau. Sebagai anak seorang anggota kepolisian, masa kecilnya diwarnai dengan perpindahan dari satu daerah ke daerah lain untuk mengikuti surat perintah tugas sang ayah. Ia tidak memiliki kemewahan untuk tumbuh dan besar di satu lingkungan pertemanan yang menetap.

Fuad pernah merasakan duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di Sungai Apit, sebuah kecamatan di pesisir yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Setelah itu, ia harus mengepak barang-barangnya kembali dan berpindah ke Bengkalis, pulau yang sarat akan sejarah, sebelum akhirnya takdir membawanya kembali lagi ke Dumai.

Perpindahan yang konstan dan terus-menerus ini secara tidak langsung membentuk karakter Fuad menjadi pribadi yang cepat tanggap dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, namun di sisi lain, ritme hidup nomaden ini sekaligus menanamkan benih kegelisahan yang mendalam di dalam batinnya. Ia tidak pernah benar-benar merasa menetap di satu tempat dalam waktu yang cukup lama untuk membangun zona nyaman atau persahabatan masa kecil yang abadi.Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama (SMP), kegelisahan yang terpendam itu mulai bermanifestasi menjadi sebuah bentuk pemberontakan khas remaja yang meledak-ledak. Alih-alih memusatkan perhatian pada pelajaran di dalam kelas, mendengarkan guru, dan mengerjakan pekerjaan rumah, Fuad lebih sering menghabiskan waktunya berpetualang di luar lingkungan sekolah. Jejak pendidikan SMP-nya menjadi bukti nyata dan otentik betapa tidak tenangnya masa remajanya. Ia memulainya di SMP Budi Dharma Dumai, sebuah institusi pendidikan yang cukup dikenal, namun ia tidak bertahan lama lalu pindah ke SMP Dallas. Tidak berhenti di situ saja, gejolak darah mudanya membawanya berpindah lagi ke SMP Annur di ibu kota provinsi, Pekanbaru.

"Berpindah lingkungan setiap beberapa tahun menuntut saya untuk pandai membaca situasi dan karakter orang secara cepat," tutur pria kelahiran Dumai, 17 Oktober 1988 ini.

Bagi Fuad pada masa itu, rutinitas sekolah formal terasa seperti kurungan yang membelenggu kebebasan jiwanya. Ia merasa lebih banyak mendapatkan pelajaran berharga dari kerasnya jalanan daripada dari buku-buku teks di perpustakaan. Di usia yang masih sangat belia, tepatnya ketika anak-anak sebayanya masih sibuk memikirkan permainan, liburan, dan buku pelajaran, Fuad sudah berbenturan langsung dengan realita ekonomi dan sosial yang sangat keras dan tidak kenal ampun.

Ia mulai terjun ke dunia jalanan dengan memungut biaya keamanan atau sekadar mencari uang receh, seperti di Jalan WR Supratman Pekanbaru. Ia tidak pernah merasa malu atau ragu untuk bekerja serabutan, melakukan apa saja demi mendapatkan uang jajan sendiri, mulai dari berjualan stiker hingga membuka jasa cuci sepeda motor di pinggir jalan raya. Di jalanan yang berdebu itulah, ia belajar dengan cepat tentang hukum rimba, tentang hierarki kekuasaan, tentang bagaimana cara bertahan hidup ketika tidak ada seorangpun yang peduli, dan tentang bagaimana selembar uang kertas dicari dengan tetesan keringat di bawah terik matahari yang menyengat.

