Rabu, 05 Agu 2026
Peristiwa,
Jovi, Gajah Andalan Mitigasi Konflik di Riau Mati
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 04 Agu 2026 11:43
PEKANBARU-Kabar duka datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak. Gajah binaan bernama Jovi mati setelah menjalani perawatan intensif selama 34 hari.
Gajah jantan berusia sekitar 46 tahun itu dinyatakan mati pada Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB. Selama ini Jovi menjadi andalan dalam penanganan konflik manusia dan gajah liar di Provinsi Riau.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Ujang Holisudin, mengatakan Jovi mengalami komplikasi infeksi saluran pencernaan dan saluran pernapasan bagian atas yang berkembang menjadi myopathy atau gangguan otot berat.
"Sejak gejala awal muncul, tim dokter hewan telah melakukan penanganan intensif sesuai standar operasional, mulai dari terapi cairan infus selama 24 jam, pemberian antibiotik, vitamin, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, hingga pemantauan kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium secara berkala," ujar Ujang, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, gejala penyakit mulai terlihat pada 1 Juli 2026. Saat itu Jovi mengalami kelemahan umum, kehilangan nafsu makan, tremor, kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor, serta kesulitan untuk berdiri.
Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, menyebut kondisi Jovi sempat menunjukkan perkembangan selama menjalani perawatan. Kekakuan pada anggota tubuh mulai berkurang, nafsu makan perlahan membaik.
Bahkan, pada hari keenam perawatan, Jovi sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah. Selain itu, hasil pemeriksaan laboratorium darah juga menunjukkan tingkat infeksi sempat menurun setelah mendapatkan terapi medis.
Namun, perbaikan tersebut tidak berlangsung lama. Kondisi otot Jovi terus melemah hingga berkembang menjadi myopathy berat yang menyebabkan satwa tersebut kembali tidak mampu berdiri.
Selama masa perawatan, kebutuhan nutrisi dan cairan tetap dipenuhi melalui pemberian pakan khusus serta terapi infus intensif.
Dalam upaya penyelamatan Jovi, BBKSDA Riau juga berkoordinasi dengan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan. Diskusi teknis dilakukan bersama dokter hewan dari berbagai unit di lingkungan Kementerian Kehutanan guna memperoleh penanganan medis terbaik.
Kondisi Jovi dilaporkan kembali memburuk pada Minggu (2/8/2026). Gajah tersebut tidak lagi mau makan maupun minum sehingga terapi intensif terus dilakukan.
Pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, suhu tubuh Jovi meningkat hingga sekitar 40 derajat Celsius. Tim medis terus memberikan terapi cairan melalui infus, pemberian cairan secara oral maupun rektal, serta tindakan suportif lainnya.
"Namun, sekitar pukul 20.43 WIB, Jovi mengalami tremor hebat. Empat menit kemudian, tepat pukul 20.47 WIB, gajah tersebut dinyatakan mati," kata Rini.
Untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah, tim medis langsung melakukan nekropsi serta mengambil sampel organ dan jaringan untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan. Setelah seluruh proses selesai, bangkai Jovi dimakamkan sesuai prosedur.
Jovi merupakan gajah jinak jantan yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu dan bergabung di PLG Minas sejak 18 Februari 1998. Selama lebih dari dua dekade, Jovi menjadi salah satu gajah binaan yang berperan penting dalam operasi mitigasi konflik manusia dan gajah liar di berbagai wilayah Riau.
BBKSDA Riau menyampaikan apresiasi kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang terlibat dalam penanganan Jovi.
Masyarakat juga diajak untuk terus mendukung upaya pelestarian gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, pengurangan konflik manusia dan satwa liar, serta mendukung berbagai program konservasi.(ckplh)
Sumber: https://www.cakaplah.com/berita/baca/138746/2026/08/04/jovi-gajah-andalan-mitigasi-konflik-di-riau-mati/#sthash.ead5l1JJ.dpbs
komentar Pembaca