Minggu, 14 Jun 2026
  • Home
  • Opini
  • Hutan Alam Hilang Muncul Perubahan Iklim

Hutan Alam Hilang Muncul Perubahan Iklim

Kamis, 17 Sep 2015 10:52

Terus berulang bencana kabut asap. Media memberitakan ada 1.438 titik api mengepung Sumatera dan Kalimantan. Terus, terus dan terus alam yang dipersalahkan karena dampak yang timbul seperti penerbangan yang harus tertunda.

Ketika bencana alam datang selalu, selalu dan selalu alam yang disalahkan. Terjadi kekeringan karena kemarau panjang, gagal panen di Jawa Barat ada sekitar 697 hektar lahan pertanian kekeringan, di Jawa Timur kekeringan lahan pertanian mencapai 1.500 hektar.

Ketika terjadi bencana alam yang disalahkan alam. Manusia selalu mencari pembenaran bukan mencari kebenaran. Hebatnya komentar-komentar itu datang dari para pemimpin negeri ini. Tindakan mencari pembenaran dari para pemimpin negeri ini satu tanda kurang (tidak) cerdas mengatasi masalah yang ada, tidak melihat akar masalah.

Terlihat pemerintah tidak mau menyentuh akar persoalan. Pemerintah lebih senang mencari pembenaran dengan mencari "kambing hitam" dari pada mencari kebenaran untuk selanjutnya menyelesaikan akar masalah yang ada. Bila tanpa menyentuh akar masalah maka masalah itu tidak pernah selesai, terus menjadi masalah.

Menyalahkan alam tidak bijak dan tidak cerdas. Pemerintah harus mampu menyelesaikan akar masalah. Pada dasarnya pemerintah bukan tidak mengetahui akar masalahnya sebab banyak para ahli, orang pintar di pemerintahan. Penanganan masalah alam sesungguhnya belum dilakukan pemerintah secara sungguh-sungguh.

Pemerintah dan masyarakat harus menjaga lingkungannya, bencana alam karena lingkungan tidak dijaga sungguh-sungguh. Ulah manusia yang merusak alam, bukan menjaga lingkungannya masing-masing. Pada hal menjaga lingkungan menjadi penentu tidak terjadinya benacana alam.

Manusia menjerit kekeringan, meratap karena kebanjiran. Namun, manusia tidak berhenti menebang pohon sesukanya, tanpa memperhitungkan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Perubahan cuaca yang terjadi seperti krisis air bersih, kabut asap, kebakaran hutan, tanah longsor dan lainnya yang disalahkan alam.

Sesungguhnya alam tidak salah. Cuaca semakin tak menentu, bencana terus terjadi, banjir sudah menjadi rutinitas, kemarau atau kekeringan sudah menjadi hal biasa, tanah longsor, banjir bandang yang menelan puluhan dan bahkan ratusan jiwa manusia dianggap satu hal yang biasa. Bencana kabut asap terus berulang terjadi dan selalu dikatakan ini bencana alam, musibah atau cobaan dari Allah SWT.

Pada hal Allah SWT telah mengatakan, kerusakan di bumi dan di langit akibat ulah manusia dan manusia yang bertanggungjawab atas kerusakan di bumi dan di langit. Bencana alam terjadi disebabkan kerusakan alam yang dilakukan manusia.

Seharusnya manusia dimintai pertanggungjawabannya atas bencana alam yang terjadi sebab akar masalah terjadinya bencana alam karena manusia melepaskan tanggungjawabnya sebagai pemimpin di bumi ini. Manusia harus menyelamatkan bumi yakni lingkungan hidup dimana manusia itu hidup tanpa terkecuali maka bencana alam yang terjadi seperti banjir, kemarau, tanah longsor, banjir bandang dipastikan penyebabnya karena sudah rusaknya alam yakni kondisi hutan alam di bumi ini sudah terganggu dan dalam skala nasional yakni kondisi hutan alam Indonesia sudah rusak dan dalam skala regional yakni kondisi hutan alam di Sumatera Utara sudah punah.

Akar Masalah Hutan Telah Punah

Bencana alam terus, terus dan terus terjadi karena akar masalahnya hutan alam Indonesia sudah habis. Faktanya semakin hari kerusakan lingkungan hidup di Indonesia semakin parah. Setiap detik hutan alam Indonesia terus hilang maka banjir yang datang tak mengherankan lagi.

Berbagai kritikan di media massa (cetak, elektronik dan media sosial) terus hadir seperti tulisan ini diterbitkan di Harian Analisa Medan. Begitu juga dari berbagai pihak seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), komentar para akademisi, para pakar lingkungan akan tetapi belum mendapat respon yang baik dari pemerintah.

Masalah lingkungan hidup adalah masalah fakta sebab jika dikatakan sudah dilaksanakan maka publik (masyarakat) dapat melihat langsung apakah benar atau tidak. Masalah lingkungan adalah masalah eksakta, masalah alam kenyataan sehingga tidak bisa hanya sekadar katanya akan tetapi yang penting nyatanya bagaimana.