Pemberontakan Masa Remaja dan Kehancuran Bisnis Pertama
Kerasnya kehidupan yang ia jalani semenjak SMP ternyata terbawa dan semakin meruncing hingga ke bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ritme masa lalunya berulang; Fuad kembali harus berpindah-pindah sekolah karena ketidakmampuannya beradaptasi dengan aturan yang ketat. Tercatat dalam memori masa lalunya, ia pernah mengenyam pendidikan di SMEA Negeri 1 Pekanbaru, kemudian karena satu dan lain hal pindah ke SMA Negeri 11 Pekanbaru, dan akhirnya berlabuh di SMA Negeri 13 Pekanbaru.Pemberontakannya bukannya mereda seiring bertambahnya usia, melainkan semakin menjadi-jadi. Ia mulai terlibat secara intens dalam berbagai kenakalan remaja yang tergolong cukup ekstrim pada masanya, termasuk ikut serta dalam pusaran balap liar yang mempertaruhkan nyawa di jalan-jalan protokol kota. Waktu itu, dalam kacamata remajanya, aspal jalanan adalah satu-satunya arena pembuktian jati diri yang paling valid. Di sana, di tengah deru mesin yang memekakkan telinga dan bau karet ban yang terbakar, ia merasa benar-benar diakui dan dihormati, bukan karena status dan nama besar ayahnya, melainkan murni karena keberaniannya mengambil risiko yang dihindari oleh anak-anak manis lainnya.

Setelah akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan SMA dengan perjuangan berat, Fuad memutuskan untuk tidak langsung melanjutkan kuliah, melainkan mencoba peruntungan di dunia bisnis secara formal. Dengan modal nekat, relasi jalanan, dan ambisi yang meluap-luap, ia memulai langkah sebagai seorang kontraktor pemula. Dengan semangat masa muda yang menggebu-gebu dan impian yang membumbung tinggi, ia berharap bisa dengan cepat meraih kesuksesan finansial dan membuktikan diri bahwa anak jalanan pun bisa sukses. Namun, realita dunia bisnis profesional tidak semudah memacu kendaraan atau mengatur preman pasar.

Kurangnya pengalaman manajerial, perhitungan anggaran yang tidak matang, manajemen waktu yang buruk, serta jaringan lobi yang belum sekuat para kompetitor seniornya membuat usaha pertamanya ini hancur berantakan dalam waktu yang relatif singkat. Ia harus menelan pil pahit kegagalan yang menyakitkan. Kerugian finansial yang dialaminya sangat besar, memaksanya untuk menutup usahanya. Kegagalan bisnis ini menjadi pukulan telak yang meruntuhkan kesombongannya dan menyadarkannya bahwa keberanian nyali saja tidak pernah cukup untuk membangun sebuah masa depan yang kokoh tanpa dibarengi dengan ilmu, strategi, dan perhitungan yang matang.

Terjerumus ke Dunia Gelap dan Ancaman Keselamatan
Kegagalan di dunia kontraktor tidak lantas membuat Fuad menyerah pada keadaan, namun rasa frustrasi justru mendorongnya masuk lebih dalam ke area bisnis abu-abu yang menjanjikan keuntungan cepat. Pada tahun 2012, berbekal jaringan yang ia miliki di jalanan, ia mulai menginjakkan kaki secara serius di dunia bisnis arena ketangkasan dan manajemen hiburan malam di Pekanbaru. Dunia ini memang menjanjikan perputaran uang tunai yang sangat cepat dan masif, namun selalu diiringi dengan risiko keamanan dan hukum yang sangat tinggi.

Di sinilah Fuad benar-benar menguji batas nyalinya setiap malam. Ia dipercaya untuk mengelola tempat tersebut dan mendapatkan persentase dari setiap keuntungan operasional yang ada. Dalam kesehariannya, ia berhadapan langsung dengan berbagai macam karakter manusia yang kompleks, mulai dari para pekerja hiburan malam, cukong pemodal, aparat, hingga kelompok-kelompok jalanan lain yang terus mencoba mengincar dan merebut wilayah kekuasaannya.

Dunia hiburan malam dan manajemen arena ketangkasan adalah ekosistem yang keras, tanpa belas kasihan, dan tidak mengenal kompromi. Perlahan tapi pasti, tekanan dan ancaman mulai berdatangan dari berbagai penjuru. Intimidasi dan ancaman terhadap keselamatan fisiknya menjadi makanan sehari-hari yang harus ia hadapi sebelum tidur. Sebagai seorang anak muda yang terlanjur nekat dan pantang mundur, Fuad awalnya mencoba bertahan mati-matian dan melawan setiap bentuk intimidasi tersebut. Namun, eskalasi konflik yang terus meningkat tajam dan melibatkan banyak pihak membuatnya berada dalam posisi yang sangat terjepit dan berbahaya.

"Ternyata gesekan fisik menambah beban biaya operasional. Dari sinilah, saya mulai belajar negosiasi dan membangun komunikasi," ucap pria berdarah keturunan Jawa dan Madura yang kini sudah dikaruniai 3 anak dan salah satu diantaranya kembar itu.

Orang tuanya yang akhirnya mengetahui sepak terjang dan risiko pekerjaan anaknya mulai merasa khawatir yang amat sangat. Khawatir akan keselamatan nyawa putra mereka yang setiap hari berada di ujung tanduk, pihak keluarga akhirnya mengambil keputusan drastis untuk memindahkan Fuad jauh dari pusat konflik di Pekanbaru. Ia kemudian dikirim ke sebuah daerah di Kabupaten Rokan Hilir.

Harapan keluarga, dengan dipindahkannya Fuad ke Rokan Hilir, ia bisa menenangkan diri, merenung, dan menjauh dari pusaran konflik berdarah. Namun, karakter keras yang sudah terlanjur membatu akibat tempaan jalanan, membuatnya kesulitan beradaptasi dan kembali berbenturan dengan lingkungan sekitar di tempat barunya. Di Rokan Hilir, bukannya menemukan kedamaian, ia justru kembali menghadapi tekanan, intrik, dan bahkan tantangan fisik dari kelompok lokal.

Ia sempat dikepung oleh massa yang tidak menyukainya dan diancam secara terbuka. Namun, dalam situasi yang sangat mengancam nyawa tersebut, insting bertahan hidup Fuad mengambil alih dan ia menolak untuk tinggal diam. Ia melawan sekuat tenaga, mempertahankan harga diri dan keselamatannya dengan segala kemampuan jalanan yang ia miliki. Pertarungan demi pertarungan fisik dan mental ia lewati di Rokan Hilir, meninggalkan luka dan trauma masa lalu sekaligus semakin mempertebal kulit dan mentalnya dalam menghadapi berbagai bentuk tekanan hidup.

Jawa Timur dan Titik Balik Bersama Gus Mus
Rentetan konflik yang tiada henti, pelarian, dan pertarungan mempertahankan diri pada akhirnya membawa kelelahan fisik dan mental yang luar biasa bagi Fuad. Ia mulai merasa kosong, hampa, dan mempertanyakan arah serta makna dari seluruh perjuangannya selama ini. Dalam kebingungan, keletihan jiwa, dan keputusasaan yang mendalam, ia memutuskan untuk pergi menjauh dari Pulau Sumatera, melangkah sendirian menyeberang ke Pulau Jawa, tepatnya ke Provinsi Jawa Timur.

Di daerah yang sama sekali asing baginya itu, ia menanggalkan segala kebesaran ego masa lalunya dan mencoba menyambung hidup dengan cara yang sangat membumi dan sederhana. Ia membuka usaha kecil-kecilan untuk bertahan hidup, mulai dari mendirikan tenda warung pecel lele di pinggir jalan raya hingga mengelola tempat karaoke kelas bawah yang sederhana. Di tanah Jawa Timur inilah, di tengah kesunyian dan kesederhanaan warung pecel lelenya, Tuhan Yang Maha Kuasa mempertemukannya dengan sebuah momentum pencerahan; sebuah titik balik yang akan mengubah total arah, pandangan, dan tujuan hidupnya selamanya.

