Kamis, 07 Mei 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Kondisi Rupiah Kini ibarat Sudah Tenggelam hingga Dagu

Kondisi Rupiah Kini ibarat Sudah Tenggelam hingga Dagu

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Kamis, 07 Mei 2026 16:45
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai semakin mengkhawatirkan. Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy menilai posisi rupiah saat ini sudah mendekati batas psikologis yang membahayakan.

Menurut Ichsanuddin, level rupiah yang saat ini di kisaran Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) ibarat kondisi “sudah tenggelam sampai dagu”. Artinya tinggal sedikit lagi seluruh tubuh akan tenggelam.

“Sekarang ibaratnya sudah kelelep sampai dagu. Rp 17.400 itu sudah sampai dagu, sebentar lagi kena mulut. Batas psikologisnya menurut saya Rp 17.500 sampai Rp 18.000,” kata Ichsanuddin kepada Beritasatu.com, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada kenaikan biaya produksi, tetapi juga memicu tekanan inflasi akibat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap barang impor.

Ichsanuddin menilai ada tiga persoalan besar yang membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap gejolak nilai tukar, yakni tekanan fiskal, tekanan moneter, dan tekanan pada sektor riil.

Dari sisi fiskal, tekanan terlihat dari besarnya beban utang pemerintah. Total utang dan bunga telah mencapai sekitar Rp 1.433 triliun. Sementara dari sisi moneter, ia menilai pemerintah belum mampu menyelesaikan akar persoalan ekonomi domestik, terutama tingginya ketergantungan terhadap impor untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Indonesia tidak pernah sungguh-sungguh mempunyai kekuatan eksternalitas yang kokoh," kritiknya.
Tekanan juga dirasakan sektor riil. Menurutnya, dunia usaha dan masyarakat terbebani oleh kenaikan biaya energi, tarif listrik, serta mahalnya kebutuhan pokok yang sebagian besar masih bergantung pada impor.

Di sektor perbankan, pelaku usaha, dan investor juga masih memilih bersikap wait and see di tengah ketidakpastian ekonomi. Kondisi tersebut juga berdampak pada kelas menengah yang dinilai semakin kehilangan daya beli dan enggan mengambil risiko.

“Masyarakat mencari kepastian di tengah ketidakpastian. Mereka memilih menunggu dan tidak mau ambil risiko,” ujarnya.

Ichsanuddin menambahkan, ketika memiliki likuiditas lebih, masyarakat cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti valuta asing, emas, dan properti yang lebih prospektif. Menurut dia, kondisi itu terjadi karena kepercayaan terhadap penguatan rupiah dalam jangka panjang masih rendah.

Ia juga mengkritik respons Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi pelemahan rupiah. Menurutnya, langkah yang diambil masih bersifat jangka pendek dan menunjukkan kepanikan menghadapi tekanan eksternal.

“Solusi yang diambil menggambarkan otoritas fiskal dan moneter Indonesia panik menghadapi rupiah yang terus melemah. Jangan hanya berpikir jangka pendek, tetapi juga harus punya kemampuan berpikir jangka panjang,” tegasnya.

Sebelumnya, dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, BI akan melakukan tujuh langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto.

Pertama, BI melakukan intervensi di pasar valas baik secara tunai, domestic non-deliverable forward (DNDF) di dalam negeri, maupun non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri.

Kedua, BI bersama Kementerian Keuangan berupaya menjaga arus modal asing tetap masuk (inflow). Salah satunya dengan mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) agar dapat menutup arus keluar (outflow).

Ketiga, BI terus membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Hingga saat ini, nilainya telah mencapai Rp 123,1 triliun secara year to date.

Keempat, BI menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Kelima, BI memperketat pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying. Adapun batas pembelian yang sebelumnya sebesar US$ 100.000 per bulan, telah diturunkan menjadi US$ 50.000 per bulan.

Keenam, BI memperkuat intervensi di pasar offshore non-deliverable forward (NDF). Bahkan, bank domestik kini diperbolehkan ikut bertransaksi di pasar tersebut guna meningkatkan pasokan valas dan memperkuat stabilisasi rupiah di pasar global.

Ketujuh, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan terhadap bank dan korporasi, terutama yang memiliki kebutuhan dolar AS yang tinggi.(cakaplah.com).

Sumber: https://www.cakaplah.com/berita/baca/135785/2026/05/07/kondisi-rupiah-kini-ibarat-sudah-tenggelam-hingga-dagu/#sthash.IBFk0vET.dpbs

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.