Senin, 06 Jul 2026
  • Home
  • Politik
  • Rilis Buku Berjudul Demokrasi Wani Piro, Bagus Santoso: Demokrasi Hancur Jika Dikuasai Kapitalisme

Rilis Buku Berjudul Demokrasi Wani Piro, Bagus Santoso: Demokrasi Hancur Jika Dikuasai Kapitalisme

Senin, 04 Mar 2019 23:05
H Bagus Santoso, saat memaparkan bedah buku Demokrasi Wani Piro, di Gedung Perpustakaan DPRD Provinsi Riau.

PEKANBARU-  Untuk kesekian kalinya, Bagus Santoso menerbitkan judul buku yang menarik di tahun politik. Penulis, sekaligus politikus DPRD Provinsi Riau dua periode ini, menerbitkan buku yang berjudul Demokrasi Wani Piro. Senin (4/3/2019).

Bertempat di gedung Perpustakaan DPRD Provinsi Riau, Bedah Buku Demokrasi Wani Piro ini dihadiri, Wartawan Parlemen Riau DPRD Provinsi riau, pengamat politik, Saiman Pakpahan, Ketua DPRD Provinsi Riau, Hj Septina Primawati, Karmila Darmasari, Pimpinan Redaksi Riau Pos, M Hapiz, Mahasiswa, beserta wartawan.

Tidak mudah, sebagai wakil rakyat yang sering turun kelapangan, mendengarkan aspirasi rakyat. Beliau, Bagus Santoso, masih produktif menghasilkan karya tulis.

Dari penjelasannya, terkait kenapa judul buku yang menggelitik ini, beliau yang merupakan background Jurnalis ini mengungkapkan, bahwa, Wani Piro ini mengingatkan sejarah politik apakah akan terulang kembali.

"Kenapa hari ini ada buku demokrasi wani piro, itu sebetulnya. Buku referensi, apa yang terjadi. Jadi, nulis saya itu, nulis sesuatu yang sudah terjadi. Sehingga itu betul. Akankah berulang sejarah itu. Bahwa ada nama perkataan, sejarah itu berulang. Cuma muka saja yang berbeda. Apakah perilaku pemilih dalam demokrasi 2009, 2014 itu akan terulang kembali di 2019. Itu yang menjadi sebuah kajian buku berikutnya, tentang perilaku pemilih money politic, "jelasnya perlahan.

Sambung, Bagus Santoso, masih terkait judul wani piro, beliau menghubungkannya tentang pertama kali mengeluarkan buku menentang elite parpol. Apa yang terjadi hari itu. Ketika kita tantang elit parpol untuk mengganti sistem pemilu tertup keterbuka.

"Maka berlomba-lombalah di 2009 itu proposional itu menjadi terbuka. Sehingga, siapapun yang menang suaranya hingga menjadi anggota DPRD. Apa yang terjadi ?. Tidak ada lagi ekonomi parpol, bahwa dia tidak bisa lagi memberi nomor peci yang nomor satu pasti jadi, yang memakai sepatu hanya pelengkap derita, "ungkapnya.

Tapi, sekarang, masih dijelaskannya, antara nomor satu sampai keberikutnya, tujuh sampai dua belas. Biasanya, itu mempunyai hak yang sama. Apa yang terjadi ?.

"Rata-rata pengurus partai terpental, meskipun dia ketua partai. Tapi dia, dalam fungsi kemasyarakatan kurang, atau, karna persoalan faktor lain politik wani piro. Mereka yang sudah tungku semulus dipartai politik itu, dari dasar, sampai dia menjadi ketua partai, dia punya kader, caleg, dia yang punya sembako dan sebagainya. Apa yang terjadi, maka munculah sebuah kata merakyat tidak dapat dibua-buat. Dan ternyata bagi kita yang merakyat tidak dipilih. Ketika tidak ada demokrasi wani piro ini. Akhirnya sekarang, siapapun yang mempunyai kekuatan, apakah hanya kekuatan jejaring ?. Tidak, ternyata finansial juga memiliki itu. Padahal demokrasi itu, kalau kapitalisme sudah menguasai demokrasi. Maka disitulah kehancuran demokrasi itu, "terangnya.

Untuk diketahui, didalam buku Bagus Santoso ini terdapat 33 daftar isi, yang diantaranya judul Demokrasi Wani Piro dihalaman 29 dengan keseluruhan berjumlah 220 halaman. (Aft).
komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor