Berita satu.com
Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell kembali mencuat ke publik.
Setelah bertahun-tahun mengkritik kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh Powell, Trump kini dikabarkan tengah menyusun daftar calon pengganti.
Masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026, namun spekulasi mengenai sosok penggantinya sudah mengemuka sejak sekarang.
Dilansir dari CNBC Internasional, berikut empat kandidat kuat yang disebut-sebut akan menggantikan Jerome Powell sebagai pemimpin bank sentral paling berpengaruh di dunia.
Kandidat Kuat Penganti Jerome Powell
1. Kevin Warsh
Kevin Warsh adalah nama lama yang kembali mencuat. Pernah menjabat sebagai gubernur The Fed pada era George W Bush, Warsh kini menjadi peneliti di Hoover Institution dan mengajar di Stanford Graduate School of Business.
Warsh dikenal sebagai kritikus keras kebijakan The Fed saat ini. Ia mengusung pendekatan "regime change" dalam kebijakan moneter dan percaya bahwa struktur The Fed perlu dirombak.
Menurutnya, lembaga ini harus lebih adaptif terhadap data ekonomi terkini. Ia juga mendukung adanya sinergi antara The Fed dan Departemen Keuangan, sebagaimana pernah terjadi pada awal 1950-an.
Peluangnya untuk menjadi ketua The Fed cukup tinggi. Pasar prediksi Kalshi menempatkannya dengan probabilitas sebesar 35%.
2. Kevin Hassett
Nama kedua yang menguat adalah Kevin Hassett, mantan ketua Dewan Penasihat Ekonomi dan saat ini menjabat direktur Dewan Ekonomi Nasional.
Hassett dikenal luas sebagai ekonom konservatif yang pro-pemotongan pajak dan tarif, serta aktif mendorong intervensi fiskal untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Ia juga merupakan sosok dekat dengan Trump dan memiliki rekam jejak yang kuat dalam mengadvokasi suku bunga rendah.
Meskipun ia menghindari politisasi The Fed, Hassett dikenal mendorong transparansi dan pembenahan dalam sistem pelaporan data ekonomi.
Sama seperti Warsh, peluang Hassett untuk memimpin The Fed juga berada di angka 35% menurut bursa prediksi Kalshi.
Trump memberikan pujian terhadap kedua kandidat ini dengan mengatakan, mengindikasikan kepercayaannya terhadap kemampuan mereka memimpin The Fed.
"Kedua Kevin itu sangat bagus, dan ada orang lain yang juga sangat bagus," ujar Trump, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (8/8/2025)
3. Christopher Waller
Christopher Waller adalah gubernur The Fed yang saat ini masih menjabat hingga tahun 2030.
Ia sebelumnya dinominasikan oleh Trump pada 2020 dan dikenal sebagai salah satu dari sedikit anggota The Fed yang mendukung pemangkasan suku bunga secara konsisten.
Waller telah lama mengusulkan pelonggaran kebijakan moneter, bahkan ketika mayoritas dewan cenderung mempertahankan kebijakan ketat.
Meski namanya tidak disebut langsung dalam wawancara Trump terakhir, ia tetap berada dalam bursa kandidat dengan peluang sekitar 15%.
Beberapa pengamat menilai dukungan Waller terhadap pemangkasan bunga bisa jadi dilandasi motivasi politik untuk memperbesar peluangnya menjadi Ketua The Fed berikutnya.
4. Michelle Bowman
Michelle Bowman saat ini menjabat sebagai wakil ketua pengawasan di The Fed dan anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
Ia dikenal sebagai sosok yang vokal dalam menyuarakan kekhawatiran atas pelemahan ekonomi dan pasar tenaga kerja.
Bowman merupakan salah satu dari sedikit pejabat The Fed yang menyatakan ketidaksetujuannya (dissent) terhadap kebijakan moneter ketat, dan secara terbuka mendukung pelonggaran kebijakan.
Meskipun peluangnya relatif kecil dibanding kandidat lain, posisinya di dalam struktur Fed membuatnya tetap relevan dalam diskusi suksesi.
Kandidat Lain yang Sempat Disebut
Selain empat nama di atas, beberapa tokoh lain juga sempat muncul sebagai kandidat, antara lain Judy Shelton dan David Malpass.
Shelton adalah mantan penasihat ekonomi Trump, sementara Malpass pernah menjabat sebagai presiden Bank Dunia. Namun peluang keduanya relatif kecil, masing-masing 6% dan 4%.
Menariknya, nama Scott Bessent, menteri keuangan saat ini, juga sempat santer dibicarakan.
Namun Trump sendiri mengonfirmasi bahwa Bessent menolak tawaran tersebut dan memilih tetap berada di posisinya saat ini.
"Saya menyayangi Scott, tapi dia ingin tetap di posisinya sekarang. Saya bertanya padanya tadi malam, 'Apakah ini sesuatu yang kamu inginkan?' [Bessent menjawab] 'Tidak, saya ingin tetap di sini.' Bahkan dia bilang, 'Saya ingin bekerja dengan Anda.' Itu sebuah kehormatan besar. Saya bilang, 'Itu sangat baik. Saya menghargainya," tutur Trump.
Konflik Trump-Powell
Perseteruan antara Donald Trump dan Jerome Powell bukan hal baru. Sejak awal masa kepemimpinannya, Trump kerap mengkritik Powell karena kebijakan suku bunga tinggi yang dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi.
Pada 2018, Trump bahkan menyebut The Fed sebagai "gila" dan mempertimbangkan untuk memecat Powell.
Ketegangan semakin meningkat pada 2025, terutama setelah Trump kembali menjabat sebagai presiden.
Ia menyebut proyek renovasi gedung The Fed senilai U$ 2,5 miliar sebagai pemborosan, dan secara terbuka menyebut Powell sebagai “knucklehead”.
Trump juga menyebut Powell sebagai “penghambat pertumbuhan” dan “beban ekonomi.” Ia menilai kebijakan Powell mempertahankan suku bunga tinggi justru merugikan ekonomi nasional, bahkan menyatakan bahwa suku bunga harus dipangkas secara agresif untuk mendorong aktivitas bisnis.
Meskipun belum mengambil langkah resmi, Trump telah memberikan sinyal kuat bahwa ia ingin menunjuk sosok baru yang sejalan dengan visinya tentang kebijakan moneter.
Pengunduran diri mendadak Gubernur The Fed Adriana Kugler baru-baru ini pun memberi Trump kesempatan tambahan untuk menempatkan loyalisnya di struktur pimpinan The Fed.
Apakah Jerome Powell akan menyelesaikan masa jabatannya atau akan digantikan lebih awal masih menjadi pertanyaan besar. Yang pasti, dinamika pemilihan ketua The Fed berikutnya akan sangat menentukan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa tahun ke depan.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com
Internasional