Di sana, Fuad dipertemukan dengan seorang ulama atau biasa disebut kyai dengan panggilan Gus Mus. Pertemuan dengan Gus Mus bukanlah sebuah pertemuan seremonial yang kaku, melainkan sebuah perjumpaan batin yang hangat, antara seorang anak muda yang jiwanya sedang tersesat mencari arah dengan seorang guru yang memiliki kearifan sedalam samudra. Dalam sebuah kesempatan perbincangan santai yang tak terlupakan, Gus Mus memberikan wejangan-wejangan kehidupan yang sangat mendalam kepada Fuad muda, yang saat itu sedang berada di titik nadir kehidupannya.Gus Mus dengan suaranya yang lembut namun penuh wibawa menasihatinya tentang konsep rezeki, takdir, dan porsi kehidupan manusia. "Hidup itu sudah ada porsi-porsinya sendiri, Nak," ujar Gus Mus saat itu, dengan nada yang tenang namun seolah menusuk langsung ke relung kalbu Fuad. "Apapun jenis usaha yang kita lakukan, sekeras apapun kita memaksakan kehendak, Tuhan sudah menggariskannya dengan adil untuk kita masing-masing. Jadi, tugas utama kita sebagai manusia hanyalah menjalani proses tersebut dengan jalan yang benar, niat yang ikhlas, sebaik-baiknya, dan jangan pernah lupa untuk berbagi dan selalu bersyukur." Nasihat sederhana ini seolah menjadi tamparan keras yang menyadarkan Fuad, yang selama ini selalu hidup dengan prinsip harus merebut porsi kebahagiaan dan kesuksesan dengan menggunakan cara-cara kekerasan, kelihaian, dan ambisi yang membabi buta tanpa arah.

Lebih dari sekadar susunan kata-kata bijak, Gus Mus juga secara langsung mencontohkan makna keikhlasan kepada Fuad melalui tindakan nyata yang sulit dicerna oleh logika manusia biasa. Fuad pernah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Gus Mus tanpa ragu memberikan bantuan sejumlah uang kepada seseorang yang datang meminta tolong, meskipun Gus Mus sebenarnya sudah sangat sadar dan tahu bahwa orang tersebut memiliki niat buruk dan berniat menipunya.

Ketika Fuad yang dibesarkan oleh logika kerasnya jalanan merasa keheranan, protes, dan bertanya mengapa sang kyai tetap memberikan uang tersebut, Gus Mus memberikan jawaban yang seketika meruntuhkan seluruh ego dan pemahaman jalanan yang selama bertahun-tahun dipegang teguh oleh Fuad. "Biarlah Tuhan saja yang membalaskannya kelak. Aku memberi bukan karena berharap padanya, aku memberi karena aku sangat yakin balasannya bukan datang dari orang yang bersangkutan, melainkan datang secara langsung dari Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Esa," tutur Gus Mus sembari tersenyum simpul.

Pelajaran langsung tentang keikhlasan tanpa pamrih, kepasrahan total pada Sang Pencipta, dan keyakinan akan balasan kebaikan, yang selalu disampaikan Gus Mus saat bertemu itu, terus membekas sangat dalam, mengubah struktur berpikir dan menyejukkan hati Fuad yang selama ini selalu diselimuti amarah dan rasa tidak percaya.

Membangun Kembali Harapan di Pekanbaru
Pertemuan dan dialog spiritual dengan Gus Mus di Jawa Timur tersebut benar-benar menjadi kawah candradimuka spiritual yang menyucikan bagi seorang Fuad Santoso. Kata-kata sang kyai menyadarkannya dari tidur panjang bahwa hidup yang sejati haruslah bermanfaat untuk orang lain, untuk keluarga yang menyayangi, dan untuk orang-orang lemah yang membutuhkan uluran tangan. Nilai seorang laki-laki tidak pernah diukur dari seberapa kuat ia memukul lawan, seberapa berani ia bertarung di jalanan, atau seberapa banyak harta yang dikumpulkannya dengan cara paksa, melainkan dari seberapa besar manfaat dan kebaikan yang bisa ia sebarkan kepada sesamanya.

