Api Tiang Jatuh ke 2 Arah di Ritual Bakar Tongkang Rohil, Menandakan Arah Rezeki Bagi Warga Tionghoa
Admin
Rabu, 22 Jun 2022 16:13
BAGANSIAPIAPI - Warga Tionghoa khususnya di Riau melakukan ritual bakar tongkang untuk menadakan arah rezeki.
Tahun 2022 ini, tiang kapal tongkang jatuhnya terbagi dua, jatuh ke dua arah, satu tiang jatuh ke arah laut dan satu tiang lagi jatuh ke arah darat.
Artinya, menurut keyakinan warga Tionghoa usai bakar tongkang maka, rezeki ke depannya ada di antara darat dan laut
Tiang tongkang itu pertama jatuh ke darat dan kedua di laut, jadi sama-sama ada rezeki.
Ritual bakar tongkang yang berlangsung di Kota Bagan Siapiapi ini sudah 2 tahun ditiadakan karena pandemi Covid -19.
Thaun ini ritual bakar tongkang kembali diselenggarakan warga Tionghoa Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) meski tak semeriah beberapa tahun lalu.
Prosesi yang digelar Minggu (19/6/2022) itu berlangsung sederhana dengan replika kapal tongkang yang lebih kecil.
Meski digelar sederhana, tahapan ritual tetap dilaksanakan sebagaimana mestinya, mulai dari awal hingga akhir prosesi dibakarnya tongkang di bawah pengamanan ketat personel Polres Rohil, Polsek Bangko serta personel Koramil 01 / Bangko Kodim 0321/ Rohil.
Rute arak - arakan ritual bakar tongkang dimulai dari Kelenteng Nam Ki Tuah Jalan Siakap ke Jalan Pahlawan Hilir.
Terus ke Jalan Sumatera dan ke Jalan Aman, lalu kemudian ke Jalan Kelenteng.
Kemudian menuju ke Jalan Perdagangan dan berakhir di areal pembakaran replika tongkang tepatnya di Jalan Perniagaan Kelurahan Bagan Barat, Kecamatan Bangko.
Sebelum ritual pembakaran, replika tongkang terlebih dulu di arak melewati klenteng Ing Hok King untuk sekaligus melaksanakan ritual sembahyang atau berdoa kepada dewa.
Pawai atau arakan yang dilakukan oleh tokoh agama Tionghoa beserta warga Tionghoa Bagansiapiapi dengan membawa kertas sembahyang dari Kelenteng Nam Ki Tuah Jalan Siakap Kelurahan Bagan Timur ke lokasi ritual bakar tongkang.
Menurut Ketua Panitia Pelaksana Ahui Oliong, ritual bakar tongkang tahun 2022 ini tidak dilaksanakan oleh kelenteng besar setelah sudah 2 tahun ritual ini tidak digelar.
“Tiba-tiba Dewi Kie Ong ya datang dan meminta agar prosesi bakar tongkang dilaksanakan. Sehingga, tahun ini harus kita rayakan untuk menjalankan ritual ini meski harinya ditunda,” ungkapnya.
Untuk ritual bakar tongkang tahun 2022 ini tiang kapal tongkang jatuhnya terbagi dua, di mana satu tiang jatuh ke arah laut dan satu tiang lagi jatuh ke arah darat.
“Artinya, menurut keyakinan warga Tionghoa rezeki ke depannya ada di antara darat dan laut. Tiang tongkang itu pertama jatuh ke darat dan kedua di laut, jadi sama-sama ada rezeki,” pungkasnya.
Sejarah Ritual Bakar Tongkang
Pembakaran replika tongkang secara langsung juga dilakukan Bupati Rohil Afrizal Sintong didampingi ketua PKK Sanimar Afrizal serta dihadiri oleh Ketua DPRD Rohil Maston.
Kajari Rohil Yuliarni Appy SH MH, Dandim 0321 Rohil Letkol Inf M Erfani SH M.Tr (Han), Kapolres Rohil AKBP Nurhadi Ismanto serta berbagai unsur lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Rohil Afrizal Sintong mengisahkan, sejarah ritual bakar tongkang merupakan suatu tradisi ritual yang berkaitan erat dengan sejarah Kota Bagansiapiapi.
Terutama awal mula kedatangan para pemukim Tionghoa di muara Rokan tepatnya di kota Bagansiapiapi.
Dalam pengarungan samudra, tongkang digunakan oleh sekelompok keluarga Tionghoa dari Provinsi Fujian Exiamen Tiongkok yang dalam kegelapan malam lautan memanjatkan doa kepada Dewi Kie Ong Ya.
“Tiba-tiba tampak cahaya yang berkedip-kedip dan dijadikan sebagai pemandu dalam mencapai daratan. Dengan mengikuti kelap-kelip cahaya itu mereka tiba di suatu daratan yaitu di muara sungai Rokan yang saat itu masih dikenal dalam peta kolonial sebagai kawasan Perbabean,” terang Bupati.
Ditambahkan Bupati, para warga Tionghoa pemberani itu sejumlah 18 orang yang seluruhnya bermarga Ang, kelompok pertama itulah yang dianggap sebagai leluhur orang Tionghoa Bagansiapiapi.
Ritual bakar tongkang ini merupakan tradisi sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas kelimpahan sumber daya alam muara yang dilaksanakan setiap bulan ke-5 tanggal 16 (Go cap lak).
Bupati juga menceritakan bahwa, dapat dikatakan ritual bakar tongkang merupakan tradisi etnis Tionghoa berupa persembahan untuk Dewi Kie Ong Ya (dewi laut) dan Dewa Tai Su.
Dalam kepercayaan leluhur Tionghoa, dewa laut merantau dan tiba di Kota Bagansiapiapi menggunakan perahu yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan tongkang.
“Untuk menghormati dewa laut di mana orang Tionghoa percaya membawa rezeki digelarlah sembahyang tongkang,” paparnya.
Selain itu, dikisahkan bupati lagi, terdapat pula kisah yang berkaitan dengan ritual bakar tongkang, yaitu ketika orang-orang Tionghoa generasi awal mulai bermukim di Bagansiapiapi dan memutuskan untuk tidak kembali ke Tiongkok.
Maka tongkang yang semula digunakan untuk membawa mereka pun dibakar tidak tradisi inilah yang dipertahankan hingga saat ini.
“Saya memberikan apresiasi kepada warga Tionghoa atas pelaksanaan event ritual bakar tongkang tersebut. Ritual bakar tongkang merupakan event wisata terbesar yang banyak mendatangkan jumlah kunjungan wisata, baik mancanegara maupun domestik,” urainya.
“ Event ini juga sudah masuk dalam kalender event wisata nasional di kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif republik Indonesia,” imbuh Bupati.
Bupati juga meminta kepada seluruh masyarakat Rohil agar senantiasa menjaga persatuan antar etnis, suku maupun agama.
“Mari saling menjaga toleransi antar etnis suku maupun agama, ayo bersatu dalam perbedaan,” pungkas Afrizal Sintong.