Kebijakan PLN yang Membebani Ekonomi Rakyat
Sabtu, 19 Sep 2015 09:59
Mereka harus membeli berulang kali, dan berulang kali pula mereka dikena biaya administrasi. Padahal, Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mendapatkan keuntungan dengan sistem uang dibayar di muka. Tarif yang dibayar konsumen pun tetap sama dengan sistem pascabayar, sementara pada pelanggan sambungan listrik baru otomatis hanya disediakan sistem prabayar. Sudah menjadi rahasia umum, pengelolaan listrik nasional yang dimonopoli PLN hingga kini sarat masalah, antara lain karena berbagai tarikan kepentingan ala mafia. Industri sudah puluhan tahun mengeluh harga listrik mahal yang membuat produk dalam negeri tidak kompetitif, belum lagi listrik bayarpet yang mengganggu produksi dan suplai.
Sistem token harus diakui punya banyak kelebihan. Namun, sistem ini membuat pelanggan miskin dirugikan. Rakyat miskin justru terbebani oleh biaya administrasi jika pulsa listrik yang dibelinya di bawah Rp 50.000. Mereka terpaksa membayar biaya administrasi bisa empat kali lipat ketimbang pelanggan yang mampu membeli pulsa pecahan besar. Orang kaya yang menggunakan meteran lebih beruntung karena hanya membayar sekali di akhir bulan. Keprihatinan Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli yang mengkritik sistem pembayaran ini, beralasan. PLN adalah perusahaan yang bernaung di bawah kendali negara dengan tugas menjamin ketersediaan listrik bagi masyarakat.
Keuntungan bukan satu satunya orientasi perusahaan. Sebagai sebuah perusahaan yang mengemban tugas negara melayani kebutuhan masyarakat, PLN selayaknya mengedepankan jaminan ketersediaan listrik yang terjangkau serta pelayanan yang berkeadilan. Sistem listrik prabayar tak perlu dihapus. Sistem ini punya banyak kelebihan. Pada sistem ini, pelanggan membayar di muka untuk membeli energi listrik yang akan digunakanya. Pelanggan lebih mudah mengendalikan pemakaian listrik. Mereka tinggal membeli di muka sesuai kebutuhan serta tidak akan terkena biaya keterlambatan. Sistem ini membuat PLN tak perlu lagi menggunakan tenaga petugas pencatat meter.
Tak ada lagi komplain adanya petugas pencatat yang ngawur atau petugas yang memanipulasi meteran untuk memeras pelanggan. Sedangkan pada skala lebih luas lagi, sistem ini diharapkan dapat menghemat penggunaan listrik secara nasional. Bila dicermati, ada ketidakdilan bagi pelanggan miskin. Dari pola perilaku penggunaan listrik, tampaknya lebih masuk akal kelompok masyarakat yang boros adalah kalangan atas atau kaya karena biaya listrik yang harus dikeluarkannya per bulan bukan masalah bagi kelompok ini. Kelompok masyarakat berpenghasilan kecil tentu berpikir seribu kali untuk berfoya-foya menggunakan listrik.
Terbebani
Namun, dengan sistem prabayar, justru kelompok miskin ini yang ketiban sial dan terbebani. Biaya yang harus dikeluarkan pelanggan meliputi tarif dasar listrik, biaya administrasi bank atau payment point online banking, dan biaya penerangan jalan. Sistem token membuat pelanggan miskin harus membayar biaya administrasi berkali-kali. Padahal salah satu tujuan dasar dari sistem prabayar adalah pelanggan tidak dirugikan karena besarnya pulsa yang dibeli sama banyaknya dengan pemakaian listrik yang digunakan. Dengan sistem ini pula wajar bila muncul penilaian PLN dan rekanan meraup keuntungan dari uang pra-bayar pulsa listrik. Dengan sistem prabayar, PLN mendapat uang di depan.
Dengan jumlah pelanggan sampai 56 juta maka uang yang diterima PLN sebelum energinya dipakai pelanggan pasti Triliunan Rupiah. Dana ini tentu saja menguntungkan PLN dan bank yang bersinergi dalam pembayaran lisrtik pelanggan. Latar belakang itulah yang membuat sistem ini harus dibenahi agar tidak membebani pelanggan kecil. Pembenahan setidaknya meliputi, pertama, PLN tidak hanya menyediakan infrastruktur listrik prabayar untuk dapat digunakan masyarakat. PLN tetap harus memberikan alternatif kepada setiap pelanggan, termasuk rakyat miskin, untuk memilih sistem pembayaran listriknya, meteran atau token. Kedua, bila selama ini PLN menggiring pelanggan menggunakan sistem prabayar maka harus diupayakan agar tidak ada biaya administrasi.
