Jumat, 17 Jul 2026
Ekbis
Diskop UKM dan Naker Kepulauan Meranti Apresiasi Gagasan Zona Ekonomi Barat, Minta Kajian Kelayakan Jadi Prioritas
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 17 Jul 2026 08:40
SELATPANJANG â€" Wacana pembangunan sentra ekonomi baru di wilayah barat Kabupaten Kepulauan Meranti mendapat respons positif dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Tenaga Kerja (Diskop UKM dan Naker) Kabupaten Kepulauan Meranti. Gagasan yang diinisiasi Koperasi Desa Merah Putih Ketapang Permai dinilai sebagai sebuah inovasi yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan, namun tetap harus didukung kajian yang komprehensif sebelum direalisasikan.
Apresiasi tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperindagkop UKM Kepulauan Meranti, Eko Priyono, SE., M.Si, Kamis (16/7/2026). Menurutnya, langkah yang dilakukan Koperasi Desa Merah Putih Ketapang Permai menunjukkan bahwa koperasi desa tidak lagi hanya berperan sebagai lembaga ekonomi skala lokal, tetapi mulai berkembang menjadi penggagas pembangunan yang mampu menghadirkan solusi bagi kebutuhan masyarakat secara lebih luas.
Ia menilai, munculnya ide pembangunan pusat ekonomi di zona barat merupakan terobosan yang sejalan dengan semangat pemerintah dalam memperkuat hilirisasi dan pemerataan pertumbuhan ekonomi di daerah.
"Kami memberikan apresiasi atas inisiatif Koperasi Desa Merah Putih Ketapang Permai yang telah melakukan kajian awal dan menggagas lahirnya sentra ekonomi baru di zona barat. Ini merupakan pola pikir yang patut diapresiasi karena menunjukkan koperasi desa mampu menjadi motor penggerak ekonomi wilayah serta mendukung arah pembangunan nasional," ujar Eko.
Meski demikian, Disperindagkop UKM menegaskan bahwa sebuah gagasan besar harus dibangun di atas dasar perencanaan yang matang. Oleh karena itu, pihaknya meminta agar pengurus koperasi melengkapi berbagai kajian ilmiah dan analisis independen sebelum konsep tersebut ditawarkan kepada calon investor maupun disinergikan dengan berbagai pihak.
Menurut Eko, kajian tersebut perlu mencakup potensi pasar, proyeksi investasi, dampak terhadap pelaku UMKM, hingga peluang penyerapan tenaga kerja lokal yang diikutsertakan kajian geografisnya. Langkah itu penting agar pembangunan yang direncanakan benar-benar memberikan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat.
"Selain mengapresiasi gagasan ini, kami juga menekankan pentingnya kajian kelayakan yang independen untuk memvalidasi potensi pasar, dampaknya terhadap UMKM lokal, serta peluang bagi tenaga kerja daerah sebelum investor mulai masuk," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kawasan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh potensi investasi, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung. Karena itu, berbagai fasilitas dasar harus menjadi perhatian utama apabila rencana tersebut ingin diwujudkan.
"Infrastruktur seperti jalan penghubung antar kecamatan, jembatan, pasokan listrik yang stabil, air bersih, hingga kepastian tata ruang harus menjadi syarat utama. Sebagian memang harus tersedia sejak awal, sementara sebagian lainnya dapat dibangun secara bertahap sesuai perkembangan. Disperindagkop UKM akan terus mengawal agar koperasi tetap menjadi mitra strategis dalam pengembangan ekonomi daerah," kata Eko.
Sebelumnya, Ketua Koperasi Desa Merah Putih Ketapang Permai, Shem Fatamorgana, mengemukakan gagasan pembangunan kawasan perdagangan baru di Desa Ketapang Permai yang diproyeksikan menjadi pusat ekonomi bagi tiga kecamatan, yakni Merbau, Pulau Merbau, dan Tasik Putri Puyu.
Menurutnya, selama ini masyarakat di 35 desa pada tiga kecamatan tersebut masih bergantung pada Kota Selatpanjang sebagai satu-satunya pusat perdagangan di wilayah timur Kepulauan Meranti. Kehadiran sentra ekonomi baru di zona barat diyakini dapat memangkas biaya transportasi, mempercepat distribusi barang, sekaligus meningkatkan efisiensi waktu bagi masyarakat.
Gagasan tersebut, lanjutnya, lahir dari hasil survei lapangan, kajian geografis, serta pembekalan yang diperoleh melalui pelatihan program koperasi. Berdasarkan analisis yang dilakukan, Desa Ketapang Permai dinilai memiliki berbagai keunggulan, mulai dari ketersediaan lahan, akses transportasi, sumber daya manusia, komoditas unggulan, hingga posisi geografis yang strategis sebagai penghubung lintas kecamatan.
Shem bahkan memperkirakan, apabila kawasan perdagangan tersebut dapat diwujudkan, nilai transaksi ekonomi yang berputar dari sekitar 50 ribu lebih penduduk di tiga kecamatan berpotensi mencapai sekitar Rp3 miliar per hari atau mendekati Rp1 triliun per tahun.
Ia berharap gagasan tersebut mendapat dukungan dari pemerintah daerah, pemerintah Provinsi Riau hingga pemerintah pusat, terutama dalam pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, serta fasilitas penunjang lainnya agar rencana pembentukan sentra ekonomi baru di zona barat Kepulauan Meranti dapat direalisasikan secara bertahap dan berkelanjutan.(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/diskop-ukm-dan-naker-kepulauan-meranti-apresiasi-gagasan-zona-ekonomi-barat-minta-kajian-kelayakan-jadi-prioritas.html
komentar Pembaca