Selasa, 26 Mei 2026

Opini

Donald Trump, Phobia Korea Utara

Oleh: Syamsul Bahri Ritonga
Minggu, 24 Des 2017 07:52
internet
Ilustrasi

Pasti masih banyak diantara pembaca yang mendengar dan mengingat ketika kampanye calon Presiden Amerika Se­rikat (AS), salah satu program Donald Trump (sebut saja Trump), jika menang kemudian akan mene­rapkan larangan bagi warga Muslim dari berbagai Negara muslim masuk Ame­rika Serikat.

Meskipun dari tiga kali kontra dialog atau debat capres kalah 0 - 3 dari saingngannya Hi­l­lary Clinton, penulis tetap mem­­per­kirakan Trump akan menang pada pemu­ngutan suara dan menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat.

Sebabnya, jika dicermati lebih jeli, Ame­rika Serikat, hanya kencang mende­ngungkan kesamaan Gender dan Hak Azazi Manusia (HAM), namun dalam kenyataan hingga kini mereka (AS) belum mengakui kedudukan perempuan sebagaimana digaungkan tentang keinginan kesetaraan gender, sama dengan HAM. Informasi patut dipercaya, hingga kini sudah 64 negara yang diinvasi Amerika Serikat tanpa dasar yang jelas.

Secara pribadi sebenarnya Trump tidak memiliki inovasi dan kemampuan berpolitik. Namun sejak lama ia dikenal ka­re­na mampu bersaing dalam pengembangan usaha real estate. Banyak pecinta olahraga tinju mengenal istilah Trump pada ring pertandingan tinju dunia. Karena tempatnya di­ada­kan di arena miliknya. Itu artinya bersaing dalam pemba­ngun­an bidang proyek fisik, tetapi tidak menguasai sosial politik yang cukup luas tapi bersifat abstraktif.

Karakter yang dimiliki kental arogansi, akibatnya akan tertekan sendiri bila ia merasa tidak bisa menandingi kemam­puan pihak yang dianggap pesaingnya apalagi merasa tidak diperhatikan dan dihargai. Sehingga yang bersangkutan akan membuat sesuatu yang "gempar" tanpa pertimbangan apakah rugi baik bagi dirinya sendiri, tak peduli orang lain. Wujud kesombongan dan keta­kutan.

Gaya Bahasa tubuh dalam pandangan komunikasi meng­gam­barkan jati diri Trump, secara Non Verbal dapat dilihat dari gaya bicaranya. Perhatikanlah pada setiap pidato/sam­but­an, masa kampanye, saat pidato perdana usai dilantik jadi pre­siden, induk jari dan telunjuk tangan kanannya selalu dite­mu­kan membentuk lingkaran = 0 (kosong) sedang tiga jari lainnya berdiri tegak, adalah gambaran dari sifat sombong, seolah dialah segalanya, maka membalikkan 3-0 kekala­han dari debat capres dibalikkan semacam keunggulan. Kemudian gerak mulut dan pandangan, tampak selalu marah, menunjuk­kan dialah yang serba bisa - segalanya. Gaya rambut menutup sebagian bidang kening, menunjukkan ketidakper­caya­an diri bertatap muka. Untuk diketahui, tidak seorang pun ilmuwan atau politikus ulung yang menutup keningnya bilapun pada saat debat sengit dengan lawan debat/lawan politiknya.

Seolah dia tidak perlu mitra kerja, tidak perlu nasehat dan keperluan-keperluan kepe­merintahan dalam berbangsa dan bernegara. Trump lebih mengandalkan system kerja dari alur pikirannya yang emo­sional, mengun­tungkan khususnya priba­di tanpa memper­timbangkan resiko. Makanya wakilnya­pun Mike Pence hanya manut atau nggeh saja.

Bandingkan dengan Jokowi (Presiden RI), setiap kali hen­dak naik podium selalu merapi­kan kancing lengan baju (le­ngan kiri atau lengan kanan). Sisiran rambut hampir sama de­ngan Trump, tetapi tidak sampai menutup kening (ingat ketika Ibu Iriana mengingatkan untuk memperbaiki sisiran/rambut dikening Jokowi ketika berpidato pada suatu acara). Ini artinyan betapa Jokowi memperhatikan secara hati-hati dan cermat apa yang akan disampai­kan agar orang yang akan menyimak antusias dan memahami akhirnya simpaty.

Sejarah

Bukan tidak mungkin Korea Utara belajar dan berkaca dari sejarah perjuangan Indonesia. Ketika masih dalam masa sulit, situasi perjuangan fisik mempertahankan negara dan merancang perekonomian negara, Indonesia berani memutus­kan hubungan dengan Amerika Serikat dan keluar dari ke­ang­gotaan PBB. Ibarat istilah pasaran, " Hei Amerika Serikat, bu­kan kau yang memberi makan bangsa Indonesia, jangan sok mengatur urusan dalam negeri kami", tegas serang Soe­kar­no. Kagum yang tak tertandingi bagi founding father Negara kita itu.

