Opini
Donald Trump, Phobia Korea Utara
Oleh: Syamsul Bahri Ritonga
Minggu, 24 Des 2017 07:52
Pasti masih banyak diantara pembaca yang mendengar dan mengingat ketika kampanye calon Presiden Amerika Serikat (AS), salah satu program Donald Trump (sebut saja Trump), jika menang kemudian akan menerapkan larangan bagi warga Muslim dari berbagai Negara muslim masuk Amerika Serikat.
Meskipun dari tiga kali kontra dialog atau debat capres kalah 0 - 3 dari saingngannya Hillary Clinton, penulis tetap memperkirakan Trump akan menang pada pemungutan suara dan menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat.
Sebabnya, jika dicermati lebih jeli, Amerika Serikat, hanya kencang mendengungkan kesamaan Gender dan Hak Azazi Manusia (HAM), namun dalam kenyataan hingga kini mereka (AS) belum mengakui kedudukan perempuan sebagaimana digaungkan tentang keinginan kesetaraan gender, sama dengan HAM. Informasi patut dipercaya, hingga kini sudah 64 negara yang diinvasi Amerika Serikat tanpa dasar yang jelas.
Secara pribadi sebenarnya Trump tidak memiliki inovasi dan kemampuan berpolitik. Namun sejak lama ia dikenal karena mampu bersaing dalam pengembangan usaha real estate. Banyak pecinta olahraga tinju mengenal istilah Trump pada ring pertandingan tinju dunia. Karena tempatnya diadakan di arena miliknya. Itu artinya bersaing dalam pembangunan bidang proyek fisik, tetapi tidak menguasai sosial politik yang cukup luas tapi bersifat abstraktif.
Karakter yang dimiliki kental arogansi, akibatnya akan tertekan sendiri bila ia merasa tidak bisa menandingi kemampuan pihak yang dianggap pesaingnya apalagi merasa tidak diperhatikan dan dihargai. Sehingga yang bersangkutan akan membuat sesuatu yang "gempar" tanpa pertimbangan apakah rugi baik bagi dirinya sendiri, tak peduli orang lain. Wujud kesombongan dan ketakutan.
Gaya Bahasa tubuh dalam pandangan komunikasi menggambarkan jati diri Trump, secara Non Verbal dapat dilihat dari gaya bicaranya. Perhatikanlah pada setiap pidato/sambutan, masa kampanye, saat pidato perdana usai dilantik jadi presiden, induk jari dan telunjuk tangan kanannya selalu ditemukan membentuk lingkaran = 0 (kosong) sedang tiga jari lainnya berdiri tegak, adalah gambaran dari sifat sombong, seolah dialah segalanya, maka membalikkan 3-0 kekalahan dari debat capres dibalikkan semacam keunggulan. Kemudian gerak mulut dan pandangan, tampak selalu marah, menunjukkan dialah yang serba bisa - segalanya. Gaya rambut menutup sebagian bidang kening, menunjukkan ketidakpercayaan diri bertatap muka. Untuk diketahui, tidak seorang pun ilmuwan atau politikus ulung yang menutup keningnya bilapun pada saat debat sengit dengan lawan debat/lawan politiknya.
Seolah dia tidak perlu mitra kerja, tidak perlu nasehat dan keperluan-keperluan kepemerintahan dalam berbangsa dan bernegara. Trump lebih mengandalkan system kerja dari alur pikirannya yang emosional, menguntungkan khususnya pribadi tanpa mempertimbangkan resiko. Makanya wakilnyapun Mike Pence hanya manut atau nggeh saja.
Bandingkan dengan Jokowi (Presiden RI), setiap kali hendak naik podium selalu merapikan kancing lengan baju (lengan kiri atau lengan kanan). Sisiran rambut hampir sama dengan Trump, tetapi tidak sampai menutup kening (ingat ketika Ibu Iriana mengingatkan untuk memperbaiki sisiran/rambut dikening Jokowi ketika berpidato pada suatu acara). Ini artinyan betapa Jokowi memperhatikan secara hati-hati dan cermat apa yang akan disampaikan agar orang yang akan menyimak antusias dan memahami akhirnya simpaty.
Sejarah
Bukan tidak mungkin Korea Utara belajar dan berkaca dari sejarah perjuangan Indonesia. Ketika masih dalam masa sulit, situasi perjuangan fisik mempertahankan negara dan merancang perekonomian negara, Indonesia berani memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat dan keluar dari keanggotaan PBB. Ibarat istilah pasaran, " Hei Amerika Serikat, bukan kau yang memberi makan bangsa Indonesia, jangan sok mengatur urusan dalam negeri kami", tegas serang Soekarno. Kagum yang tak tertandingi bagi founding father Negara kita itu.
