Jumat, 07 Agu 2026
- Home
- Pendidikan
- Bedah Buku Karya Alit, Sejarah Suku Anak Rawa dan Perjuangan Identitas Adat
Pendidikan
Bedah Buku Karya Alit, Sejarah Suku Anak Rawa dan Perjuangan Identitas Adat
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 07 Agu 2026 09:52
PEKANBARU - Penulis sekaligus sarjana pertama dari Suku Asli Anak Rawa, Alit membedah karya tulisnya yang berjudul Menjaga Jejak Budaya: Mengenal Kehidupan Suku Asli Anak Rawa Kamis (6/8/2026). Buku ini menjadi dokumentasi tertulis pertama yang merangkum asal-usul, kearifan lokal, serta dinamika sosial dan lingkungan masyarakat adat tersebut.
Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning (Unilak) Dr Mohd Fauzi SS, MHum, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Siak Hendro, serta General Manager Stakeholder Relations PT RAPP Wan Mohd Jakh Anza.
Dokumentasi Sejarah dan Pengakuan Adat
Dalam pemaparannya, Alit menjelaskan bahwa penyusunan buku ini didorong oleh kekhawatiran hilangnya jejak sejarah karena para tetua adat di kampung sudah semakin berumur. Melalui buku ini, ia menuangkan akar sejarah hingga hubungan masyarakat Anak Rawa dengan lingkungan sekitarnya.
"Ketua kampung itu sudah tua. Mereka harus meninggalkan sejarah ini tidak hanya dalam bentuk cerita, tapi harus ada bukti tertulis," tegasnya.
Alit menceritakan panjangnya perjuangan mendapat pengakuan identitas. Sebelum 2012, eksistensi Anak Rawa belum teregistrasi di lembaga adat Riau yang saat itu hanya mencatat tujuh komunitas adat. Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan terbitnya Peraturan Daerah Kabupaten Siak Nomor 2 Tahun 2015 yang menetapkan delapan kampung adat, termasuk Kampung Adat Asli Anak Rawa di Penyengat.
Wilayah adat ini memiliki populasi sekitar 2.000 jiwa. Meski saat ini sudah berbaur dengan berbagai suku, hampir 90 persen penduduknya merupakan Suku Asli Anak Rawa.
Dinamika Kepercayaan dan Tantangan Pendidikan
Salah satu dinamika sosial yang dibahas adalah pencatatan identitas agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Awalnya, masyarakat Anak Rawa merupakan penghayat kepercayaan. Namun, regulasi birokrasi mengharuskan mereka memilih agama resmi.
"Dulu pengurusan birokrasi administrasi kependudukan dilakukan kolektif melalui jalur laut. Di KTP saya dibuat Islam agar mempermudah birokrasi, lalu sempat diarahkan ke Buddha dan Kristen. Bagi masyarakat di sana, yang terpenting adalah tidak meninggalkan kepercayaan penghayat," bebernya.
Selain identitas, tantangan terbesar masyarakat Anak Rawa saat ini adalah arus modernisasi dan rendahnya minat pendidikan di kalangan generasi muda. Alit khawatir masyarakat adat perlahan meninggalkan tradisi mereka tanpa penyaring yang baik.
"Anak muda di sana malas untuk melanjutkan sekolah. Di Anak Rawa itu kita kelebihan orang jujur, tetapi kekurangan orang pintar," keluhnya.
Dukungan Swasta dan Akademisi
Melihat kondisi tersebut, kehadiran pihak swasta dinilai memberikan dampak nyata. Alit menyebut PT RAPP memiliki andil besar dalam memajukan sumber daya manusia dan ekonomi di kampung adatnya.
"Mereka memberikan beasiswa kuliah sampai selesai untuk Anak Rawa, memberdayakan masyarakat mengolah nanas, hingga membangun UMKM dan memasarkannya," paparnya.
Dukungan serupa juga datang dari kalangan akademisi. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak, Mohd Fauzi memberikan apresiasi tinggi terhadap terbitnya buku perdana tentang Suku Asli Anak Rawa ini.
"Buku ini membuka ruang riset yang luas. Kami akan memasukkannya ke dalam jurnal dan mengupayakan agar masuk ke Sinta 2," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Siak, Hendro menyambut baik kegiatan literasi ini dan berharap acara bedah buku serupa dapat dilaksanakan langsung di Kabupaten Siak.(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/bedah-buku-karya-alit-sejarah-suku-anak-rawa-dan-perjuangan-identitas-adat.html
komentar Pembaca