- Home
- Internasional
- Larangan Dicabut, Pendaki Tanpa Kaki dari China Akan Berupaya Capai Puncak Everest
Internasional
Larangan Dicabut, Pendaki Tanpa Kaki dari China Akan Berupaya Capai Puncak Everest
Sabtu, 07 Apr 2018 09:31
Pria berusia 79 tahun itu mengatakan, larangan yang diberlakukan pemerintah Nepal pada Desember tahun lalu itu adalah bentuk diskriminasi terhadap pencerita cacat.
"Saya panik setelah mendengar berita itu karena itu berarti saya tidak bisa memenuhi impian saya. Saya berpikir, 'Bagaimana saya bisa mendapatkan izin pendakian?'" kata Xia seperti dikutip AFP, Sabtu (7/4/2018).
Untungnya, bulan lalu larangan itu dicabut setelah kelompok advokasi penyandang cacat sukses mengajukan banding ke pengadilan tertinggi Nepal. Kelompok tersebut mengatakan bahwa larangan pemerintah itu berlawanan dengan Konvensi PBB untuk hak penyandang cacat.
Upaya Xia untuk mencapai puncak Everest akan menjadi upaya kelima yang dia lakukan. Dia adalah bagian dari tim nasional Cina pada 1975 ketika kelompok tersebut menghadapi cuaca buruk tepat di bawah puncak. Pendakian tersebut membuat Xia terkena serangan beku sehingga kedua kakinya harus diamputasi.
Pada 1996, kakinya kembali diamputasi tepat di bawah lutut setelah dia didiagnosis dengan limfoma, suatu bentuk kanker darah.
Dia kembali ke Everest pada 2014 tetapi longsoran salju menewaskan 16 pemandu sherpa di awal musim, memaksa sebagian besar ekspedisi untuk membatalkan percobaan mereka mendaki ke puncak. Setahun kemudian dia kembali tetapi musim pendakian kembali terputus ketika gempa bumi dahsyat menyerang Nepal, menewaskan sekitar 9.000 orang - termasuk 22 di Everest.
"Mendaki Gunung Everest adalah impian saya. Saya harus mewujudkannya. Itu juga merepresentasikan tantangan pribadi, tantangan takdir," kata Xia.
Satu-satunya pendaki dengan kaki yang diamputasi ganda yang pernah sampai ke puncak Everest adalah pendaki Selandia Baru Mark Inglis. Dia berhasil melakukan pendakian tersebut pada 2006.
Ratusan pendaki berbondong-bondong ke Everest setiap tahun selama musim pendakian singkat yang dimulai pada April, ketika angin dan suhu lebih baik dibandingkan pada waktu lain tahun ini. Tahun lalu, 634 orang berhasil mencapai puncak dan tujuh orang tewas saat mencoba melakukannya.
Pihak berwenang Nepal dan Cina, yang memantau semua tanjakan di sisi selatan dan utara gunung, belum merilis jumlah izin pendakian yang dikeluarkan untuk tahun ini. Namun, karena musim ini bertepatan dengan peringatan 65 tahun pendakian puncak Everest pertama yang dilakukan oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay sehingga diperkirakan akan banyak pendaki yang akan mencoba.
(okezone.com)
Internasional
Ditangkap KPK, Bupati Langkat Diduga Terima Suap Proyek
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Langkat, Syah Afadin dalam rangkaian Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Sumatera Utara, Kamis (2/7/2026).Syah Afadin diamankan bersama enam orang lainn
Kepala Daerah Diminta Jaga Integritas Hadapi Beragam Tantangan
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto mengingatkan kepala daerah untuk menjaga integritas dalam menjalankan pemerintahan. Kepemimpinan yang bersih menjadi fondasi utama untuk mew
Ribuan Personel Polda Riau Naik Pangkat, Kapolda Ingatkan Tanggung Jawab Pengabdian
PEKANBARU - Suasana penuh rasa syukur mewarnai Lapangan Upacara Polda Riau, Jumat (3/7/2026). Sebanyak 1.126 personel kepolisian dan 26 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Polda Riau resmi meneri
Said Iqbal Minta Klaim JHT Bebas Pungutan Pajak
Penasihat Khusus Presiden dalam bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal mengusulkan adanya perluasan insentif pajak untuk klaim Jaminan Hari Tua (JHT) dari BPJS Ketenagakerjaan. Saa
Pura-pura Menginap di Rumah Kerabat, Pria di Bungur Ditangkap Usai Diduga Lakukan Pencabulan terhadap IRT
SELATPANJANG â€" Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kepulauan Meranti bergerak cepat mengungkap kasus dugaan tindak pidana kekerasan seksual yang terjadi di Desa Bungur, Kecamatan Rangsang Pe