Berbekal keyakinan baru, jiwa yang lebih tenang, dan filosofi hidup yang telah diluruskan ini, Fuad memutuskan untuk pulang, kembali ke kampung halamannya di Pekanbaru. Ia menginjakkan kakinya kembali di Bumi Lancang Kuning bukan lagi sebagai pemuda pemberontak berdarah panas yang mencari pelarian dari masalah, melainkan sebagai seorang pria dewasa yang matang, tenang, dan siap menata ulang masa depannya dari nol.

Kembali ke Pekanbaru tentu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Jejak dan stigma masa lalunya di dunia jalanan dan bisnis hiburan masih membayangi nama baiknya. Cibiran, keraguan, dan penolakan dari lingkungan sekitar adalah hal pertama yang harus ia hadapi. Namun, Fuad telah bertekad bulat untuk membuktikan bahwa ia benar-benar telah berubah menjadi manusia baru.

Ia memulai semuanya dari awal dengan kesabaran luar biasa. Pada tahun 2014, dengan modal keyakinan dan niat yang bersih, ia memberanikan diri untuk mendirikan sebuah entitas usaha yang sah bernama CV Santosa Jaya Mandiri. Ia kembali terjun mengadu nasib ke dunia usaha, namun kali ini ia membangunnya dengan pondasi nilai yang sama sekali berbeda. Ia menjalankan usahanya dengan mengedepankan etika bisnis, kejujuran, keikhlasan melayani, dan kerja keras yang halal, persis seperti esensi yang diajarkan oleh Gus Mus. Perlahan tapi pasti, melalui keringat dan pembuktian integritas sehari-hari, kepercayaan demi kepercayaan dari kolega dan klien mulai ia bangun dan raih kembali.

Sambil membangun usahanya dari bawah, Fuad secara perlahan menyadari bahwa pengalaman jalanan saja tidak cukup; ia membutuhkan pondasi intelektual dan akademis yang kuat untuk benar-benar bisa memberikan dampak dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Mengalahkan ego masa lalunya, ia memutuskan untuk kembali ke dunia formal yang dulu sangat ia benci dan hindari: bangku perguruan tinggi. Ia mendaftar kuliah di Fakultas Hukum (S1) di Universitas Islam Riau (UIR).

Pengalaman hidupnya yang keras dan berliku justru memberikan perspektif yang sangat unik, tajam, dan realistis dalam memandang pasal-pasal hukum, lebih dari sekadar teori di buku. Ia belajar dengan tekun di tengah kesibukannya berbisnis, bukan sekadar mengejar lembaran ijazah dan transkrip nilai, melainkan mencari pemahaman mendalam tentang substansi keadilan itu sendiri. Tidak lekas berpuas diri hanya dengan menggenggam gelar sarjana, Fuad yang haus akan ilmu kemudian melanjutkan jenjang pendidikan magister dengan mengambil program Magister Hukum (S2) di kampus ternama Universitas Riau (Unri). Akarnya kini tertanam semakin kuat, ia sukses menggabungkan keluwesan kecerdasan jalanan (street smart) dengan ketajaman kecerdasan intelektual akademis.

Mengembalikan Kepercayaan dan Menahkodai Organisasi Pemuda Riau
Transformasi total Fuad, dari seorang pemuda jalanan yang akrab dengan dunia kekerasan menjadi seorang sarjana hukum bergelar magister dan pengusaha, perlahan mulai membuahkan hasil manis yang tak terbantahkan. Integritas, kedewasaan emosional, dan kerja kerasnya tanpa lelah mulai diakui secara luas oleh berbagai kalangan. Para pengusaha senior yang dulu mungkin memandangnya sebelah mata atau bahkan menghindarinya, kini justru mulai berbalik mencarinya dan memberikannya kepercayaan penuh untuk mengelola berbagai lini bisnis strategis. Melalui proses ini, ia membuktikan sebuah tesis kehidupan bahwa kepercayaan adalah mata uang paling berharga dan tak ternilai dalam dunia usaha yang tak bisa dibeli dengan kekuasaan.