Secara kasat mata dapat dilihat dan secara awam bisa dirasakan serta secara ilmiah mudah dipahami bahwa dari tahun 1996 - 2003, laju deforestasi mencapai 3,5 juta hektare per tahun. Namun, saat ini menjadi 450 hektar. Angka ini menunjukkan deforestasi masih tinggal, mencapai 15 persen. Semua orang mengetahui dan merasakan bencana alam yang melanda.

Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota harus menjaga hutan yang ada di wilayahnya secara nyata bukan hanya katanya. Komitmen pemerintah sangat menentukan menjaga keberadaan hutan alam yang tersisa, sehingga tidak hilang total. Hutan alam yang tersisa itu harus dipertahankan dan kembali dihutankan.

Program pemerintah dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) harus dilaksanakan. Penyusunan RTWRP harus menyangkut daerah kawasan hutan, apakah itu hutan perkotaan dan hutan provinsi. Seharusnya pada masing-masing daerah melakukan perbaikan tata kelola hutan di daerah untuk mereduksi kerusakan hutan.

Contoh sederhana, hilang hutan kota membuat kota gersang dan selalu banjir bila hujan turun dan selalu kekeringan bila hujan tidak turun hanya dalam waktu satu bulan saja. Hutan alam di setiap Provinsi sudah punah sekitar 85 persen. Setiap Pemerintah Provinsi di Indonesia harus bertanggungjawab provinsinya masing-masing.

Penulis mengajak semua pembaca untuk merenung sejenak sebelum selesai membaca tulisan ini yakni mari renungkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dilihat secara kasat mata. Apa yang Anda lihat dan apa yang Anda rasakan. RTH pada masing-masing kota tempat tinggal Anda sudah hilang.

Coba renungkan lingkungan tempat tinggal Anda dalam 10 tahun terakhir, perubahan draktis akan dirasakan bahwa daerah atau lingkungan tempat tinggal kita sesungguhnya sudah sangat minim RTH.

Mari renungkan, dahulu tempat tinggal Anda terasa sejuk, nyaman kini berganti gersang dan tak nyaman. Perubahan iklim terjadi dari yang dahulu sejuk kini bergeser menjadi gerah dan akan terus berubah dari gerah kepada kepanasan. Kondisi itu bukan terjadi begitu saja tanpa sebab.

Perubahan iklim dari sejuk menjadi gersang dan terus terjadi perubahan dari hari ke hari pasti ada penyebabnya yakni hilangnya hutan alam yang setiap hari habis dibabat. Begitu juga dengan tempat tinggal Anda, setiap hari RTH terus berkurang. Hilangnya RTH di sekitar tempat tinggal Anda penyebab nyata perubahan iklim.

Seharusnya RTH yang ada terus dipertahankan. Seiring dengan pertambahan penduduk maka RTH harus semakin luas atau minimal 30 persen berbanding 70 persen. Artinya, luas bangunan yang ada di daerah tempat tinggal Anda harus ada 30 persennya RTH.

Adakah persentase minimal 30 persen RTH itu? Bila ada maka perubahan iklim tidak akan terjadi dan yang lebih baik lagi RTH itu diatas 30 persen. Artinya, semakin besar persentase RTH maka semakin sulit terjadi perubahan iklim. Tidak percaya? Mari kita buktikan.

(harian analisa)
Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 13 Jun 2026 18:14

    Satgas Pamtas Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad Kembali Ukir Prestasi, Gagalkan Penyelundupan 21,4 Kg Sabu dan Amankan WNA di Entikong

    Entikong - Satgas Pamtas RIâ€"Malaysia Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad kembali menorehkan prestasi gemilang dalam menjaga kedaulatan negara dan melindungi generasi bangsa dari ancaman narkotika. Personel P

  • Sabtu, 13 Jun 2026 18:13

    Taekwondo Indonesia Loloskan 3 Atlet ke Asian Games Nagoya 2026, Siap Tantang Raksasa Asia

    Jakarta - Tidak semua kemenangan diumumkan dari atas podium. Sebagian datang lebih dahulu melalui lembar hasil pertandingan, akumulasi poin, dan keputusan resmi yang memastikan sebuah negara berhak me

  • Sabtu, 13 Jun 2026 16:24

    Liquid Narkoba Beredar di Pekanbaru, dr. Nining: Jangan Pernah Mencoba Kalau Tidak Mau Kecanduan

    Jangan pernah mencoba, sebab isi pod getar bukan seperti vape yang isinya hanya sekadar nikotin.Tapi pod getar ini memang dikaitkan dengan zat yang isi di dalamnya itu adalah mengandung etomidat.Sekar

  • Sabtu, 13 Jun 2026 16:06

    Antusias Warga dan Personel Polling Dukung Tim Jagoan,

    PEKANBARU - Antuasias Piala Dunia 2026 tampak di seluruh Polsek Polres Dumai, Sabtu (13/6/2026).Bersama dengan warga, semangat perhelatan sepakbola dunia empat tahunan tersebut begitu terasa lewat keg

  • Sabtu, 13 Jun 2026 16:02

    KPK Sita Dokumen Penting Terkait Kasus Suap Pengadaan di Muara Enim

    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan penyitaan sejumlah dokumen penting terkait proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim. Tindakan ini merupakan bag

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.