Sabtu, 27 Jun 2026

Internasional

11 Juta Orang Minta Festival Makan Anjing China Dihentikan

Selasa, 14 Jun 2016 12:59
AP
Pecinta hewan minta China hentikan Festival Makan Anjing di Yulin.

BEIJING – Lebih dari 11 juta orang dari berbagai penjuru dunia menandatangani petisi, meminta Pemerintah China segera menghentikan Perayaan Yulin atau Festival makan anjing. Diwakili 30 aktivis hak asasi binatang, petisi itu disampaikan kepada DPD Yulin di Beijing.

Bersama anjing-anjing peliharaan mereka, para pengunjuk rasa mengecam tradisi pembunuhan atas ribuan anjing dalam festival yang biasa mulai dirayakan pada 21 Juni tersebut. Di mana ribuan anjing itu dicuri dari rumah dan jalanan, lalu dikurung tanpa pemeliharaan yang layak.

Setiap tahunnya, menjelang perayaan titik balik matahari itu, mereka dibiarkan kelaparan dan kehausan. Untuk kemudian disembelih, dimasak dan dimakan pada hari H.

Daging anjing menjadi menu konsumsi favorit dan terkenal kelezatannya, terutama di kalangan masyarakat menengah di China. Diyakini, mengonsumsi daging anjing juga bisa mendinginkan mereka selama menghadapi musim panas. Padahal anjing sendiri tergolong hewan berdarah panas.

Kepercayaan lain mengungkap, makan daging anjing bermanfaat bagi kesehatan, mengusir penyakit hingga hantu dan membawa nasib baik. Selain juga dapat meningkatkan stamina seksual pria.

"(Festival) Yulin jelas-jelas memalukan bagi China. Kami mendesak otoritas Yulin untuk mengubah sejarah dan mengakhiri festival ini demi kepentingan publik. Karena praktik ini jelas tidak aman bagi kesehatan, moral sosial dan reputasi China," kata Xu Yufeng, pendiri Beijing Mothers Against Animal Cruelty, seperti disitat dari Asian Correspondent, Selasa (14/6/2016).

Dinamakan Festival Yulin karena praktik perayaannya berada di selatan Kota Yulin di Provinsi Guangxi. Washington Post pernah merilis, jumlah anjing yang dibunuh di seluruh Asia setiap tahunnya mencapai 30 juta ekor. Sepertiga di antaranya terjadi di China, selama festival tersebut.

"Perdagangan daging anjing China adalah kekerasan terhadap binatang dan tindak kriminalitas dalam skala masif, dan menjadi beban bagi reputasi internasional China," tukas Peter Li, aktivis HIS yang juga pakar kebijakan China. (okezone.com)

Internasional
Berita Terkait
  • Senin, 08 Sep 2025 16:24

    Rusia Kembangkan Vaksin Kanker Baru, Pengujian Awal Diklaim 100% Sukses

    Rusia telah meluncurkan EnteroMix, sebuah vaksin perawatan kanker baru yang dilaporkan menunjukkan efikasi 100 persen dalam uji klinis awal. EnteroMix dikembangkan dengan teknologi yang mirip dengan v

  • Senin, 08 Sep 2025 16:09

    Transformasi Wanita AS usai Operasi Peninggi Badan, dari 117 Cm Jadi 151 Cm

    Chandler Crews (31) di Maryland, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya menjalani operasi peninggi badan yang kontroversial. Crews lahir dengan kondisi genetik langka anchondroplasia, yang membuat

  • Senin, 08 Sep 2025 13:37

    Badai Dahsyat Tapah Dekati Hong Kong Picu Penutupan Bisnis dan Sekolah

    Hong Kong menutup sekolah dan banyak bisnis pada Senin (8/9/2025) karena Badai Tropis Tapah yang membawa angin kencang dan hujan lebat, mendekati wilayah tersebut dalam jarak 170 km. Badai itu memenga

  • Senin, 08 Sep 2025 10:40

    Jepang Gelar Upacara Perayaan Usia Dewasa Pangeran Hisahito

    Jepang menyelenggarakan upacara perayaan usia dewasa bagi Pangeran Hisahito, anggota keluarga kekaisaran pria pertama yang resmi mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.Pangeran Hisahito, yang me

  • Senin, 08 Sep 2025 09:32

    Trump Keluarkan ‘Peringatan Terakhir’ untuk Hamas Soal Kesepakatan Sandera

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap Hamas, mendesak kelompok militan Palestina itu agar menerima kesepakatan pembebasan sandera dari Gaza.“Israel telah mener

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.