Skema pembelian pulsa listrik prabayar yaitu semakin sering masyarakat membeli token maka akan semakin besar potongan biaya administrasi harus dihilangkan. Kajian ini sekaligus agar masyarakat bisa mendapatkan kemanfaatan optimal atas listrik prabayar. Ketiga, perbaikan sistem juga harus melihat kelemahan yang terjadi di lapangan selama ini misalnya manakala pulsa listrik habis pada saat tak terduga, pelanggan kesulitan menemukan tempat pembayaran. Jangan rakyat dirugikan oleh sistem yang disebut sebagai terobosan PLN. Tugas dan fungsi PLN adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan pemerataan. PLN juga selalu disubsidi negara. Karena itu sangat memprihatinkan bila justru PLN membebani pelanggan miskin.
Tentunya, keuntungan pihak-pihak yang mendapatkan pembayaran uang di muka ini tidak sedikit, mengingat penjualan tenaga listrik PLN sekitar Rp 200 Triliun setahun. Jika disimpan saja di bank dengan tingkat bunga 7,75 persen per tahun, bunganya bisa lebih dari Rp 1 Triliun sebulan. Dengan pola hampir mirip, perusahaan e-commerce terbesar di dunia Alibaba bisa meraup untung besar. Padahal, perusahaan yang mencatatkan initial publicoffering (IPO) terbesar di dunia ini hanya menahan uang pembayaran konsumen ke penjual barang untuk beberapa saat, yakni sebelum mendapatkan konfirmasi barang telah diterima konsumen. Tak hanya masalah token listrik. Yang lebih substansial, masalah pembangunan infrastruktur pembangkit listrik harus dikaji ulang seiring asumsi ekonomi yang kini berubah.
Pertumbuhan ekonomi maupun gerak industri telah melambat, tertekan gejolak ekonomi global maupun depresiasi Rupiah yang tajam. Di sisi lain, pembangunan power plant tersebut tetap harus dipercepat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan elektrifikasi listrik. Semua warga negara nantinya harus mendapatkan pelayanan dasar seperti listrik, dengan harga terjangkau. Oleh karena itu, rencana pembangunan power plant 35.000 MW sampai tahun 2019 harus betul-betul dihitung ulang agar tidak menyebabkan oversupply dan dipastikan program pembangunan berjalan lancar.(harian analisa)
Opini
Polda Metro Siapkan Pengamanan 47 Kegiatan di Jakarta dan Sekitarnya
Jakarta - Polda Metro Jaya mengamankan 47 kegiatan yang berlangsung di wilayah hukumnya hari ini. Kegiatan terdiri dari tiga penyampaian pendapat di muka umum dan 44 kegiatan masyarakat.Kabid Humas Po
Purbaya Janji Nggak Ada Kenaikan Pajak, tapi Kejar Penunggak
Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan menaikkan tarif pajak meski berupaya meningkatkan penerimaan negara. Langkah yang ditempuh adalah mengoptimalkan penagi
AXIS Nation Cup 2026 Kembali Digelar, Perkuat Pembinaan Talenta Futsal Pelajar di 40 Kota
JAKARTA-PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) melalui brand AXIS kembali menghadirkan AXIS Nation Cup (ANC) 2026, turnamen futsal antarpelajar jenjang SMA dan SMK yang memasuki tahun keempat peny
Mulai 3 Agustus, Ribuan UMKM Bisa Urus NIB hingga Sertifikat Halal Gratis di DPMPTSP Riau
PEKANBARU - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ingin mengurus legalitas usaha secara gratis diminta memastikan seluruh dokumen persyaratan telah lengkap sebelum mendatangi lokasi pela
Jenguk Pasien RSUD Dorak, Bupati Asmar Pastikan Mutu Layanan Meranti
MERANTI - Bupati Kepulauan Meranti Asmar mengunjungi tokoh masyarakat Katan beserta sejumlah warga yang tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dorak, Selatpanjang, Jumat (31/7/20