(FotoPosMetroRohil)
SIAKā" Menjelang azan Magrib berkumandang, suasana di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, tampak berbeda dari biasanya Senin sore itu. Tidak ada iring-iringan mobil dinas yang lengkap dengan pengawalan, tidak terdengar pula suara sirene yang memecah ketenangan. Yang ada hanyalah deru halus sepeda motor yang melaju perlahan, dikendarai langsung oleh Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, dengan ajudan duduk di belakangnya, 23 Februari 2026.
Pemandangan itulah yang mewarnai Safari Ramadan perdana Bupati Afni di tahun 2026 ini. Di tengah tradisi safari Ramadan yang kerap identik dengan rombongan pejabat dan protokol berlebihan, Afni justru memilih pendekatan yang membumi dan personal. Dengan sepeda motornya, ia mendatangi satu per satu rumah warga yang telah menjadi target penerima bantuan di wilayah Kecamatan Dayun.
Yang menarik dari sosok Afni adalah latar belakangnya sebagai mantan wartawan di Redaksi Pekanbaru Pos Group. Pengalaman jurnalistiknya selama bertahun-tahun seakan membentuk cara pandangnya dalam memimpin. Ia paham betul bahwa berita sesungguhnya tidak cukup hanya didapat dari laporan di atas kertas, tetapi harus digali langsung dari sumbernya, dari masyarakat kecil di pelosok-pelosok.
Meski telah menjabat sebagai Bupati Siak, kecintaannya pada dunia tulis-menulis tak pernah padam. Di sela kesibukannya memimpin daerah, Afni masih aktif menulis, menuangkan gagasan dan pengamatannya tentang pembangunan dan kehidupan sosial masyarakat Siak. Kebiasaan itu terus ia pelihara sebagai cara untuk tetap terhubung dengan realitas dan mengasah kepekaannya terhadap persoalan rakyat.
Bagi Afni, Safari Ramadan bukanlah sekadar agenda seremonial tahunan yang harus dijalani. Ia menjadikannya sebagai ruang silaturahmi yang lebih personal, momen untuk mendekatkan diri dengan warga tanpa sekat-sekat protokoler. Dari pintu ke pintu, ia menyapa warga, duduk bersila di teras rumah sederhana, berbincang santai, dan mendengarkan langsung keluhan maupun harapan masyarakat.
"Kalau kita datang langsung, kita bisa tahu kondisi sebenarnya. Bukan hanya laporan di atas kertas. Saya belajar dari zaman jadi wartawan dulu, kebenaran itu harus dicari sampai ke akar-akarnya," ujar Afni dengan senyum khasnya di sela kunjungan, Senin sore.
Dalam kunjungan tersebut, Afni menyerahkan amplop bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Siak kepada warga yang membutuhkan. Namun, penyerahan bantuan itu tidak berlangsung kaku seperti acara seremonial pada umumnya. Ia berbincang hangat dengan para penerima bantuan, menanyakan kondisi keluarga, dan bahkan sesekali melontarkan canda yang mencairkan suasana.
Lebih dari sekadar membagikan bantuan, Afni juga mengajak masyarakat untuk terus memperkuat budaya berinfak dan bersedekah melalui Baznas. Menurutnya, semangat berbagi di bulan Ramadan tidak boleh berhenti pada mereka yang mampu saja, tetapi harus menjadi gerakan bersama.
"Semakin banyak masyarakat yang berinfak, semakin besar pula manfaat yang bisa dirasakan sesama warga Siak. Ini bukan soal seberapa besar nilainya, tapi seberapa tulus niatnya," pesan Afni kepada warga yang ditemuinya.
Mantan wartawan yang dikenal ramah itu pun tak lupa meminta doa agar niat dan langkahnya dalam memimpin daerah diberi kemudahan dan keberkahan. Di titik inilah, Ramadan menjelma menjadi momentum pendidikan sosial, tentang kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab bersama yang harus terus dipupuk.
Selepas kunjungan dari rumah ke rumah, Afni melanjutkan safari Ramadan dengan berbuka puasa bersama masyarakat di masjid setempat. Suasana berlangsung sederhana dan hangat. Tidak ada menu istimewa yang dihidangkan, tidak ada protokol yang berlebihan. Ia duduk lesehan bersama warga, menikmati hidangan buka puasa apa adanya.
Perbedaan cara ini terasa begitu mencolok. Pada umumnya, safari Ramadan kepala daerah sering diwarnai rombongan panjang pejabat, mobil dinas yang berderet, bahkan pengawalan khusus. Namun malam itu di Dayun, sang bupati justru pulang larut dengan mengendarai sendiri sepeda motornya. Sebuah pemandangan yang mungkin jarang ditemui di daerah lain.
Apa yang dilakukan Afni Zulkifli memberikan contoh nyata bahwa safari Ramadan bisa menjadi ruang edukasi publik. Edukasi tentang pentingnya pemimpin turun langsung ke lapangan, tentang memimpin dengan empati, dan tentang menghidupkan nilai-nilai kesederhanaan dalam birokrasi.
Di tengah masyarakat yang kerap menilai pemimpin dari kedekatannya, pendekatan yang dilakukan Bupati Siak ini menghadirkan wajah kepemimpinan yang lebih membumi. Bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu tampil dalam gemerlap kemewahan atau dijaga jarak oleh protokol yang kaku.
Ramadan, akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga tentang menahan diri dari perilaku berlebihan, serta memperkuat rasa peduli terhadap sesama. Dan di jalanan Dayun yang sunyi menjelang malam itu, seorang bupati dengan sepeda motornya menjadi simbol bahwa pelayanan publik bisa dimulai dari cara yang paling sederhana, dengan hati yang tulus untuk mendengar dan hadir di tengah rakyatnya.
Sumber: (PosMetroRohil)
Sosial