Sepanjang sejarah, dunia mungkin hanya terfokus situasi pertentangan Korea Utara dengan Korea Selatan yang nota be­ne masih bersaudara. Sementara Jepang yang merupa­kan tetangga Korea Selatan dan Korea Utara tidak terusik dengan uji coba-uji coba rudal nuklir yang dilakukan Korea Utara.

Kasat mata dan telinga, memang antara Korea Selatan dengan Korea Utara terus ber­seteru. Namun dibalik perse­teru­­­an mereka ada yang tidak mungkin dikesam­pingkan yaitu hubungan ikatan darah antara sesama warganya.

Phobia Korea Utara

Tahun delapan puluhan sontak terde­ngarlah Negara Korea Utara, yang dipimpin rezim "Kim" turun temurun dan yang sekarang Kim Jong-un, mampu menyaingi bahkan melebihi teknologi Amerika Serikat dalam hal rudal. Karena kelebihan­nya dengan uji coba nuklirnya, malah dijatuhi sanksi oleh PBB (yang bermarkas di Ame­rika Serikat), Korea Utara dianggap melang­gar, karena nuklir dianggap sangat memba­haya­kan.

 Sanksi atau larangan nampaknya tidak membuat Korea Utara bergeming. Uji coba terus dilakukan dan ditingkatkan. Ini dilakukan karena Korea Utara tidak mau didikte oleh Negara asing, terutama Amerika Serikat yang mereka anggap sebagai pelang­gar hak azasi ter­besar. Korea Utara sendiri tidak butuh ban­tuan apapun dari Amerika Serikat khususnya.

Setelah tiga puluh dua tahun peluncuran rudal pertama Ko­rea Utara, baru Donald Trump terjun kekancah politik, kemu­dian langsung mencalonkan diri menjadi capres. Donald Trump terusik oleh Negara kecil Korea Utara yang saat ini ber­penduduk 25.248140 jiwa (hanya 12,8 % dari pendu­duk Amerika Serikat atau 9,9 % dari pen­duduk Indonesia), mampu meluncurkan rudal Rodong (1984) yang membuat dunia ter­cengang, terutama Amerika Serikat de­ngan warganya 323.995.528 jiwa sama sekali tidak menduga itu.

Uji coba (bukan lagi uji coba) Rudal yang dibuat dan telah di­langsungkan oleh Korea Utara hampir setiap tahun sejak 1984 sampai 2017 ini, semakin akhir semakin canggih, baik dari daya ledak terlebih lagi jarak jangkauan, super dahsyat - Inter Continental Balistic Misile. Meski pada sebuah uji co­ba diarahkan ke wilayah Jepang, itu tidak lain karena disana ada pangkalan militer Amerika Serikat sebagai sasaran. He­bat­nya setiap peluncuran rudal, Presiden Korea Utara selalu mem­bumbui keterangan bahwa "produknya" tersebut selalu ditu­jukan arahnya mampu menjangkau ke daratan Amerika Serikat. Oleh karena itulah Jepang tidak risau dengan uji coba itu.

Sejak dilantik hampir dua tahun yang lalu (2016) menjadi Presiden yang ke 45 Amerika Serikat, Donald Trump terus mendapat sorotan negative bukan hanya dari negara luar, melainkan dari negaranya sendiri. Mulai dari kecurigaan parlemen atas kemena­ngannya yang dianggap karena adanya peran Rusia dan pihak lain yang diragukan.

Gelombang bencana terus berganti, topan maya, banjir, kebakaran, dan teror dari dalam negeri, serta ujian-ujian mental yang sebe­narnya sudah merupakan peringatan dan teguran bagi Trump yang tidak lain dise­babkan karena kesombongan­nya, hanya akan menambah dasar impichment baginya.

Belum genap dua bulan setelah Korea Utara menembakkan rudal balistiknya, merasa semakin tertekan, tanggal 6 Desem­ber 2017, sebagai pelampiasan tidak ada apa-apanya dia bagi Korea Utara, Trump mengumumkan Yerussalem men­ja­di ibukota Israel, padahal itu melanggar piagam bangsa-bangsa.