Puncak dari segala pembuktian diri atas transformasi hidupnya terjadi ketika pemuda-pemuda di Riau melihat kualitas kepemimpinannya, hingga akhirnya ia dipercaya dan terpilih secara demokratis menjadi Ketua DPD KNPI Provinsi Riau untuk masa bakti periode 2021-2024. KNPI sejatinya bukanlah organisasi biasa yang mudah untuk dikelola dan dipimpin. Di dalam organisasi raksasa ini berkumpul ratusan kelompok, berbagai faksi, beragam latar belakang kepentingan, dari seluruh elemen organisasi kepemudaan (OKP) yang ada.

Namun, justru pengalaman hidup Fuad yang penuh liku, keras, dan berliku memberikannya keunggulan komparatif tersendiri. Ia tidak pernah canggung atau takut menghadapi konflik internal, karena di masa lalunya, ia telah berhasil melewati konflik eksternal yang jauh lebih mengerikan dan mempertaruhkan nyawa. Ia memiliki kapasitas untuk merangkul berbagai pihak yang berseberangan dengan tulus, karena ia tahu persis bagaimana rasa sakitnya ditolak, dikucilkan, dan tidak diterima oleh lingkungan.

Di bawah tongkat kepemimpinannya, Fuad selalu menanamkan doktrin dan menekankan kepada seluruh kader bahwa pemuda Riau harus tampil mandiri, berani mengambil risiko untuk maju, namun harus selalu tetap berpijak teguh pada norma, moral, dan ajaran agama. Ia tidak pernah sekalipun berusaha menutupi atau menghapus masa lalunya yang kelam. Sebaliknya, dengan dada membusung ia menjadikan rentetan masa lalunya yang penuh kegagalan itu sebagai buku pelajaran paling berharga bagi generasi muda di sekitarnya. Ia ingin menyampaikan pesan kuat dan menunjukkan bukti nyata bahwa jalan menuju keberhasilan itu memang pada kenyataannya sering kali tidak pernah mulus dan mudah. Jalannya bisa sangat berliku, menyesatkan, dan dipenuhi dengan jurang kegagalan, kebangkrutan, serta penolakan bertubi-tubi. Namun, persis seperti apa yang telah ia alami secara personal sejak masih duduk di bangku SMP, setiap kesulitan, ujian, dan persoalan berat yang menimpa justru harus diubah menjadi energi pemacu, cambuk bagi diri sendiri untuk terus bangkit, melangkah, dan bergerak maju ke depan.

Hari ini, ketika ia sejenak menatap jauh keluar dari balik jendela kaca ruangan yang nyaman, Fuad Santoso tahu betul bahwa jalan takdir seseorang memang rahasia dan tidak pernah bisa disangka-sangka oleh akal manusia. Ia sangat yakin dan mengimani bahwa sekeras apapun usaha manusia berlari, setajam apapun ia merancang strategi, dan sekelam apapun lembaran masa lalu yang pernah ditorehkan, pada akhirnya semuanya mutlak berada dalam genggaman dan pengaturan sempurna dari Tuhan Yang Maha Esa. Rentetan pengalaman pahit yang di masa remajanya dulu selalu ia ratapi dan dianggap sebagai kutukan penderitaan, kini justru ia syukuri sedalam-dalamnya sebagai kekuatan pondasi paling berharga yang berhasil membentuk ketangguhan mentalnya menyongsong masa depan. Jejak langkah panjang seorang Fuad Santoso adalah sebuah prasasti dan bukti nyata bahwa seburuk dan sekelam apapun awal mula sebuah cerita kehidupan, setiap manusia selalu memiliki hak prerogatif dan kemampuan dari Sang Pencipta untuk bangkit, mengambil alih pena takdirnya, dan menuliskan akhir cerita yang luar biasa menginspirasi(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/dari-kerasnya-jalanan-ke-puncak-knpi-riau-ini-jejak-langkah-fuad-santoso-menemukan-titik-balik-kehidupan.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki