(FotoGoriau.com)
PEKANBARU â€" Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Hendry Munief, menyoroti kondisi keuangan daerah di Riau yang tengah menghadapi tantangan defisit. Ia menekankan pentingnya kreativitas dan terobosan dari para kepala daerah untuk tidak hanya terpaku pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terbatas, melainkan aktif menjemput dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengungkapkan, Riau memiliki potensi sumber daya yang luar biasa, namun situasi keuangan daerah saat ini menuntut strategi baru. Mengandalkan APBD saja dinilai tidak cukup untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang signifikan di tengah masyarakat.
"Kalau kita lihat hari ini APBD Pekanbaru sekitar Rp3 triliun sekian, dan di provinsi yang sebelumnya Rp10 atau Rp11 triliun sekarang turun di angka Rp8,3 triliun. Tapi tahukah kita berapa angka APBN? Cukup besar, mencapai Rp3.800 triliun," ujar Hendry Munief kepada GoRiau.com di Pekanbaru, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, besarnya porsi APBN tersebut merupakan peluang emas yang harus dimanfaatkan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dengan kementerian terkait. Sebagai anggota Komisi VII yang bermitra dengan Kementerian Perindustrian, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan UMKM, ia siap menjembatani program pusat untuk dibawa ke daerah.
"Solusinya adalah kreativitas, kolaborasi, dan sinergi. Kita harus membawa program-program yang ada di kementerian untuk dikerjasamakan dengan pemerintah daerah. Ini yang sedang kita upayakan dan beberapa sudah berjalan di tujuh kabupaten/kota di dapil Riau 1," paparnya.
Salah satu sektor prioritas yang didorong adalah pariwisata dan industri. Hendry mengibaratkan pariwisata sebagai lokomotif yang mampu menarik gerbong ekonomi lainnya, seperti ekonomi kreatif, UMKM, perhotelan, hingga kuliner. Ia mencontohkan usulan tiga Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Riau, yakni Siak, Candi Muara Takus, dan Pacu Jalur di Kuantan Singingi.
"Ketika pariwisata ini maju, orang berkunjung ke sini. Industri perhotelan hidup, travel jalan, kuliner laris, dan oleh-oleh juga terbeli. Ini efek domino yang luar biasa," jelas legislator asal Riau tersebut.
Selain pariwisata, penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi juga menjadi sorotan. Hendry menyarankan agar industri yang ada di Riau duduk bersama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan politeknik untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja. Hal ini dinilai efektif untuk menekan angka pengangguran tenaga kerja lokal.
"Kita bisa kumpulkan perusahaan industri untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan institusi pendidikan. Tujuannya agar apa yang dibutuhkan industri bisa disiapkan oleh sekolah vokasi," tambahnya.
Menutup pernyataannya, Hendry mengajak seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk tidak menyerah pada kondisi sulit. Ia meyakini bahwa dibalik kesulitan selalu ada peluang bagi mereka yang mau berusaha dan berinovasi.
"Tidak ada pengusaha sukses yang tidak berawal dari kondisi sulit. Justru kondisi yang sulit ini menjadi kesempatan bagi seorang entrepreneur untuk menemukan opportunity. Jangan menyerah, mari kita cari peluang lewat kolaborasi," pungkasnya. (Grc)
Sumber: GoRiau.com
Berita