Jumat, 29 Mei 2026

Kampus

Ratusan Guru Swasta di Sukabumi Terancam Nganggur

Rabu, 05 Agu 2015 10:23
ilustasi Okezone

SUKABUMI-Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sukabumi, Tatan Kustandi, mengaku prihatin mengenai informasi ratusan guru swasta di Kota Sukabumi terancam tidak lagi bisa mengajar alias menganggur. Apalagi kini guru yang mengajar di delapan SMA dan SMK di Kota Sukabumi dibayang-bayangi kehilangan pekerjaannya.

"Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Bagaimana nasib guru nanti bila sekolah mereka tutup tidak beroperasi kembali. Kami akan mendorong pemerintah untuk segera membantu kesulitan yang kini membayang-bayangi para guru swasta secepatnya," kata Tatan Kustandi, belum lama ini.

Sekolah yang selama ini menjadi satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kata Tatan Kustandi, terancam ditutup karena tidak ada lagi siswanya. Mereka dipastikan tidak bisa lagi mengajar karena pihak sekolah tidak lagi mampu membayar seluruh kewajibanya. Pihak sekolah yang selama ini hanya mengandalkan dari iuran bulanan atau Sumbangan Pembangunan Pendidikan (SPP) siswa, kini tidak mampu untuk membayarnya.

"Menindaklanjuti keresahan guru, kami akan segera mengundang seluruh kepala sekolah swasta, BMPS dan Dinas Pendidikan secepatnya," ujarnya.

Merujuk data BMPS Kota Sukabumi, terdapat 177 sekolah swasta dari jenjang SD hingga SMK dengan 1.162 guru dan 18.000 siswa. Sementara dari total 177 sekolah sekitar 60 persennya berstatus Ruang Kelas Kosong (RKK). Adapun delapan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta dipastikan tidak lagi akan beroperasi. BPMS memperkirakan tahun mendatang, jumlah sekolah swasta yang mengalami nasib serupa akan terus bertambah.

"Kami kini memasuki masa prihatin karena tidak hanya sekolah swasta terancam gulung tikar. Tapi tiga ratusan orang guru swasta kini terancam menganggur," kata Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BPMS) Kota Sukabumi, Endang Iman.

Para guru swasta yang selama ini hanya memiliki kemampuan mengajar, kata Endang Iman, mulai dibayang-bayangi kebingungan untuk mencari pekerjaan lainnya. Kemampuan yang selama ini dimiliki sia-sia seiring sekolah mereka akan segera di tutup.

"Mereka tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Mereka kini kehilangan pekerjaannya seiring pihak sekolah tidak lagi memiliki siswanya," ucapnya.

Endang Iman mencontohkan SMA Pasundan di Jalan Pasundan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Jumlah siwa baru hanya dua orang dari lima pendaftar. Sedangkan sebelumnya lebih seratus orang siswa belajar disekolah itu.

"Kondisi ini tidak hanya terjadi di SMA Pasundan, tetapi belasan sekolah dalam kondisi serupa. Sekolah-sekolah itu, tidak lagi akan beroperasi seperti biasanya karena tidak lagi memiliki murid," tuturnya.

Endang Iman tidak hanya mengeluhkan semakin menurunnya animo warga menyekolahkan anaknya disekolah swasta, kendati secara kualitas tidak kalah dibandingkan dengan sekolah negeri. Tapi mempertanyakan kebijakan pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi.

BPMS menuduh pemerintah membiarkan pihak sekolah negeri yang terus membuka kuota pendaftaran siswa baru. Padahal penerimaan siswa baru melalui PPBD telah selesai.

"Pembiaran yang dilakukan pemerintah sangat menyulitkan sekolah-sekolah swasta merekrut siswa baru. Pemerintah telah berbuat semena-mena dengan melanggar aturan sendiri," katanya.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Sukabumi, Dudi Fathul Djawad mengaku prihatin dengan turunnya animo warga yang tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. Padahal secara kualitas sekolah swasta tidak kalah dibandingkan dengan sekolah negeri lainnya.

"Kami memang prihatin dengan adanya stigma warga atas kualitas swasta. Padahal baik di negeri dan swasta, memiliki kualitas pengajar berkualitas," jelasnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tidak terulang, kata Dudi Fathul Djawad, Disdik tidak hanya akan melakukan upaya sosialisasi secara terus menerus dengan masyarakat dalam setiap kegiatan. Tapi akan mendorong pihak sekolah swasta untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Terutama meningkatkan kualitas pengajar.

"Kami berharap sekolah swasta akan lebih mampu berkompetitif dengan sekolah lainnya. Termasuk akan mensosialisasikan keberadaan sekolah swasta yang tidak kalah berkualitas dengan sekolah lainnya kepada masyarakat," katanya.

(okezone.com)
Pendidikan
Berita Terkait
  • Kamis, 28 Mei 2026 18:01

    Penguatan Transmisi Jadi Sorotan dalam Perbaikan Sistem Kelistrikan Sumatera

    JAKARTA - Blackout di Sumatera harus menjadi pengingat pentingnya penguatan jaringan transmisi untuk menjaga pasokan listrik di wilayah tersebut. Jaringan interkoneksi Sumatera yang membentang lintas

  • Kamis, 28 Mei 2026 17:57

    Dukung Ketahanan Pangan, BRI Salurkan KUR Rp65,9 Triliun Jangkau 558 Ribu Petani dan 23 Ribu Nelayan

    JAKARTA - Penguatan fondasi ekonomi kerakyatan menjadi fokus PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dalam menyalurkan pembiayaan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Upaya ini d

  • Kamis, 28 Mei 2026 17:55

    Menteri PU Targetkan 93 Sekolah Rakyat Tahap II Rampung Juni 2026

    JAKARTA - Pemerintah mempercepat penyelesaian pembangunan sekolah rakyat tahap II agar seluruh proyek rampung pada 20 Juni 2026 dan siap digunakan pada tahun ajaran 2026/2027 di Juli.Hingga 25 Mei 202

  • Kamis, 28 Mei 2026 17:50

    Kemendag Take Down 2.639 Iklan Elektronik Bermasalah hingga Maret 2026

    JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta penurunan (take down) 2.639 iklan elektronik yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan melalui patroli siber pada 21 platform

  • Kamis, 28 Mei 2026 17:43

    Kemenag Dukung Aparat Usut Kasus Pembubaran Ibadah di Gereja Bantul

    JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) menyesalkan peristiwa pembubaran ibadah di Gereja Misa Sejahtera, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kemenag juga menegaskan dukungannya terhadap langkah a

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.