Opini
Meninjau Ulang Niat Bermedia Sosial
Oleh: M. Arif Suhada
Selasa, 27 Des 2016 06:56
Kenyataan bahwa hanya ada satu akun media sosial yang saya punya, tidak jarang membuat saya kerap mendapat olokan dari kawan-kawan. Saya dianggap sebagai orang yang tidak gaul, kurang update, gagap teknologi, sampai kolot. Bukannya saya menutup diri pada jenis media sosial yang lain, tapi saya merasa penambahan akun media sosial itu belum teramat penting. Sehingga, apabila tetap dipaksakan, yang terjadi justru bisa berdampak pada keterbuaian dalam bermedia sosial secara berlebihan. Mengingat media sosial itu sangat adiktif.
Bagi saya, satu akun facebook yang saya punya rasanya sudah lebih dari cukup. Jika tujuannya untuk berinteraksi, maka satu akun media sosial itu sudah mewakili interaksi saya di dunia maya. Lagi pula yang saya amati, dengan banyaknya akun media sosial itu orang-orang menjadi teramat fokus menjalin komunikasi semu di dunia maya, tapi pada saat bersamaan mereka cenderung mengabaikan interaksi dengan orang-orang di dunia nyata.
Dengan itu saya kemudian membayangkan, betapa banyak waktu yang nantinya terbuang percuma sejalan dengan semakin banyak akun media sosial yang kita miliki. Dengan bertambahnya akun media sosial itu, maka setidaknya bertambah pula "pekerjaan" kita untuk mengecek adakah pemberitahuan masuk pada setiap akun media sosial tersebut.
Dan yakinlah, bila telah terhubung di sana, sulit bagi kita untuk tidak terlenakan. Bukankah seringkali kita mendengar, orang-orang mengutarakan keresahannya, bahwa mereka kerapkali lupa waktu bila sudah membuka akun media sosialnya. Niat awal yang semula ditujukan untuk mengerjakan tugas, bisa terlupa bila telah bermedia sosial.
Lupa diri
Terbuai di media sosial bukan hanya menjadikan penggunanya lupa waktu, tapi juga lupa diri. Di media sosial, banyak orang yang tidak lagi menjadi dirinya sendiri seperti yang ia tampilkan di dunia nyata. Sosok yang di kehidupan nyata kita kenal santun, boleh jadi di media sosial ia tampak bringas dengan kerap berujar kata-kata kasar.
Tidak sedikit kasus menimpa pengguna media sosial yang terjerat ke ranah hukum akibat ujaran kebencian, kata-kata kasar, postingan fitnah yang dituliskannya. Mengapa itu bisa terjadi? karena media sosial memberikan kebebasan bagi pengguna untuk mengungkapkan perasaannya. Celakanya, fasilitas itu digunakan pula oleh pengguna yang kerap tidak bisa mengontrol emosi.
Maka kini banyak pengguna media sosial yang ikut terjerembab pada suatu perdebatan kusir tanpa akhir. Mereka saling menshare informasi-informasi yang menguatkan pandangan pada apa yang diyakininya. Tak lagi peduli apakah informasi yang dibagikan tersebut merupakan berita hoax atau bukan. Selagi hal itu sejalan dengan pandangannya, maka tanpa ragu ia akan membagikannya ke publik. Alhasil, media sosial sepertinya sudah tak lagi fokus dimanfaatkan pengguna sebagai wadah silaturahmi, melainkan ajang untuk saling berperang komentar, saling bertikai, yang tentu saja berpotensi memutus persaudaraan.
Pemicunya tidak lain adalah ramainya postingan bernada provokatif di media sosial. Di jenis media sosial manapun postingan provokatif sulit dihindari. Kadang yang mengesalkan adalah mereka yang menshare merupakan orang-orang yang tergabung di pertemanan media sosial kita. Akibatnya, bagi pengguna yang sudah jemu dan tak bisa mengontrol emosi, perang komentar antar pengguna media sosial tak bisa lagi terelakkan. Orang-orang awam pun rentan terjerumus ikut "perang" komentar pada sesuatu yang kadang ia tidak mengerti, yang tentu saja hal itu dapat semakin memperkeruh suasana.
Bila sudah pada tahap yang riskan, perdebatan di media sosial bisa pula berbuah pada tindakan saling unfollow/unfriend (tidak mengikuti/menghapus pertemanan) atau bahkan memblokir akun yang bersangkutan di media sosial, kendatipun itu pada orang-orang yang ia kenal. Jika tindakan itu telah dilakukan, maka kecil kemungkinan di dunia nyata ia tetap mampu menjalin hubungan pertemanan dengan baik oleh pihak-pihak yang telah diblacklistnya tersebut.
Dengan semua uraian di atas itu, jelaslah media sosial itu tak ubahnya hutan belantara asing yang kita harus selalu waspada dalam penggunaannya. Barangkali hanya mereka yang mendapat hidayah Tuhan saja yang mampu memanfaatkan media sosial itu pada sesuatu yang positif dan membawa nilai kebaikan bagi orang lain.
Oleh karena itu, jika ternyata media sosial tak membawa hal positif untukmu. Jika ternyata media sosial membuang waktumu secara sia-sia. Jika ternyata media sosial mengubahmu menjadi orang yang acuh tak acuh terhadap lingkungan. Jika media sosial ternyata membuatmu pribadi yang mudah tersulut emosinya. Jika media sosial menjangkitimu menjadi si penebar berita hoax dan kebencian. Jika media sosial membuatmu memutus persaudaraan dengan temanmu sendiri.
Maka sebaiknya tinjau ulang niatmu bermedia sosial, lalu perbaiki. Atau, jika dirasa belum siap, pilihan untuk meminimalkan jumlah akun media sosial yang kita punya, atau bahkan rehat sejenak dari aktivitas bermedia sosial di dunia maya patut untuk direnungkan. Tunggu sampai hidayah Tuhan itu datang!. ***
Penulis adalah mahasiswa UIN Sumatera Utara
sumber:harian.analisadaily.com
Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil
BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi. Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe
Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII
Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke