Berita satu.com
Dalam suasana yang masih diwarnai ketegangan di sepanjang perbatasan Thailand dan Kamboja, pemerintah Thailand menyerukan penyelesaian damai atas konflik yang kembali memanas.
Bangkok menegaskan, dialog bilateral tetap menjadi pilihan utama, namun membuka kemungkinan untuk melibatkan ASEAN sebagai mediator regional jika diperlukan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, pada Jumat (25/7/2025), sehari setelah bentrokan maut terjadi di wilayah perbatasan yang disengketakan.
"Pertempuran masih berlanjut sejak kemarin, tetapi hari ini tampaknya situasinya sedikit membaik," ujar Nikorndej, dikutip dari Aljazeera pada Sabtu (26/7/2025).
Perbatasan Sengketa sejak Zaman Kolonial
Perselisihan antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung selama puluhan tahun. Garis perbatasan sepanjang 818 kilometer menjadi sumber ketegangan yang tak kunjung selesai.
Sengketa ini berakar dari peta batas wilayah yang dibuat kolonial Prancis pada 1907 yang hingga kini masih diperdebatkan.
Thailand menyatakan telah lama mencoba membangun jalur komunikasi damai dengan Kamboja.
“Kami selalu bersikeras ingin menyelesaikan masalah ini secara damai melalui mekanisme bilateral,” ujar Nikorndej.
Sayangnya, menurut dia, pemerintah Kamboja belum merespons positif upaya tersebut.
Terbuka untuk Mediasi ASEAN, Malaysia Ambil Peran
Meskipun Bangkok ingin menjaga penyelesaian dalam koridor bilateral, pemerintah Thailand menyatakan tidak menutup pintu terhadap keterlibatan ASEAN di kemudian hari.
“Jika suatu saat kami harus berbicara tentang siapa yang bisa membantu, negara-negara di ASEAN adalah pilihan paling cocok,” kata Nikorndej.
Malaysia, yang saat ini memegang posisi Ketua ASEAN, telah berinisiatif menghubungi kedua pihak. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim disebut telah berdiskusi langsung dengan pihak Thailand untuk membahas kemungkinan mediasi kawasan.
Menariknya, Kamboja menyatakan dukungannya terhadap proposal gencatan senjata yang diusulkan Anwar. Namun, Thailand, meski sebelumnya sempat menyetujuinya menarik kembali dukungan itu.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa mereka “pada prinsipnya” setuju dan masih mempertimbangkan proposal tersebut.
Korban Jiwa Berjatuhan
Bentrokan yang terjadi sejak Kamis (24/7/2025) telah menyebabkan setidaknya 13 warga sipil Thailand dan satu tentara tewas. Sebanyak 45 orang lainnya terluka, termasuk perempuan dan anak-anak. Di pihak Kamboja, satu korban jiwa telah dilaporkan.
Nikorndej menegaskan, Thailand sedang mempertahankan wilayahnya. Ia menyebut serangan langsung terhadap militer Thailand menjadi salah satu pemicu eskalasi.
Sebagai respons, pemerintah Thailand segera mendirikan posko evakuasi, mengirimkan tim medis, dan mendistribusikan bantuan kepada warga yang terdampak dan terpaksa mengungsi.
Sementara itu, pihak Kamboja menuding Thailand lah yang pertama kali melepaskan tembakan, klaim yang terus menjadi sumber perdebatan antar kedua negara.
Sengketa Lama
Konflik perbatasan ini bukan hal baru. Pada 1963, Kamboja membawa sengketa wilayah ke Mahkamah Internasional (ICJ), dan pada 2011 kembali mengajukan perkara terkait Kuil Preah Vihear, situs bersejarah yang diakui UNESCO.
ICJ memutuskan mendukung Kamboja dan menyerahkan kendali atas wilayah sekitar kuil pada 2013. Namun, banyak wilayah sengketa lainnya, terutama di kawasan “Segitiga Zamrud” yang melibatkan perbatasan Kamboja, Thailand, dan Laos, belum terselesaikan.
Thailand menolak yurisdiksi Mahkamah Internasional dalam menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh. Akibatnya, ketegangan terus membara hingga meledak menjadi bentrokan terbuka tahun ini.
Konflik perbatasan Thailand-Kamboja kembali menguji ketahanan diplomasi kawasan Asia Tenggara. Meski Thailand menunjukkan keinginan kuat untuk menyelesaikan melalui jalur damai, situasi di lapangan tetap mengkhawatirkan.
Peran ASEAN sebagai mediator regional tampaknya akan semakin penting dalam beberapa hari ke depan, terutama jika kedua negara gagal mencapai titik temu secara bilateral. Bagi warga sipil di perbatasan, waktu terus berjalan dan damai adalah kebutuhan mendesak.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com
Internasional