Sepanjang sejarah, dunia mungkin hanya terfokus situasi pertentangan Korea Utara dengan Korea Selatan yang nota bene masih bersaudara. Sementara Jepang yang merupakan tetangga Korea Selatan dan Korea Utara tidak terusik dengan uji coba-uji coba rudal nuklir yang dilakukan Korea Utara.
Kasat mata dan telinga, memang antara Korea Selatan dengan Korea Utara terus berseteru. Namun dibalik perseteruan mereka ada yang tidak mungkin dikesampingkan yaitu hubungan ikatan darah antara sesama warganya.
Phobia Korea Utara
Tahun delapan puluhan sontak terdengarlah Negara Korea Utara, yang dipimpin rezim "Kim" turun temurun dan yang sekarang Kim Jong-un, mampu menyaingi bahkan melebihi teknologi Amerika Serikat dalam hal rudal. Karena kelebihannya dengan uji coba nuklirnya, malah dijatuhi sanksi oleh PBB (yang bermarkas di Amerika Serikat), Korea Utara dianggap melanggar, karena nuklir dianggap sangat membahayakan.
Sanksi atau larangan nampaknya tidak membuat Korea Utara bergeming. Uji coba terus dilakukan dan ditingkatkan. Ini dilakukan karena Korea Utara tidak mau didikte oleh Negara asing, terutama Amerika Serikat yang mereka anggap sebagai pelanggar hak azasi terbesar. Korea Utara sendiri tidak butuh bantuan apapun dari Amerika Serikat khususnya.
Setelah tiga puluh dua tahun peluncuran rudal pertama Korea Utara, baru Donald Trump terjun kekancah politik, kemudian langsung mencalonkan diri menjadi capres. Donald Trump terusik oleh Negara kecil Korea Utara yang saat ini berpenduduk 25.248140 jiwa (hanya 12,8 % dari penduduk Amerika Serikat atau 9,9 % dari penduduk Indonesia), mampu meluncurkan rudal Rodong (1984) yang membuat dunia tercengang, terutama Amerika Serikat dengan warganya 323.995.528 jiwa sama sekali tidak menduga itu.
Uji coba (bukan lagi uji coba) Rudal yang dibuat dan telah dilangsungkan oleh Korea Utara hampir setiap tahun sejak 1984 sampai 2017 ini, semakin akhir semakin canggih, baik dari daya ledak terlebih lagi jarak jangkauan, super dahsyat - Inter Continental Balistic Misile. Meski pada sebuah uji coba diarahkan ke wilayah Jepang, itu tidak lain karena disana ada pangkalan militer Amerika Serikat sebagai sasaran. Hebatnya setiap peluncuran rudal, Presiden Korea Utara selalu membumbui keterangan bahwa "produknya" tersebut selalu ditujukan arahnya mampu menjangkau ke daratan Amerika Serikat. Oleh karena itulah Jepang tidak risau dengan uji coba itu.
Sejak dilantik hampir dua tahun yang lalu (2016) menjadi Presiden yang ke 45 Amerika Serikat, Donald Trump terus mendapat sorotan negative bukan hanya dari negara luar, melainkan dari negaranya sendiri. Mulai dari kecurigaan parlemen atas kemenangannya yang dianggap karena adanya peran Rusia dan pihak lain yang diragukan.
Gelombang bencana terus berganti, topan maya, banjir, kebakaran, dan teror dari dalam negeri, serta ujian-ujian mental yang sebenarnya sudah merupakan peringatan dan teguran bagi Trump yang tidak lain disebabkan karena kesombongannya, hanya akan menambah dasar impichment baginya.
Belum genap dua bulan setelah Korea Utara menembakkan rudal balistiknya, merasa semakin tertekan, tanggal 6 Desember 2017, sebagai pelampiasan tidak ada apa-apanya dia bagi Korea Utara, Trump mengumumkan Yerussalem menjadi ibukota Israel, padahal itu melanggar piagam bangsa-bangsa.
