Rabu, 03 Jun 2026
  • Home
  • Teknologi
  • Memasak Sampah Menggunakan Hidrotermal ala Peneliti ITB

Teknologi

Memasak Sampah Menggunakan Hidrotermal ala Peneliti ITB

Jumat, 01 Apr 2016 16:11
okezone.com
mesin pemasak sampah dari ITB

BANDUNG – Inovasi tidak ada habisnya. Dalam pengelolaan sampah, saat ini yang lebih banyak dikenal dan diperdebatkan adalah insinerator dan biodigester. Peneliti dari Institut Teknologi Bandung, Pandji Prawisudha, menawarkan inovasi lain bernama hidrotermal.

Sistem kerjanya berbeda dengan insinerator yang prosesnya membutuhkan insinerasi atau pembakaran. Hidrotermal singkatnya adalah memasak sampah menggunakan air dalam suhu tinggi.

Kelebihannya, hidrotermal tidak akan mengeluarkan emisi gas karena prosesnya adalah pemasakan. Itu tidak seperti insinerator yang emisinya terhitung banyak yakni karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), hidro karbon (HC), CxHy, dioksin (PCDD, polychlorinated dibenzodioxins), dan furan (PCDF, polychlorinated dibenzofurans).

Lalu, hidrotermal tidak membutuhkan pemilahan seperti halnya biodigester. Sampah organik maupun anorganik semuanya bisa diproses. ‎Residu hidrotermal pun hanya larutan klorida (Cl), sisa memasak. Hasil akhir berupa padatannya, bisa digunakan sebagai bahan bakar pengganti briket batu bara di industri-industri.

Ditemui di ruang kerjanya, Pusat Penelitian Energi Baru Terbarukan ITB, pada Jumat (19/2/2016), Pandji mengatakan Cl memang sengaja dia bidik. Dalam pembakaran sampah, Cl menjadi biang emisi. Emisi ini yang oleh masyarakat ditakutkan dan ditentang karena akan mengancam kesehatan mereka dan lingkungan.

Menurut dia, Cl organik yang terikat dalam rantai karbon misalnya di PVC, sifatnya tidak larut dalam air tetapi bisa terlepas saat dipanaskan di temperatur mulai 250 derajat Celcius. "Pada saat itulah jika unsur-unsur pembentuk dan kondisinya cocok, dioksin atau furan terbentuk," kata Doktor Teknik Lingkungan dari Tokyo Institute of Technology tersebut.

Secara sederhana, ada tiga tahapan mengelola sampah dengan hidrotermal. Pertama, semua‎ sampah baik organik maupun anorganik ditampung di dalam reaktor hidrotermal. Bersama dengan air, sampah dimasak pada suhu 225-240 derajat Celcius. Pemasakan membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Kedua, pemasakan menghasilkan bubur sampah. Cl akan larut di dalam air dan menjadi bagian yang dipisah. Sisanya, dikeringkan selama 12 jam - 1 hari. Proses ini lebih cepat dari pengeringan biasa yang memakan waktu 2-3 hari karena struktur sel sampah sudah rusak.

Ketiga, sampah kering padat dibentuk bulat seperti briket batu bara agar lebih efisien dan mudah dalam pemanfaatannya. Briket produk hidrotermal sudah tidak banyak mengandung K (kalium) dan Cl.

Kedua unsur ini secara terus-menerus bisa merusak tungku dan menghasilkan emisi dioksin. Menurut Pandji, kawasan industri di Bandung selatan bisa memanfaatkannya daripada menggunakan energi batu bara yang tidak terbarukan.

Dalam hitungan hasil, ‎untuk 10 ton sampah per hari yang dimasak dengan kandungan air 40 persen - 60 persen, bisa menghasilkan 4 ton - 6 ton briket. Itu setara dengan nilai kalor batu bara peringkat rendah (19 MJ/kg) atau setara dengan 0,8 MW - 1,3 MW energi.

Dengan asumsi efisiensi pembangkit listrik 25 persen, dapat dihasilkan sekitar 0,25 MW listrik per 10 ton sampah per hari atau 15 MW untuk 600 ton sampah per hari. "Ini lebih baik daripada PLTSa konvensional, karena sampahnya sudah 'di-upgrade'," tutur Magister Teknik Mesin ITB itu, dikutip dari PR Online, Jumat (1/4/2016).

Hanya saja, hidrotermal masih menyisakan satu masalah. Pandji masih mencari solusi pemanfaatan larutan Cl bekas memasak. Selama ini, larutan tersebut digunakan kembali dalam pemasakan sampah. Namun, dia tengah meneliti sampai berapa lama air itu bisa dipakai terus-menerus.‎(okezone.com)

Teknologi
Berita Terkait
  • Jumat, 06 Mar 2026 13:26

    TPA Muara Fajar Segera Miliki Pembangkit Listrik Biogas Berkapasitas 3 Megawatt

    PEKANBARU - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melakukan terobosan besar dalam menangani krisis sampah dengan menggandeng Kepolisian Daerah (Polda) Riau untuk menghadirkan teknologi Waste to Energy (WT

  • Senin, 02 Mar 2026 16:41

    Vivo V70 Series Segera Meluncur di Indonesia dalam Dua Model

    JAKARTA â€" vivo Indonesia mengonfirmasi kehadiran vivo V70 Series di Indonesia dalam dua model, yaitu vivo V70 dan vivo V70 FE. Seperti seri V pendahulunya, vivo V70 Series juga akan berfokus pada pe

  • Selasa, 24 Feb 2026 14:41

    Mahasiswa Ciptakan Alat Pembakaran Sampah Minim Asap, Lebih Ramah Lingkungan

    JAKARTA â€" Mahasiswa Universitas Budi Luhur menciptakan alat pembakaran sampah dengan emisi asap yang lebih rendah, di Desa Sanghiang, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak. Inovasi dari Kelompok KKN Maja

  • Selasa, 18 Nov 2025 17:14

    Dukung Operasi yang Andal, PHR Luncurkan 'Power Bank' Raksasa MSU-003 Amankan Listrik Zona Rokan

    ROKAN HILIR-PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan terus mencatatkan capaian strategis yang akan memperkuat fondasi operasional kelistrikan di Wilayah Kerja Rokan. Proyek prioritas dari Subholding U

  • Selasa, 14 Okt 2025 17:55

    Pemanggilan 13 Distributor BBM di Riau Belum Dijadwalkan

    PEKANBARU-Dari 19 distributor BBM yang mengantongi Ijin Niaga Umum (INU), 6 di antaranya sudah dipanggil dan dievaluasi oleh DPRD Riau pada 02 Oktober lalu. Sementara 13 distributor lainnya hingga kin

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.