Kamis, 16 Jul 2026
Hasil Penelitian: Hydroxychloroquine Tidak Terlalu Efektif Obati Covid-19
admin
Rabu, 22 Apr 2020 10:44
Hydroxychloroquine, obat malaria yang dipuji oleh Presiden AS Donald Trump sebagai "game-changer" dan kemungkinan "hadiah dari Tuhan" dalam merawat pasien coronavirus, tampaknya tidak terlalu membantu pasien menyingkirkan virus Covid-19.
Kesimpulan itu berdasarkan hasil studi terhadap 150 pasien rawat inap di 16 pusat perawatan di China.
Dalam penelitian ini, para peneliti membagi pasien menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 75 orang.
Satu kelompok menerima standar perawatan untuk pasien dengan penyakit pernapasan dan yang lainnya menerima standar perawatan ditambah hydroxychloroquine.
Studi ini menemukan bahwa hydroxychloroquine tidak membantu pasien menghilangkan virus Covid-19 lebih baik daripada perawatan standar, dan obat ini memiliki kemungkinan lebih tinggi menyebabkan efek samping. Meski begitu, hydroxychloroquine membantu mengurangi peradangan.
Dilansir oleh Al Arabiya, Rabu (22/4), tingkat konversi negatif 28 hari secara keseluruhan (yang merupakan penanda untuk memprediksi hasil pengobatan dan kekambuhan virus) untuk pasien yang menerima perawatan standar dan hydroxychloroquine adalah 85,4 persen, sedangkan 81,3 persen untuk pasien yang hanya menerima perawatan standar.
Namun, ada lebih banyak efek samping pada kelompok 75 orang yang menggunakan hydroxychloroquine, tetapi kebanyakan ringan, yang paling umum adalah diare. Satu pasien terpaksa menghentikan penggunaan obat ini karena penglihatan kabur.
"Saat ini, tidak ada bukti yang meyakinkan dari uji klinis yang dirancang dengan baik untuk mendukung penggunaan CQ/HCQ (chloroquine/hydroxychloroquine) dengan kemanjuran dan keamanan yang baik untuk pengobatan Covid-19," tulis para peneliti dalam makalah mereka.
"Ketika menguji perawatan baru, kami mencari sinyal yang menunjukkan bahwa mereka mungkin efektif sebelum melanjutkan ke studi yang lebih besar," kata Allen Cheng, seorang dokter penyakit menular dan profesor epidemiologi di Universitas Monash Melbourne.
"Studi ini tidak menunjukkan sinyal apa pun, jadi kemungkinan besar tidak akan bermanfaat secara klinis," ujar dia menyimpulkan.
Menganalisis Catatan Medis Pasien di Amerika
Sebuah analisis dari Veterans Health Administration (VA) dalam data AS menemukan bahwa 28 persen dari 97 pasien yang diberi hydroxychloroquine bersama dengan perawatan standar meninggal, dibandingkan dengan tingkat kematian 11 persen untuk 158 pasien yang tidak menerima obat.
Tingkat kematian adalah 22 persen untuk 113 pasien yang diberi hydroxychloroquine plus antibiotik azithromycin.
Penelitian yang belum diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal medis ini bukan hasil uji klinis. Ini menganalisis catatan medis dari 368 pria yang dirawat di rumah sakit dengan infeksi coronavirus yang dikonfirmasi di pusat-pusat VA yang meninggal atau dipulangkan pada 11 April, menurut makalah yang diposting online untuk para peneliti.
Hydroxychloroquine juga tampaknya tidak berdampak pada kebutuhan pasien untuk bantuan pernapasan.
Tingkat ventilasi mekanik adalah 13 persen untuk mereka yang mendapat obat versus 14 persen untuk pasien yang hanya menerima perawatan suportif.
Bagi mereka yang menerima obat malaria dan antibiotik, hanya 7 persen yang membutuhkan bantuan pernapasan.
Sumber: merdeka.com
komentar Pembaca