Kebijakan tak bernurani itu mengingatkan kembali kebijakan pembangunan tembok raksasa watas Meksiko, ketakutannya tidak lain untuk mengurangi persaingan ekonomi sosial dan menutupi kelemahannya dimata warga Meksiko. Sementara larangan warga muslim masuk kenegaranya, banyak priksi-priksi pihak lain terlebih dengan politik agama. Akan tetapi pengakuan Yerussalem ? Justru itulah bukti besar tanpa adanya perhitungan politik. Karena kebijakan itu tidak lebih sudah menjadi politik "babi-buta". Trump dan Benjamin Netanyahu bangga, namun dihadapannya ditolak Uni Eropa.
Dunia dengan berbagai aliran kepercayaan tahu Yerussalem, yang pada hakikinya adalah gambaran perdamaian dunia. Disana ada objek suci bagi Islam, Kristen, dan Yahudi.
Jadi jikalau dasar larangan masuk wilayah negaranya (AS) hanya bagi warga muslim, Trump mengakui dan membuktikan sendiri bahwa nyata-nyata Trump memang benarlah ia adalah Islamophobia.
Kecamanpun datang dari berbagai Negara di dunia, dari Indonesia, Turki, Prancis, Jerman, Inggris, Uni Eropa, terkhusus Negara-negara di Timur Tengah. Kemudian dari berbagai elemen masyarakat internasional. Kelompok kepercayaan dari pihak Israel, Yahudi Ortodoks, Yahudi Amerika Serikat, Kristen, dan sebagainya.
Tindakan kontroversi Trump yang berawal dari trauma Islamophobia, pengakuan tentang Yerussalem sebagai ibukota Israel adalah pelampiasan ketakutan, Negara se kecil Korea Utara tidak memperdulikan siapa Trump, mengakibatkan phobia baru bagi Trump yakni Phobia Korea Utara. Tertekan kalau-kalau Rudal Balisticnya akan menghitamkan Gedung Putih meski sejauh 11.000 km lebih dari Pyong Yang.
Untuk itu, internasional perlu lebih tegas, termasuk Indonesia bukan lagi yang butuh Amerika Serikat, sekarang sebaliknya Amerika Serikat-lah yang sangat butuh Indonesia, lihat contohnya Freeport, dan lain-lain sebagainya. Terkhusus lagi dalam kasus Yerussalem, didalam negeri jangan lengah, bisa saja telah terjangkit konspirasi Trump, terbukti demikian cepatnya beredar buku ajar yang mencantumkan Yerussalem sebagai ibukota Israel. Manuver Donald Trump keras dan sombong, timpali secara keras dan sombong. Tunisia dan Negara-negara Afrika sudah memulai, boikot segala produknya dan akhiri hubungan diplomat.
Bukan hanya sekadar kata,"kecaaamm, boikooott...!!!, tapi action !. ***
Penulis adalah Dosen Antropologi Budaya STKIP Budi Daya Binjai
sumber:analisadaily.com
Jokowi Siap Keliling Indonesia Usai Kesehatan Pulih: Motivasi dan Ketemu PSI di Daerah
Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) buka-bukaan soal rencana keliling Indonesia seusai lesehatannya pulih. Prabowo juga membenarkan rencana pernah diungkap Relawan Projo itu.Saat ditemui awak media di
Razia di Karaoke Valentine Deli Serdang Berujung Penemuan Pil Ekstasi
Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Deli Serdang menemukan narkotika jenis ekstasi di tempat hiburan Karaoke Valentine, Kecamatan Beringin."Diduga peredaran obat terlarang di Karaoke Valen
Ledakan dari Pabrik Kimia di Cilegon, Tercium Bau Menyengat
Jakarta-Ledakan terdengar dari pabrik kimia PT Merak Chemical Indonesia (PT MCCI) atau yang sebelumnya dikenal sebagai PT Mitsubishi Chemical Indonesia (MCCI). Ledakan terjadi pada Senin (25/5/2026) s
Pemprov Tetapkan Direktur Keuangan dan Direktur Operasional PT Riau Petroleum
PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau telah menetapkan Calon Direktur Operasional dan Calon Direktur Keuangan PT Riau Petroleum.Penetapan dua direktur Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Riau itu m
Taklukkan Rute Pekanbaru-Payakumbuh, Jurnalis dan Vlogger Rekam Sensasi Berkendara Bersama Honda AT High
Riauterkini-PAYAKUMBUH-Main Dealer sepeda motor Honda wilayah Riau, PT Capella Dinamik Nusantara (CDN) sukses menggelar kegiatan touring bertajuk Media & Vlogger Premium Explore : Capturing the Comfor