Kebijakan tak bernurani itu mengi­ngatkan kembali kebijak­an pembangunan tembok raksasa watas Meksiko, keta­kutan­nya tidak lain untuk mengurangi persaingan ekonomi sosial dan menutupi kelemahannya dimata warga Meksiko. Semen­tara larangan warga muslim masuk kenegaranya, banyak priksi-priksi pihak lain terlebih dengan politik agama. Akan te­tapi pengakuan Yerussalem ? Justru itulah bukti besar tanpa adanya perhi­tungan politik. Karena kebijakan itu tidak lebih sudah menjadi politik "babi-buta". Trump dan Benjamin Neta­nya­hu bangga, namun dihadapannya ditolak Uni Eropa.

Dunia dengan berbagai aliran keper­cayaan tahu Yerussalem, yang pada hakikinya adalah gambaran perdamaian dunia. Disana ada objek suci bagi Islam, Kristen, dan Yahudi.

Jadi jikalau dasar larangan masuk wilayah negaranya (AS) hanya bagi warga muslim, Trump mengakui dan mem­buk­tikan sendiri bahwa nyata-nyata Trump memang benarlah ia adalah Islamophobia.

Kecamanpun datang dari berbagai Negara di dunia, dari Indonesia, Turki, Prancis, Jerman, Inggris, Uni Eropa, ter­khu­­sus Negara-negara di Timur Te­ngah. Kemudian dari berbagai elemen masya­rakat internasional. Kelompok keperca­yaan dari pihak Israel, Yahudi Ortodoks, Yahudi Amerika Serikat, Kris­ten, dan sebagainya.

Tindakan kontroversi Trump yang berawal dari trauma Islamo­phobia, pengakuan tentang Yerussalem sebagai ibukota Israel adalah pelampiasan keta­kutan, Negara se kecil Korea Utara tidak memperdulikan siapa Trump, menga­kibatkan phobia baru bagi Trump yakni Phobia Korea Utara. Tertekan kalau-kalau Rudal Balisticnya akan menghitamkan Gedung Putih meski sejauh 11.000 km lebih dari Pyong Yang.

Untuk itu, internasional perlu lebih tegas, termasuk Indonesia bukan lagi yang butuh Amerika Serikat, sekarang seba­liknya Amerika Serikat-lah yang sangat butuh Indonesia, lihat contohnya Freeport, dan lain-lain sebagainya. Terkhu­sus lagi dalam kasus Yerussalem, didalam negeri jangan le­ngah, bisa saja telah terjangkit konspirasi Trump, terbukti demikian cepatnya beredar buku ajar yang men­cantumkan Yerussalem sebagai ibukota Israel. Manuver Donald Trump keras dan sombong, timpali secara keras dan sombong. Tunisia dan Ne­ga­ra-negara Afrika sudah memulai, boikot segala produknya dan akhiri hubungan diplomat.

Bukan hanya sekadar kata,"kecaaamm, boikooott...!!!, tapi action !. ***

Penulis adalah Dosen Antropologi Budaya STKIP Budi Daya Binjai

sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Senin, 25 Mei 2026 16:44

    Jokowi Siap Keliling Indonesia Usai Kesehatan Pulih: Motivasi dan Ketemu PSI di Daerah

    Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) buka-bukaan soal rencana keliling Indonesia seusai lesehatannya pulih. Prabowo juga membenarkan rencana pernah diungkap Relawan Projo itu.Saat ditemui awak media di

  • Senin, 25 Mei 2026 16:38

    Razia di Karaoke Valentine Deli Serdang Berujung Penemuan Pil Ekstasi

    Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Deli Serdang menemukan narkotika jenis ekstasi di tempat hiburan Karaoke Valentine, Kecamatan Beringin."Diduga peredaran obat terlarang di Karaoke Valen

  • Senin, 25 Mei 2026 16:23

    Ledakan dari Pabrik Kimia di Cilegon, Tercium Bau Menyengat

    Jakarta-Ledakan terdengar dari pabrik kimia PT Merak Chemical Indonesia (PT MCCI) atau yang sebelumnya dikenal sebagai PT Mitsubishi Chemical Indonesia (MCCI). Ledakan terjadi pada Senin (25/5/2026) s

  • Senin, 25 Mei 2026 16:19

    Pemprov Tetapkan Direktur Keuangan dan Direktur Operasional PT Riau Petroleum

    PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau telah menetapkan Calon Direktur Operasional dan Calon Direktur Keuangan PT Riau Petroleum.Penetapan dua direktur Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Riau itu m

  • Senin, 25 Mei 2026 16:17

    Taklukkan Rute Pekanbaru-Payakumbuh, Jurnalis dan Vlogger Rekam Sensasi Berkendara Bersama Honda AT High

    Riauterkini-PAYAKUMBUH-Main Dealer sepeda motor Honda wilayah Riau, PT Capella Dinamik Nusantara (CDN) sukses menggelar kegiatan touring bertajuk Media & Vlogger Premium Explore : Capturing the Comfor

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.